Johnphela’s Weblog











Nona Majikanku, Neng Shinta

mboh
Sebut saja namaku Hasan. Usiaku saat ini 57 tahun,pekerjaanku adalah sebagai penjaga merangkap pembantu rumah tangga pada sebuah keluarga mantan pejabat sebut saja namanya Pak Broto. Aku adalah mantan tentara dengan pangkat rendahan. Aku ikut keluarga Pak Broto sudah 30tahun. Saat itu Pak Broto masih menjadi seorang pegawai
rendah di sebuah instansi pemerintah. Namun karena kepandaiannya, karir Pak Broto terus menanjak. Aku mengabdi pada keluarga ini telah cukup lama hingga keluarga ini berhasil menjadi keluarga terpandang dan terhormat di masyarakat. Pak Broto memiliki 2 orang putri yang cantik-cantik dan masing-masing telah berkeluarga, namanya Shinta dan Siska. Di usianya yang telah pensiun ini, Pak Broto
menikmati sisa usianya dengan melakukan usaha perkebunan yang dimilikinya di sebuah daerah di Jawa Tengah. Pak Broto menghabiskan waktunya dengan kegiatan bisnis
perkebunan teh di daerah Tawangmangu di dekat Solo sana. Dengan kegiatan barunya ini Pak Broto lebih banyak menghabiskan waktunya bersama istrinya di perkebunan miliknya. Mereka memiliki sebuah kebun The yang cukup luas di sana. Dan di perkebunan mereka itu juga berdiri sebuah villa yang cukup megah. Aku sering diajak beliau kesana dahulu saat beliau masih aktif di pemerintahan.

Sejak Pak Broto pensiun, jarang sekali beliau tinggal di Jakarta. Beliau hanya sesekali datang ke Jakarta ini untuk meninjau rumahnya yang aku jaga, juga melihat cucunya dari putri pertamanya Siska. Siska tinggal dengan suaminya di daerah Kemang, sedangkan putri keduanya, Shinta menempati rumah yang aku tinggali ini bersama suaminya, Andri. Shinta belum memiliki anak, karena mereka menikah baru 6 bulan yang lalu. Neng Shinta dan suaminya Andri sama-sama bekerja di perusahaan swasta yang berlainan, jadi
pasangan suami-istri ini selalu berangkat pagi dan pulang malam harinya bersama sama, sehingga rumah megah yang mereka tempati praktis dipercayakan padaku selama mereka
bekerja di siang hari dan berada di bawah pengawasanku selama malam hari. Tugasku selain membersihkan rumah adalah menjaga keamanan rumah beserta isinya. Aku telah dipercaya Pak Broto untuk menjaga rumahnya ini berikut kedua putri dan menantunya itu. Jadi secara otomatis aku pun harus menjaga majikanku Shinta yang memang menetap sama denganku. Shinta usianya baru 23tahun. Dahulu aku sempat melihat mereka berdua lahir, jadi kedua putri mereka sudah tidak asing lagi bagiku, dan mereka pun berdua telah menganggap aku dan istriku sebagai bagian dari keluarga ini.

Dulu aku memang tinggal berdua dengan istriku di rumah ini. Namun sejak istriku ikut dengan anakku satu-satunya yang menjadi polisi dan berdinas di daerah Riau praktis hanya aku yang ikut dengan Neng Shinta. Anakku waktu sekolah dibantu oleh Pak Broto, sehingga aku sangat berhutang budi pada beliau. Anakku kebetulan telah menikah dan tugas di Riau. Aku memang sempat diajak ke Riau, namun karena aku merasa berhutang budi dan diberi tanggung jawab dan telah diamanahi Pak Broto, ajakan itu aku lewatkan saja sebab sangat sulit mencari orang yang sebaik dan sebijaksana Pak Broto. Selama itu
pun aku tinggal di rumah Pak Broto bersama Shinta dan suaminya. Semua pekerjaan rumah selalu aku selesaikan dengan baik dan lancar. Hampir semua waktuku aku habiskan untuk merawat rumah dan mobil majikanku ini. Neng Shinta pun sering memberiku uang lebih karena aku memang nggak neko-neko. Shinta adalah potret wanita masa kini yang cukup cantik dan memiliki kulit yang putih bersih. Ia juga mempunyai rambut sebahu dan menurut pendapatku wajah Shinta tidak beda jauh dari artis-artis
sinetron yang sering aku lihat di televisi. Kalau tidak terlalu berlebihan, profil Neng Shinta agak-agak mirip dengan artis yang sering muncul di TV saat ramai-ramainya kampanye Pilpres kemarin yang mengiklankan mantan menteri yang desersi. Walaupun iklan itu bagiku kayaknya cukup kampungan dan menurut kesanku begitu bodoh, namun aku tak peduli.. Bagiku yang penting artis itu sangat seksi. Persis sekali dengan Neng Shinta, apalagi kalau Neng Shinta juga pakai kacamata hitam itu. Memang wajah Neng Shinta sangat cantik dan penampilannya begitu oke! Aku maklum saja, sebab bagi mereka yang memiliki uang lebih dan kehidupan yang mapan, untuk perawatan kecantikan dan penampilan amat mudah. Beda jauh dari aku yang hanya Cuma seorang pembantunya.

Sebagai pembantu merangkap penjaga rumah, setiap malam aku wajib memeriksa seluruh keadaan rumah! Aku harus memastikan pintu dan jendela terkunci dengan aman dan kondisi keamanan rumah harus aman dan terkendali. Soalnya jaman sekarang lagi banyak teroris. Salah-salah nanti rumah majikanku bisa dijadikan sasaran pemboman!
Kan bisa gawat.. Bisa-bisa aku kehilangan pekerjaan! Saat memeriksa kondisi rumah kadang-kadang aku melewati kamar majikanku Shinta dan suaminya. Sering aku mendengar dengus nafas dan rintihan kenikmatan yang keluar dari mulut pasangan suami istri itu. Sebagai laki-laki aku tentu saja penasaran ingin mengintip dan mengetahui apa yang terjadi dengan pasangan itu. Untuk itu aku berniat untuk membuat celah di antara lipatan horden yang menutupi jendela kamar mereka yang sangat lebar seukuran 2 meter kali 4 meteran itu. Bagiku tidak terlalu sulit untuk membuat celah di antara lipatan kain horden itu. Karena akulah yang selalu menutup horden itu sebelum Neng Shinta dan suaminya pulang.

Siang itu aku mengakali jendela kamar Neng Shinta agar aku dapat melihat dan memperhatikan tingkah laku kedua pasangan yang berlainan jenis itu saat mereka bersenggama. Aku sangat penasaran ingin melihat mereka bercinta, karena suara yang terdengar dari luar kamar sangat menggairahkan bagi telinga tuaku. Suara rintihan Neng Shinta sangat keras terdengar seperti suara kucing betina yang sedang dientot jantannya!

Malam itu seperti saat yang kuperkirakan mereka mulai melakukan aktivitas seksual, aku segera keluar dari kamarku yang terletak di pojok belakang. Dengan langkah pelan kudekati kamar mereka dan mengambil posisi dekat jendela dimana sengaja kubuat celah pada kain hordennya. Keadaan di luar kamar yang gelap sangat membantuku dalam menuntaskan tugas pengintaianku. Kudekatkan wajahku ke kaca dan melihat ke dalam kamar yang terang dari celah yang kubuat. Benar saja pemandangan yang kulihat sangat
mendebarkan darah tuaku. Sebagai pasangan muda tentu masa masa saat itu adalah masa yang penuh dengan madu kenikmatan duniawi.

Apa yang kulihat benar-benar membuat jantungku berdebar dan gairahku meningkat. Aku melihat kedua tubuh telanjang anak majikanku dan menantunya sedang bergumul
di atas kasur yang empuk. Tubuh putih mulus Neng Shinta saat itu sedang menggelepar-gelepar saat lidah suaminya, Andri menyusuri setiap jengkal kulitnya. Sungguh pemandangan yang kontras! Seluruh tubuh Neng Shinta yang putih mulus tanpa cacat sangat kontras dengan warna hitam rambut yang memenuhi gundukan selangkangannya yang lebat! Ya.. Hanya daerah itulah yang tampak hitam di tubuh Neng Shinta! Aku sangat jelas dapat melihat betapa selangkangan Neng Shinta sangat tembam dan munjung ke atas seperti setangkup bakpao namun warnanya hitam karena ditumbuhi rambut kemaluan yang lebat! Itulah mungkin bedanya dengan bakpao! Kalau bakpao warnanya putih.. Tapi selangkangan Neng Shinta penuh ditutupi rambut berwarna hitam! Namun keduanya sama-sama enak dinikmati! Yang satu bikin merem melek kekenyangan yang satunya lagi bikin merem melek karena ketagihan!

Tak lama kemudian aku melihat kedua tubuh manusia yang telanjang itu saling berdempetan menyatu. Tubuh putih mulus Neng Shinta saat itu berada di bawah
Tubuh suaminya yang juga tampan itu. Suaminya saat itu sedang melakukan gerakan maju mundur dan Neng Shinta tampaknya dalam keadaan kepayahan menahan bobot
suaminya dan gairah nafsunya. Kedua kaki majikanku yang panjang dan putih itu berada di atas bahu suaminya. Sedang tangan suaminya saat menggenjot tubuh Shinta masih
berada di dada putih itu dan meremasnya dengan kasar. Kulihat pantat Neng Shinta bergoyang dan berputar setiap kali pantat suaminya menghunjam selangkangannya. Kedua tubuh telanjang itu saling berkutat satu sama lain.Tiba-tiba posisi menjadi terbalik. Kini tubuh Neng Shinta yang telanjang sudah berada di atas tubuh suaminya. Ia bergerak liar seperti seorang joki wanita yang sedang memacu kuda! Kedua bukit payudara itu berguncang-guncang seiring dengan gerakannya. Dengan kedua tangan bertumpu di atas dada suaminya, Neng Shinta menggerakkan pantatnya yang bulat dan mulus maju mundur. Rambutnya sudah acak-acakan karena gerakannya yang liar. Lalu kulihat tubuh telanjang Neng Shinta terhentak-hentak dan gerakannya semakin liar dan beberapa saat kemudian tubuhnya ambruk di atas dada suaminya.Rupanya suaminya belum orgasme! Hal ini kuketahui karena setelah menggulingkan tubuh telanjang Neng Shinta, Mas Andri suaminya segera bangun dan menyeret tubuh telanjang istrinya hingga menungging di sisi tempat tidurnya. Kedua kaki Neng Shinta menjuntai ke lantai. Pantatnya yang indah semakin kelihatan jelas dari tempatku mengintip, karena posisinya membelakangiku. Aku melihat betapa gundukan bukit kemaluan Neng Shinta begitu indah saat menungging dalam posisi itu! Mas Andri segera menempatkan diri di belakang pantat Neng Shinta dan kembali mengayunkan pantatnya maju-mundur. Pandanganku kini tertutup tubuh Mas Andri.Entah berapa lama aku tak tahu. Yang jelas saat itu kulihat Mas Andri semakin cepat mengayunkan pantatnya menghunjamkan ke arah pantat Neng Shinta. Tubuh Mas Andri meliuk-liuk dan akhirnya ambruk dan menindih tubuh Neng Shinta dengan ketat. Baru kali ini aku memperhatikan kehalusan dan mulusnya tubuh majikan putriku ini. Selama aku kerja pada orang tuanya aku tidak memperhatikan perkembangan tubuh majikan putriku itu.

Aku sempat menahan nafas saat tubuh keduanya menyatu pada bagian bawahnya juga diikuti oleh bagian atasnya. Sebagai laki-laki yang normal aku merasa terpancing birahiku saat itu. Namun apalah dayaku yang hanya seorang pembantu di keluarga ini. Aku yang sudah sangat terangsang segera meremas batang kemaluanku sendiri dan melakukan onani sambil mengintip. Setelah aku orgasme aku segera menuju kamarku sendiri dan terus tidur.

Esok paginya saat aku bangun dan beres-beres aku melihat majikan putri keluar dari kamarnya dengan wajah yang sedikit kusut dan tampak agak layu. Aku biarkan saja kejadian itu. Mungkin dia ada masalah dengan suaminya atau apalah aku tak mau tanya pada nya. Seperti biasanyapun pagi itu aku menghidangkan makanan kesukaan majikanku itu dimeja makan. Tidak lama kemudian mereka keluar kamar beiringan untuk sarapan pagi sebelum berangkat ke kantor. Tiba-tiba saat mereka sarapan itu aku dipanggil. Suaminya bilang padaku bahwa ia akan tugas keluar kota mungkin selama 2 minggu karena ada masalah di kantornya. Suaminya titip padaku untuk menjaga rumah
dan istrinya padaku. Dengan patuh aku sanggupi permintaan suaminya itu. Dan sejak saat itu pun aku semakin bertambah tugas dengan memastikan keadaan majikan putri itu.

Beberapa hari ini aku jadi kehilangan kesempatan untuk melihat aktifitas kamar majikan putri itu. Aku jadi susah tidur, padahal aku setiap hari sebelumnya selalu melihat aktifitas di kamar itu dan sempat bermasturbasi barulah aku tertidur. Memang aku akui di usiaku yang tidak muda lagi ini libidoku sering timbul. Namun kepada siapa aku akan menyalurkannya, sedang istriku di Sumatera bersama anakku. Untuk memenuhi hasrat libidoku, pada malam yang dingin itu aku mengintip majikanku itu di kamarnya. Rupanya ia masih belum tidur dan hanya berbaring di ranjang. Tampaknya ia sedang merindukan belaian dari suaminya. Namun karena suaminya sedang tidak tidak ada ia menjadi kelihatan gelisah di tempat tidurnya. Aku memperhatikan Neng Shinta selalu menggeser geserkan guling di ranjangnya yang luas itu ke arah kemaluannya. Aku tahu saat itu Neng Shinta ingin kehangatan. Apalagi hawa dingin AC di kamarnya membuatnya tampak kehausan. Tak lama kemudian kulihat tangan Neng Shinta mulai meraba-raba bagian selangkangannya dari luar gaun tidurnya yang sudah mulai awut-awutan dan menyingkapkan pahanya yang mulus. Aku jadi terangsang dan ingin melihat terus apa yang hendak dilakukannya.

Saat sedang asyik-asyiknya memperhatikan tingkah laku anak perempuan majikanku itu aku dikejutkan oleh suara benda terjatuh dan ada bunyi ‘krasak-kresek’. Aku yang saat itu berada dalam kegelapan dapat dengan leluasa mengintai ke arah datangnya suara itu. Ohh….Alangkah kagetnya aku. Aku melihat ada 3 orang yang mengendap-endap akan masuk ke rumah ini. Mereka telah melompati pintu pagar dan sedang berjalan ke arah rumah. Sebagai seorang bekas tentara yang telah banyak pengalaman di medan perang, aku lalu menuju arah suara itu dan dengan samuraiku aku bacok si penjahat itu tanpa tanya lagi. Mereka meringis kesakitan dan minta ampun padaku. Mereka akhirnya lari dan berusaha menghindar dari kejaran masyarakat yang tahu akan tindakan mereka. Malam itu akhirnya rumah majikanku ini selamat dari upaya pencurian dan perampokan. Majikanku Shinta akhirnya terbangun dan keluar rumah menemuiku. Aku pun menerangkan kejadian yang sesungguhnya dengan lengkap. Ia pun akhirnya berterima kasih dan minta aku untuk menyelesaikan masalah itu dengan aparat terkait malam itu. Setelah memberikan laporan secukupnya, malam itu pun aku pulang ke rumah dan disambut majikanku Neng Shinta, yang saat itu mengenakan baju kimono tidur. Ia amat mengkhawatirkan keadaanku malam itu. Iapun telah sempat menelepon suami dan kedua orang tuanya. Dan akupun lalu ditelepon suami dan kedua orangtua Shinta agar bias menjaga Shinta dengan hati hati. Sempat aku lihat wajah kecemasan di rona muka Shinta malam itu. Wajahnya yang putih bersih itu terlihat takjub dan khawatir, namun dengan lambat aku terangkan kepadanya supaya jangan cemas seperti itu.

Malam itu pun lalu kami tidak tidur dan hanya berbicara saja di ruang tamu rumah besar itu. Neng Shinta kelihatan masih shock atas kejadian itu dan akupun tidak sampai hati meninggalkannya sendirian di ruang tamu malam itu. Aku menemaninya dan sesekali mataku yang nakal mencuri-curi pandang ke arah sekujur tubuhnya yang terbalut kimono tidur saat itu. Mata nakalku sempat memperhatikan gundukan bukit dadanya yang sekal dan berukuran 34B hingga amat menggodaku. Aku tahu nomor itu karena saat mencuci dan menjemur aku sempat melihatnya dengan seksama jenis dan wangi celana dalam Neng Shinta.

“Neng.. Sudah malam tidur aja dulu.. Biar Mamang jaga di sini” kuanjurkan Neng Shinta agar segera tidur karena waktu sudah hampir pukul 2 pagi.
“Ahh.. Enggak Mang.. Shinta masih takut dengan kejadian tadi! Mamang mau kan jagain Shinta di kamar” pinta Neng Shinta dengan wajah yang masih nampak pucat.
“Wahh.. Mamang enggak berani lancang neng..” aku terkejut dan spontan menolak karena enggak enak harus masuk kamar majikanku ini.
“Enggak apa-apa kok Mang.. Soalnya aku takut sendirian..” katanya memelas.

Aku jadi tidak tega melihatnya. Entah kenapa malam itupun aku diajaknya ke kamarnya untuk sekedar berbincang bincang. Katanya ia masih takut dan trauma. Jika saja ada suaminya ia mungkin tidak akan mengizinkan aku ke kamarnya. Namun hal tabu yang slalu aku jaga slama ini malam itu luntur. Aku masuk ke kamarnya yang dingin dan harum semerbak itu sekedar hanya untuk menemani anak majikanku itu. Sebagai laki-laki aku telah memasuki wilayah pribadi putri majikanku itu.

Dengan sedikit berdebar aku mengikuti Neng Shinta masuk ke kamarnya dan duduk di kursi yang ada di kamar Neng Shinta. Niat isengku mulai timbul saat kulirik tubuh Neng Shinta yang sintal terbaring indah di tempat tidurnya. Dengan sedikit kurang ajar aku mulai berusaha mempengaruhi jiwa dan mental putri majikanku itu dengan cerita cerita seram tentang perampokan dan horor. Sebagai wanita yang hanya seorang diri malam itu
tentunya ia merasa takut dan amat membutuhkan bantuanku. Neng Shinta tidak jadi tidur dan semakin merasa ketakutan. Ia memintaku menemaninya duduk di atas tempat tidurnya. Inilah saatnya insting kelelakianku bermain. Dengan tambahan cerita seram akhirnya dengan tanpa paksaan Neng Shinta aku raih dan kupeluk malam itu di kamarnya. Ia yang menganggapku sebagai orangtuanya hanya mandah saja saat tubuhnya kudekap di atas tempat tidurnya. Aku yang sudah banyak makan asam-garam sebagai laki-laki tidak terlalu sulit untuk menundukkannya. Dengan terus menceritakan hal-hal seram, tanganku mulai mengelus lengan Neng Shinta. Aku tahu Neng Shinta sudah mulai tunduk dan takluk padaku. Hal ini kuketahui dari berdirinya bulu-bulu lembut di lengannya saat kuraba. Nafas Neng Shinta pun mulai memburu.

Aku mulai memberanikan diri mencium leher bagian belakang telinga Neng Shinta. Tubuhnya mulai sedikit bergetar atas ciuman dan rangsangan di wilayah peka tubuhnya yang mulus itu. Aku tahu saat itu Neng Shinta sedang membutuhkan belaian laki laki. Namun Neng Shinta memang wanita dan seorang istri yang baik. Ia tidak begitu saja larut akan alunan gairah yang aku pancarkan saat itu. Ia berusaha menolakku dan melepaskan pelukanku. Namun malam itu apalah daya seorang wanita seperti Neng Shinta dibandingkan aku yang bekas prajurit dan memiliki pengalaman yang lumayan di saat perang. Aku tak mau mangsa yang sudah di depan mata terlepas begitu saja. Aku harus menuntaskannya. Karena kalau tidak maka habislah riwayatku. Aku harus mampu menundukannya. Neng Shinta yang menggeliat berusaha melepaskan pelukanku, semakin kupeluk erat. Tanganku semakin berani mengelusnya. Kali ini tanganku mengelus perutnya tepat di atas selangkangannya. Mulutku yang sedang menciumi bagian belakang telinganya semakin liar bergerak turun ke lehernya. Bulu kuduknya telah berdiri semua. Tubuhnya semakin menggelinjang dalam pelukanku. Lalu dengan sedikit paksaan, kurebahkan tubuh Neng Shinta dan mulai kutindih dan kucumbu.

Tubuhku yang menindih tubuh Neng Shinta segera menekan bagian selangkangannya. Kedua kakinya kupentangkan lebar-lebar sehingga aku semakin leluasa menempatkan tubuhku di antara kedua pahanya. Batang kemaluanku yang sudah mulai mengeras menempel ketat ke selangkangan Neng Shinta yang hangat itu. Aku yang sudah sangat lama tidak melakukan hubungan badan semakin tak terkendali. Mulutku dengan rakus segera menyerbu gundukan bukit payudara Neng Shinta dari luar kimono tidurnya. Putting payudaranya yang mulai mengeras di balik beha-nya segera saja menjadi santapan mulutku yang rakus.

“Ohh.. Mmaangg.. Jangg.. Annhh” Neng Shinta merintih memohon agar aku menghentikan gerakanku. Namun aku yang sudah kesetanan tak mau berhenti begitu saja. Tanganku yang liar segera bergerak ke bawah dan menyingkap kimononya dan mengusap-usap pahanya bagian dalam yang sangat mulus. Tanganku terus merayap ke atas dan akhirnya mulai mengelus-elus gundukan di balik celana dalam Neng Shinta yang sudah mulai basah. Aku tahu Neng Shinta sudah mulai terangsang. Walaupun mulutnya bilang jangan, namun aku tahu ia tak mungkin dapat menghentikanku. Tanganku segera menyusup ke balik celana dalamnya yang tipis dan mulai meraba rambut di selangkangan Neng Shinta. Tanganku segera menyentuh cairan lendir hangat yang mulai membasahi selangkangannya. Aku yang sudah sangat berpengalaman dalam hal ini segera saja mencari-cari tonjolan di sela-sela lubang kemaluan Neng Shinta. Karena disitulah titik kelemahan wanita. Jari tanganku segera mempermainkan tonjolan daging kecil di celah lubang kemaluan Neng Shinta yang sudah sangat licin dan basah. Mulut Neng Shinta tidak lagi menolakku. Tubuh Neng Shinta semakin bergetar saat jariku yang lincah bergerak memutar-mutar di atas tonjolan daging di sela-sela lubang kemaluannya. Napas Neng Shinta semakin megap-megap. Pantatnya mulai terangkat sehingga bukit kemaluannya semakin ketat menempel batang kemaluanku yang semakin mengeras. Tak berapa lama kemudian Neng Shinta merintih panjang. Tubuhnya berkelojotan di bawah tindihanku. Aku tahu Neng Shinta sudah orgasme atas permainan jari-jariku yang sudah berpengalaman. Namun aku terus saja meneruskan permainan ini. Tanganku tetap meremas dan meraba bukit kemaluannya selama beberapa saat.

Kemudian tanpa perlawanan berarti dari Neng Shinta aku berhasil membuka seluruh kain penutup tubuhnya hingga Neng Shinta telanjang bulat dalam pelukanku. Pemandangan yang sangat indah segera terpampang di depan mataku. Tubuh Neng Shinta yang sangat mulus benar-benar membuat jakunku naik turun. Kedua belah payudaranya yang putih
sangat mengkal dihiasi dua puting yang masih berwarna kemerahan sangat menggairahkan. Perutnya tampak masih sangat rata karena memang belum pernah melahirkan, jadi belum ada guratan sama sekali. Pinggulnya yang lebar sangat serasi dengan pinggangnya yang ramping. Dan yang paling membuat mataku terbelalak adalah
guratan kecil berwarna merah yang melintang di tengah-tengah gundukan bukit membusung di kemaluannya yang lebat ditumbuhi rambut. Lalu tanpa membuang waktu aku segera melepas kaus bututku dan memerosotkan celana kolorku hingga aku pun telanjang bulat. Aku segera menindihnya dan menggangkankan kedua kakinya lebar-lebar. Batang kemaluanku yang sudah mengeras menempel ketat di
selangkangan Neng Shinta yang hangat. Mulutku segera menyergap kedua bukit payudaranya yang indah itu dengan rakus. Kali ini tanpa dihalangi kain beha dan kimono
lagi. Lidahku segera menjilat kedua bukit payudara Neng Shinta yang putih kenyal itu bergantian. Bibirku mengulum puting payudaranya yang mencuat. Hal ini membuat mulut Neng Shinta mendesis-desis seperti orang kepedasan. Tubuhnya mulai menggelinjang hingga aku merasa betapa batang kemaluanku yang menempel ketat di selangkangannya mulai tergesek-gesek daging hangat dan licin karena sudah sangat basah.

“Amm.. punhh Maangg.. jaangg.. aannhh.. Maangg.. ouchh..” desis Neng Shinta antara menolak dan pasrah. Aku tak peduli. Dalam benakku hanya ada tekad untuk menuntaskan hasratku. Aku tak peduli apapun juga. Biarlah urusan dipikir belakangan! Yang penting tembak duluan! Ayo blehh sikaatt! Demikian setan telah menari-nari membujukku untuk menuntaskan napsuku. Mulutku yang rakus terus menyusuri seluruh permukaan tubuh Neng Shinta. Dari kedua putting payudaranya yang semakin keras, mulutku bergeser ke samping ke arah ketiak Neng Shinta yang bersih tanpa ditumbuhi rambut satu helai pun! Rupanya ia rajin mencabuti bulu ketiaknya hingga tampak bersih. Lidahku segera menjilat-jilat ketiaknya dengan gemas. Tubuh Neng Shinta semakin menggerinjal. Desisan tak henti-hentinya keluar dari bibirnya.

Dari ketiak, mulutku terus bergeser turun menyusuri tulang rusuk Neng Shinta hingga ke
pinggangnya yang putih bersih. Lidahku terusmenyapu-nyapu seluruh permukaan pinggangnya dengan diselingi sesekali menyedotnya kuat-kuat hingga tubuh Neng Shinta
terhenyak. Aku semakin gemas menyedot-nyedot saat mulutku sampai ke bagian bawah perut Neng Shinta yang rata. Rambut-rambut halus nampak menumbuhi perut bagian bawah Neng Shinta yang semakin ke bawah semakin melebat. Lidahku menyapu-nyapu bagian perut di antara selangkangannya dengan pangkal pahanya. Tercium aroma khas perempuan! Sungguh sangat merangsang. Rupanya Neng Shinta sangat menjaga kebersihan kawasan pribadinya ini.

Lidahku terus bergerak menyapu seluruh permukaan kulit Neng Shinta. Dan begitu sampai ke gundukan bukit kemaluannya yang membusung, lidahku segera menyeruak
masuk ke dalam celah sempit yang tadi kulihat berwarna merah jingga. Segera lidahku merasakan ada cairan yang terasa sedikit asin namun nikmat! Tanpa rasa jijik segera saja kusedot bibir kemaluan Neng Shinta dengan gemas. Kutelan habis cairan yang keluar
membasahi permukaan liang kemaluan Neng Shinta tanpa rasa jijik. Pantat Neng Shinta terangkat seolah menyambut juluran lidahku hingga wajahku semakin ketat menempel di selangkangannya.

Lidahku menyusup semakin dalam ke lubang kemaluan Neng Shinta yang pantatnya terangkat-angkat seolah menyambut juluran lidahku. Mulut Neng Shinta tak henti-hentinya mendesis-desis dan entah disadari atau tidak, kedua tangan Neng Shinta mulai menjambak-jambak rambutku dan kedua kakinya mengait leherku dan menekankannya ke arah selangkangannya. Pantatnya terus diangkat-angkat seolah-olah memintaku lebih dalam memasukkan lidahku ke dalam lubang kemaluannya. Aku yang memang ingin memberikan sensasi lain kepada majikanku segera bertindak. Kedua ibu jari tanganku mencoba membentangkan bibir kemaluan Neng Shinta agar terbuka lebih lebar dan kugesekkan mulutku dengan liar pada gundukan bukit kemaluan Neng Shinta yang membusung. Reaksinya sungguh luar biasa. Neng Shinta semakin liar menggerak-gerakkan pantatnya dan kakinya semakin ketat menjepit leherku. Erangannya semakin keras dan tubuhnya terhentak-hentak. Tubuhnya terus berkelojotan selama beberapa saat lalu gerakannya semakin melemah dan akhirnya kedua pahanya terkulai lemah menyandar di punggungku. Aku tahu kalau Neng Shinta telah mencapai klimaks yang kedua kalinya di malam menjelang pagi ini.

Aku yang belum mengalami orgasme segera saja menempatkan diriku sejajar dengan tubuh Neng Shinta. Tubuh telanjangku menindih tubuhnya. Kontolku yang ukurannya biasa saja seperti ukuran pria kebanyakan, sudah sangat keras dan siap tempur. Ukurannya sebetulnya biasa saja, tetapi yang membanggakanku adalah bentuknya
yang agak membengkok saat ereksi. Jadi kalau dilihat sepintas mirip-mirip pisang Ambon yang bentuknya agak melengkung. Dengan perlahan kutusukkan ujung kepala kontolku (palkon) ke tengah-tengah gundukan bukit kemaluan Neng Shinta yang munjung itu. Lubang kemaluan Neng Shinta yang sudah sangat licin memudahkan ujung
palkonku tergelincir masuk. Napasku terasa sesak saat kepala kontolku mulai terjepit kehangatan bibir kemaluan Neng Shinta. Sambil menahan napas, kudorong pantatku pelan-pelan hingga sedikit demi sedikit batang kontolku melesak ke dalam lubang kemaluan Neng Shinta. Hangat sekali rasanya. Apalagi lubang kemaluan Neng Shinta sudah basah oleh lendir akibat orgasmenya tadi.

“Shh.. Ohh.. Mm.. Aangghh” mulut Neng Shinta tak henti-hentinya merintih saat batang kontolku menerobos lubang kemaluannya. Aku tahu Neng Shinta mungkin agak menyesal karena telah terjerumus dalam jebakan nafsuku. Neng Shinta hanya pasrah dan dengan terpaksa ia menikmati rahimnya aku tusuk dengan batang kontolku berulang kali. Aku tahu ia amat menyesali atas apa yang terjadi malam itu, terlihat dari air matanya yang keluar saat aku berpesta di atas tubuhnya yang telanjang. Kulihat air mata mulai mengembang di pelupuk matanya. Namun semuanya telah terlambat. Kontolku sudah telanjur memasuki lubang yang seharusnya hanya menjadi hak suaminya. Aku pun tak peduli, bagiku yang terpenting adalah melepaskan desakan napsu yang terus mendesak-desak dari dalam tubuhku. Di atas ranjang kamarnya yang mewah itu, aku berhasil membenamkan kemaluanku yang lumayan masih cukup perkasa ke dalam rahimnya yang masih sempit itu.

“Hkkhh..” napasku tertahan saat seluruh kontolku dari ujung hingga pangkal telah terbenam seluruhnya di dalam jepitan lubang kemaluan Neng Shinta. Air mata Neng Shinta sudah mulai jatuh satu persatu. Namun aku tak peduli. Kehangatan yang aku rasakan pada kemaluanku saat masuk kedalam tubuh Neng Shinta amat membuatku lupa diri. Perlahan-lahan kutarik pantatku hingga batang kontolku tertarik keluar dan hanya ujungnya saja yang masih menancap dalam jepitan lubang kemaluan Neng Shinta. Lalu dengan kuat kudorong pantatku yang otomatis batang kontolku melesak dalam-dalam ke dalam lubang kemaluannya.

“Ughh..” tanpa sadar Neng Shinta mendengus saat ujung kepala kontolku seperti menumbuk sesuatu yang empuk dan hangat di dalam sana. Aku terus menarik dan mendorong pantatku di atas tubuh Neng Shinta. Perlahan-lahan kurasakan Neng Shinta mulai ikut mengimbangi gerakanku. Secara perlahan pantatnya bergerak memutar mengikuti irama ayunan pantatku. Batang kontolku serasa diurut dan diremas-remas dalam jepitan lubang kemaluan Neng Shinta yang sempit. Rupanya Neng Shinta sudah mulai terangsang lagi. Rasa sedih yang ditandai dengan melelehnya air matanya seakan-akan sirna dengan goyangannya mengiringi ayunan pantatku. Bibir Neng Shinta kembali mendesis-desis dan mengerang. Aku yang sudah tidak tahan segera menyergap bibirnya
yang setengah terbuka dan menyusupkan lidahku ke dalam mulutnya. Lidahku mengorek-ngorek mulutnya mencari-cari lidahnya. Sungguh sangat segar rasanya bibir
perempuan muda. Aku serasa kembali menjadi muda lagi. Semangat baru seolah terpompa dalam darahku. Aku semakin bersemangat menggenjot pantatku menghunjamkan batang kontolku ke dalam lubang kemaluannya. Gerakan pantat Neng Shinta semakin kencang. Pantatnya bergoyang ke kanan dan ke kiri seirama dengan ayunan pantatku.

“Shh.. Mmaangg.. Hh shh.. Oohh..” antara sadar dan tidak Neng Shinta merintih-rintih menambah gairahku semakin membara. Aku merasa betapa jari-jari Neng Shinta mencengkeram kulit punggungku yang sudah mulai keriput dimakan usia. Agak sakit memang, tetapi apalah artinya bagiku dibanding keberhasilanku menggauli dan menikmati kemolekan tubuh anak majikanku itu. Lidahku yang masuk jauh ke dalam mulut Neng Shinta mulai menemukan perlawanan dari lidah Neng Shinta. Lidahku didorong-dorong oleh lidahnya. Perlahan gairah dalam tubuhku mulai mendesak-desak dan menggelegak. Lalu gerakan ayunan pantatku kuhentikan sesaat untuk mengambil bantal dan mengganjal pantat Neng Shinta agar lebih tinggi. Dengan posisi terganjal bantal, batang kontolku terasa masuk hingga maksimal. Aku juga semakin leluasa menghunjamkan batang kontolku ke dalam lubang kemaluannya. Gerakan pantat Neng Shinta seperti kesetanan. Jeritannya semakin keras dan menggairahkan. Kedua tanganku segera kutempatkan di bawah kedua bongkahan pantat Neng Shinta dan meremas-remasnya sambil terus mengayunkan pantatku naik turun. Aku merasa betapa desakan gejolak meletup-letup dari bagian bawah perutku. Perutku terasa mulai kejang karena menahan desakan yang terus menggelora.

“Ohh.. Shh.. Nenggh.. Ter.. Ruhhsshh oohh…Neengghh!” Tanpa sadar aku menggeram dan merintih meminta Neng Shinta agar terus menggoyangkan pantatnya kencang-kencang. Neng Shinta pun rupanya sudah hamper mencapai orgasmenya. Gerakan pantatnya sudah tidak terkendali. Cengkeraman kuku jarinya semakin kencang di kulit punggungku.

“Aakhh.. Ouchh.. Shh.. Oohh..”Dengan diiringi desisan yang panjang akhirnya tubuh Neng Shinta terhentak. Pantatnya terangkat dan mengejat-ngejat. Dadanya terguncang hebat menandakan ia sudah tidak mampu menahan orgasmenya. Kurasakan betapa
batang kontolku terjepit kencang dan lubang kemaluannya mengedut-ngedut. Tubuh Neng Shinta bergetar hebat dan berkelojotan selama beberapa saat.

“Ter.. Rushh.. Neenghh.. Aarrghh” Akhirnya tubuhku ikut terguncang. Seluruh tubuhku terasa kejang dan mataku mulai nanar. Cratt.. Cratt.. Cratt.. Cratt.. Crrt.. Crrtt..!! Akhirnya tanpa dapat kutahan lagi batang kontolku menyemburkan air maniku yang sangat kental dan banyak sekali ke dalam lubang kemaluan Neng Shinta hingga sebagian tumpah keluar saking banyaknya. Ya aku telah mencapai puncak kenikmatanku setelah sekian lama berpuasa dan hanya onani. Tubuhku berkejat-kejat di atas perut Neng Shinta lalu ambruk menindih tubuh telanjangnya.

Neng Shinta amat sempurna saat ia berada di bawah tubuhku saat aku genjot tadi. Memang benar kata orang orang bahwa seorang wanita baru terlihat cantik dan menawan jika ia telah berada di bawah tubuh laki-laki saat kemaluannya di masuki kemaluan pria. Keringat kami pun akhirnya menyatu dan kain sprei yang kami pakai akhirnya lembab karena basah oleh percampuran keringat dan juga air mata Neng Shinta ditambah lelehan spermaku yang tumpah tadi.

Aku benar-benar merasa puas sekali telah berhasil menikmati kemulusan tubuh majikanku yang cantik ini. Neng Shinta rupanya terlalu capai hingga ia membiarkan saja tubuh telanjangnya kupeluk. Ia telah tertidur karena kecapaian setelah pergumulan tadi.
Comments (0)
Cerita Bersambung 9:54 am

Belum ada judul (Bag 2)

ayoe
Hehehe….lanjutannya ternyata lama bener yah?!!

Ny, gwe terusin dew…

Besoknya ny,….waktu itu yaaa…ga masup kerja lagi gwe! Pusink gwe. Iseng gwe sms in lily. ngasi tw klo gwe ga masup kerja hari itu gara dia (becandaan aja maksud gwe). waah…bulu? tangan gwe langsung merinding baca jawaban dia. Dia nggak masup kerja men!! N’ dia bilang kebetulan benget, jadi dia nyuruh gwe kerumah. Waw!! Hahaha…lucunya, gwe pura? males gitu dew. Padahal dalam hati sorak? ampe mual! heeehe…N’ ternyata kepura?an gwe malah bikin dia ga karuan. Kena dew, pikirku!

Ya ude dew, gwe yg gi ngerasa diatas angin lalu minta ini itu dew. Maksudnya bukan ini itu yang ‘itu’! Tpi ya, minta bikinin ini itu dew…ya nasi goreng…hehehe…terang aja dia mau. Horny bgt sy…gila dew gwe…

Ga nyampe 15menit abis mandi gwe ude nyampe rumah lily. Ngebut gwe! Hahaha!! Hari itu dia cuman make daster. Wew! sengaja banget pikirku, biar gampang kali yah nyopotnya. Gwe mah langsung nyalain tipi. Rumah lily mang kosong kalo siang gini. Semuanya ude pada kerja sy…sama dew ma rumah gwe. Sementara gwe nonton tipi, lily keliat sibuk di dapur. Wew, nasi goreng gwe kayaknya gi dalam proses dew. Ga lama gwe samperin lily ke dapur. Pas gi di depan penggorengan gwe peluk n cium lily dari belakang. Lily diem aja malah merem? hehee…Woy! diliat tuh kalo angus! Gwe malah kena kena pukul soket! waw panas meenn! hahahaa…

Pas dia gi sibuk ngaduk? nasi di penggorengan lagi gwe peluk lagi, tapi kali ini tangan gwe mulai gerayangin tubuh lily kemana-mana. Waw, kayak di bokep hehehe.

“Aduh tom! ntar aja dunk! Gwe gi sibuk ny….”
“jah, lily…orang dikit aja jg pegangnya…” tangan gwe mulai nggosok? di pangkal paha lily. Lily menggeliat? kegelian.
“Tom! Gwe pukul lagi nee…!!”
Gwe ngabur!

Singkat kata singkat celana, abis makan nasi goreng ala lily (yang ternyata eunak!) gwe diajakin lily ke kamar…hhhh…gile bener ny anak pikir gwe. Ampe di kamar trus langsung tiduran. Gwe langsung ajakin dia ngobrol sambil ngelus? hehehe…gwe suka pas lily ngomong, makin lama makin gemetar suara lily-nya. Apalagi pas tangan gwe ude mulai masuk ke celana dalam lily. Basah seperti kemaren juga. yah karena gwe mang juga gi pengen ude empet. Gwe langsung dew lepasin semua yg melekat di badan lily, kini dia polos men. sementara itu gwe juga lepasin semua pakaian gwe ndiri. Lily keliat mandangin gwe sambil seskali ngelirik malu? ke arah kemaluan gwe.
Gwe tarik tangan lily n’ gwe minta lily pegang kemaluan gwe. Wajah malunya semakin nampak kayaknya…malu tapi mau hahahha… Pertama lily emang segan saat gwe minta dia masukin kemaluan gwe ke mulutnya. Tpi liat dew….ternyata dia tetep aja ngelakuin. Wew lugu banget! Dia kerjain apa? yang gwe perintahin hingga dia mulai terlihat biasa. Terus gwe minta dia ambil posisi 69. Wadooh! gwe demen banget nikmatin mem*k lily dew! Ya teranglaa, bentuknya masih bagus banget! Pinky abis gitu lohhgjfkghdkggfhhh!! hahahaha.

Yah, lumayan lamalah…si 69 beraksi, gwe balik badan n’ we make kissing. Kemaluan gwe terus aja menggesek daerah paha dan pangkal paha lily. Nafas lily waktu itu ude ga beraturan lagi. Bisikan? lirih lily juga ude terus kedengaran. Sesekali gwe arahin kepala kemaluan gwe kelubang lily trus pelan? gwe tekan. Wew! ga bisa masuk! licin mem*k lily bikin kemaluan gwe meleset kesana kemari…lagian emang agak suse sambil berposisi pelukan kayak gini.
Kali ini gwe bimbing make tangan gwe. Gwe gesek? kemaluan gwe ke mem*k lily trus gwe tekan di lubang mem*k lily pelan?. Kalo liat muka lily kayak kesakit, gwe gesek?in lagi. Hhhh…capek juga. Sementara ‘adek’ gwe ude cenut?. Terakhir akhirnya gwe paksain aja, tpi tetep dengan cara pelan? tpi pasti. Wajah lily keliat seperti menahan sesuatu. Biar dew pikirku…..

Blep! Pala kemaluan gwe masuk jg akhirnya. Yah, diiringin dengan teriakan tertahan lily tentunya. Trus gwe cabut lagi. Gwe gesek? lagi….wew…sabar banget! hehehe…. ya gitu terus dew sampai masuknya makin dalam aja…mulai dew gwe lepas tangan gwe. Kemaluan gwe ude bisa keluar masuk dengan rutin walau cuman setengahnya aja. Wadooohh! punya gwe kayak diurut? rasanya. Lobangnya lily masih sempit banget sy. Saat lily sudah terlihat biasa dengan keluar masuknya kemaluan gwe, Gwe mulai masukin makin lama makin lebih dalam lagi. tangan lily merangkul erat banget di punggung gwe saat kemaluan gwe masuk seluruhnya ampe mentok gwe rasa kedalam lubang kemaluan lily. Dan gwe mulai aktif keluar masukin
punya gwe. Ampe gwe ngerasa kalo cairan mem*k lily seperti membanjiri lubang lily n’ mulai terasa hangat di kemaluan gwe. Hangat?! Gwe tengok kebawah…darah ude melumuri kemaluan gwe ternyata! Lalu gwe bisikin ditelinga lily…

” Lo berdarah ly…”
” Hah?!” dia kaget.
Lom sempet ngeluarin kata? lagi langsung gwe lumat bibir lily n’ langsung gwe aktif in kemaluan gwe di mem*k lily….rasa kaget lily langsung berubah jadi rasa yang entah dia rasain gimana…yg pasti lily ude mulai merintih? lagi. Sementara diantara basah yang gimana juga, kemaluan lily masih aja terasa memegang erat kemaluan gwe saat gwe keluar masukin kemaluan gwe. Enaknya emang ga bisa diucapin dengan kata? dew pokoknya!! Kemudian semakin lama keluar masuknya kemaluan gwe semakin menggila! Badan lily sampe tersentak?…ampe akhirnya, gwe ga tahan lagi dew…..Agghhh…gwe ampe puncak! Cepet? gwe cabut kemaluan gwe n’ ngeluarin sperma gwe di perut lily! Lily sendiri terlihat terengah-engah. Gwe langsung ambruk disamping lily. Aduuhh…puas banget gwe rasanya!!

“Bersihin tuh ‘aer’ gwe diperut” bisik gwe ke lily.
“Capek Tau!”
Hehehe….
“Masih sakit ly?” dia menggeleng. Dalam hati gwe ngomong, ntar rasain aja kalo pas pipis lo…

Setelah lumayan lama gwe ama lily rebahan, kami pun beringsut ke kamar mandi sambil sama? telanjang hehehe…
Nah, pas pipis bener juga, lily keliat mukanya menahan perih. Pas gwe liati mukanya,
” Perih tom…”
Gwe senyum aja sambil terus nyuci punya gwe.” Ntar juga ilang…”, gwe bilang.
Setelah itu gwe ama lily nyantai aja sambil nonton tipi. Paling make kising aja.
Ntahlah…ada suatu saat lily diem. Mikirin semua yg terjadi. Yah, antara nyesal n’ tidak dew pokoknya. Gwe jg gitu…gwe keinget pacar gwe. Cewek yg ude empat taon ini bersama gwe. Cewek paling kokoh yg sanggup ngadepin gwe…bla bla bla!
Maapin gwe yah pacar tercinta gwe…maapin gwe yah lily….

buat gwe….
Comments (0)
Cerita Bersambung 9:51 am

Belum ada judul (Bag 1)

ayoe
Hari ini gwe ga masuk kerja lagi…kayak kemaren, karena emang gi “ga enak badan” hehehe…alesan aja. Sebenernya seh pengen masuk kerja tapi…yah gara? kejadian tadi malem juga seh. Gini ceritanya…

Kemaren sore…
Kemarennya lagi mang pala gwe gi pusing waktu kerja…n’ masih kebawa aja ampe kemaren. So, gwe ga masuk kerja dew. Tapi sore ude enggak lagi. N’ ude bisa jemput pacar gwe sepulang kerja. Seperti biasa sebelum pulang kami makan dolo ampe jam set 8an WITA. Abis nganter pacar gwe iseng dew pengen maen kerumah temen gwe, wisnu. Sekalian mo ngajakin maen bilyard. Lagian emang ude lama gwe ga kesitu karena kesibukan gwe. Ampe rumah Wisnu, kayak biasa gwe langsung nyelonong masuk kerumah aja…yah karena gwe emang ude deket ma keluarga dia juga, tapi kok sepi…

Celingak-celinguk gwe di dalem…weh, pada kemana juga nih orang pada. Jam? segini biasanya semua gi pada asik nongkrong didepan tipi. Yang gwe liat ada mahluk idup cuman..kamar adeknya si Wisnu, si Lili. Pas gwe intip terlihat dia gi ada didepan cermin nyisir rambutnya, kayaknya abis mandi. Hehehe…iseng ah gwe kagetin. Hahaha…mang bener dia nya kaget setengah mati. Tapi ya gitu dew…abis dah gwe dicubitin

“Kemana aja lo tom…lama ga nongol?! kirain udah mati…hahaha….”
“Sialan lo….sibuk sist….sibuk…hehehe…napa? kangen yah?”
Lili cuman mencibir lucu. Nih anak emang ude gwe anggep adek gwe ndiri. Dari kecil mah emang ude deket ma gwe…ampe sekarang dia ude kerja…Gwe elus pala lily. Rambutnya masih agak basah. Yah, itu emang kebiasaan gwe ke dia…

“Pada kemana neh?! Kok sepi?”
“Mamah gi tempat tante Hesti…tw dew minta bantuin apa gitu…”
“Wisnu?”
“Lom pulang…lembur lagi kali!”
Yah emang seh selama jadi manager di sebuah perusahaan Wisnu mang gwe denger suka jadi sibuk. Saat itu lily ude santai rebahan di tempat tidur sambil nge baca sebuah novel.

“Ya ude dew ly…bikinin gwe teh donk, haus ny….”
“Bikin ndiri napa?”
“Yah, elo ly…ude ga sayang lagi…brotta lama ga kesini bukannya di jamu malah lo suruh bikin ndiri…biasanya juga lo yang suka bikinin gwe teh kalo kesini hehehhe..”
Sambil lagi? mencibir lucu lily beranjak ke dapur. Tapi trus gwe cegah.

“Ga usah deh…skali? gwe pengen bikin ndiri…!”
“Yah, dari tadi napa?! biasain deh bikin ndiri…jadi gwe ga capek hehehe.”
Giliran gwe dew yg mencibir….lalu ke dapur.

Ga lama setelah itu gwe ude bawa segelas teh hangat n balik kekamar lily. Sepintas
sempet gwe liat lily buru? balik ke tempat tidur. Weeh…ketahuan mo ngerjain gwe neh anak! Gwe taruh gelas teh ke meja belajar lily n’ trus datengin dia ketempat tidur.

“Hayooo…..mo ngerjain gwe yah? Hayo ngaku lo!”
“Ngerjain apaan?!”
“Ngaku aja lo…ayo ngaku aja…ngaku ga?!” kata gwe sambil gelitikin lily.
“Hahahaha….enggak ada..bener! Hahaha…Aduh! geli tw! Aduuuhhh…!!”
Badan lily menggeliat-geliat kegelian. Sambil terus nyoba ngelindungin pinggangnya.
Tanpa sengaja gwe kesenggol dadanya…wew! Gwe kaget, karena gwe ngerasa nyenggol something weak di balik kaos lily. Pas gwe perhati’in hmm…emang gwe liat ada sesuatu yang nyemplak di kaos bagian dadanya…puting.

Karena kaget gwe langsung brenti gelitikin lily. N duduk di pinggiran tempet tidur dia.
Mata gwe muter? liat sekeliling kamar lily untuk mengalihkan perhatian. Ga sempet juga gwe mikir apa? malah lily tiba? bales gelitikin gwe…hahahaha…

Yah kemudian saling bales dew…ampe bergumul gitu dew sambil nahan ketawa. Ga tw gimana mulainya gelitikan gwe dari pinggang kok malah mulai merembet ke dada lily…wew! N’ Gwe malah tambah pusing dew liat lily ga marah n’ nyubit gwe kayak biasa…dia cuman terus nahan ketawa sambil nyoba ngelindungin dadanya!

“Hahaha…aduh Tom!! Awas lo ya…awas lo…hahaha!! Awww…!!”
Ampe akhirnya tangan gwe dapetin sesuatu yang…hhh…gila dew! Saat itu tangan gwe ngerasa kalo lily ga pake apa? dibalik kaosnya. Apa mungkin ini ude direncanain lily? Waktu gwe ke dapur tadi? Waktu gwe liat dia terlihat buru? balik ke tempat tidur tadi? tw dew! Toket lily ga gede. Yah cuman pas buat tangan gwe. Tapi gwe ngerasa kalo toket lily masih kencang banget! Sementara lily masih menggeliat pengen lepasin tangan gwe, gwe malah terus gerakin tangan gwe. Yang terjadi sekarang lily malah berhenti ketawanya n’ ronta’annya semakin mengendur…n’ akhirnya lily cuman bisa menggeliat-geliat.

“eghhh…hhhh…eghh…”
Gwe liat nafas lily mulai ga beraturan n’ sepertinya lily mulai menikmati apa yang tangan gwe lakukan di toketnya. Wadoh…kena angin paan neh anak?!
“eghh…hhhh…tommmhh…uughhh…egh..eghhh…sss…eghhh…hhh.”
Liat lily kayak gitu…langsung dew gwe cium bibir lily. Walau ga mahir, lily nyoba mengimbangi ciuman gwe…hmmm…not bad!

Ciuman gwe terus beranjak ke dagu, leher, n’ mulai ke dada lily. Gwe angkat kaos lily ampe ke bawah lehernya. Gwe liat pemandangan sejelas-jelasnya! Puting toket lily itu…warnanya muda bangeeet….waw surprise dew gwe! Tanpa mikir lagi langsung dew gwe mainin puting lily make lidah gwe. sambil kadang gwe sedot?.

“Uuuuuggghhhh…ttoooommmm…hhh..hhhh…uuuhhhhgggg….aduuuhhhhh…hhh…. tooommmm….hhh…uuuhhggghhh….” lily cuman bisa bersuara lirih…sambil menggeliat-geliat. Tangan gwe pun ga cuman diem, tapi terus mengelus sambil sesekali meremas seluruh tubuh lily. Lily semakin bergoyang ga keruan…gwe liat bulu? halus di seluruh tubuh n’ lengan lily ude pada berdiri semua. Wah, lily tengah menikmati sesuatu perasaan yang hebat di tubuhnya pikirku.

Tangan gwe kemudian mulai trerfokus untuk bernain-main di sekitar paha lily. Remasan? lembut terus saja menyerang paha lily. Sampai akhirnya gwe ude kepegang gundukan kecil yang masih terbalut celana pendek di selangkangan lily. Saat itu gwe cuman liat mata lily yang terpejam dengan mulut ysng setengah terbuka dengan nafas yang ude ga beraturan lagi. Mulut lily terlihat semakin terbukka saat gwe mulai mermas dan mulai menggosok-gosokkan tangan gwe di selangkangan nya. Tak lama kemudian celana lily ude ga beratuarn lagi posisinya…Mulut gwe kembali beraksi di toket lily saat tangan gwe mulai gwe selipkan ke balik celana nya…

Sejenak gwe cuman mengelus-elus bulu si bawah perut lily sampai akhirnya jari tangan gwe mulai menyusup di belahan gundukan lily. Sesuatu yang basah dan licin menyambut jari tangan gwe.

“ugh!!” Lily mengaduh tertahan saat jari tangan gwe mulai menyusuri belahan kemaluan lily semakin kedalam. Perutnya terlihat menegang seperti menahan sesuatu. Sesuatu yang “sepertinya” belum pernah dia rasakan sebelumnya. Mulut gwe saat itu terus saja beraksi ke toket dan bibir lily secara bergantian. Jari? tangan gwe pun kini ude terasa basah banget. Gwe rasa basahnya ga naggung? dew pokoknya. Kini bibir gwe mulai beraksi di daerah perut lily yang sesekali terlihat menegang…Butuh waktu yang singkat untuk menarik celana lily berikut celana dalamnya hingga teronggok dismping kakinya. Lily saat itu mungkin ude ga inget apa? lagi. Bibir gwe ude mulai menciumi bulu? kemaluan lily yg masih terlihat asli n’ lembut. Bau khas cairan kemaluan lily pun langsung tercium hidung gwe. Baunya asli men! Gwe ude nemuin bau? yang seperti itu beberapa kali di hidup gwe. Bau cewe? yang masih asli.

Jari? tangan gwe pun kini semakin bebas menari-nari di setiap bagian kemaluan lily yang berwarna pinky abis! n’ ude sangat jelas basahnya. Bunyi khas pun terdengar saat gwe mulai memainkan jari? tangan gwe. Apalagi saat gwe mainin di lubang kemaluan lily yang saat itu emang masih terasa banget sempitnya! Sesekali gwe mainin lidah gwe di daerah sensitif kemaluan lily. Agak? asin gitu dew…heehe…Tapi gwe ga terlalu mainin lidah gwe di daerah lubang lily. Hanya sesekali saja.

Hingga suatu ketika saat gwe mulai aktif menggoyangkan jari gwe di klitoris lily….nafas lily mulai terlihat tersengal-sengal. Gwe terus goyang makin lama makin cepat. Lily seperti menahan teriakannya. Seluruh badannya terus menegang hingga akhirnya gwe lihat tubuh lily menegang dengan hebatnya, seluruh tubuhnya gemetar! ” EEEEgggggghhhhhhhhhhhhhhhhh………..!!!!” Kemudian mengejang beberapa kali. Sambil berteriak tertahan. Trus langsung lemas dengan nafas tersengal-sengal. Sampai terbatuk-batuk. Gwe cuman pandangin lily sampai nafasnya mulai agak normal kembali. Gwe peluk dia.

“Maapin gwe ya ly?”
Lily cuman tersenyum. N’gwe peluk dia lagi….Hhh…like the dream come true… Akhirnya….gwe mah ga ngira banget?!!! Setelah lily berpakaian kembali. Gwe habisin teh gwe yang ternyata ude dingin hehehe….n’ gwe pulang sebelum mamah lily n’ si Wisnu pulang….Sebenernya gwe pulang sambil sakit pala…gwe ndiri lom dapet apa? hahahaha….ampe rumah terpaksa coli dew! hahahaha!!!

Yah pengalaman gwe kemaren itu ga bermaksud menakut-nakutin temen? yang ngerasa punya adek cewe cakep hehehe….tapi yah ga ada salahnya seh jaga? hahaha…..yah semua emang suka terjadi tanpa diduga…Gwe juga dikit ngerasa salah ma pacar gwe. Kenapa idup gwe seperti terlalu mudah buat dapetin n’ nemuin hal? ky gitu?!!!! haaa?!! Ga ada yg bisa ngejawab gwe kira….

sebenarnya ceritanya bersambung….tentang kejadian yg hari ini. Tapi yah berhubung ude malem banget! besok musti kerja Bo’!! Ude dua hari ga kerja neh!
Ntar kapan? tw besok gwe sambung lagi dew.
suka ga suka terserah anda-anda sekalian dew….
sekian dolo terimakasih…..(mana tepuk tangannyaaaa?!) hehehehe
Comments (0)
Cerita Antara Kita 9:48 am

TANTE WULAN DAN KAKAKKU

Setelah membaca web 17thn, saya jadi teringat kembali pengalaman seks saya waktu SMP nah karena itu saya mencoba menceritakan pengalaman seks saya dengan kata-kata yang agak terbatas, tetapi sebelumnya saya ingin memperkenalkan diri. Nama saya Roy (nama samaran) berumur 25 tahun saat ini, bekerja di sebuah Hotel di Jakarta, sejak kecil kehidupan saya tidak lurus-lurus amat, waktu SD pernah nonton Film Biru bersama teman-teman, tetapi sampai SMA saya belum pernah pacaran dikarenakan saya adalah seorang yang tidak Supel dalam bergaul, akibat dari nonton film tersebut saya mulai berubah tanpa saya sadari dan orang lain tidak tahu bahwa saya sering ‘ngelonjor’ (ngelamun jorok) tidak peduli di kelas, di bis dan di mana saja, malah kerapkali saya melakukan pelecehan seksual di dalam bis, dengan menempelkan alat vital saya ke pantat seorang gadis tetapi jika dalam keadaan yang berdesak-desakan saja.

Sebaiknya saya langsung mulai cerita, waktu SMP kelas 3, kami kedatangan tamu dari Jogya yaitu Tante Wulan. Pada saat itu dia berumur 26 Tahun dan baru 1 tahun menikah tetapi malangnya dia ditinggalkan oleh suami yang tidak bertanggung jawab, dikarenakan alasan mertua (nenek saya, red). Saya memang akrab dengannya (Tante Wulan) karena orangnya ramah, lembut dan cantik. Dan diantara banyak keponakannya, sayalah yang paling dianakemaskan olehnya. Dia sering berkata, “Kamu itu orangnya baik, nggak suka nakal-nakal seperti anak-anak yang lain yang suka berkelahi, mencuri dan lain-lain..” Nah, pada saat kedatangannya kebetulan kedua orang tua saya sedang berlibur di Bali, tinggal saya dan kedua kakak wanita saya serta ditemani seorang pembantu.

“Ehhh Tanteee!” teriak kakak saya yang pertama bernama Riska, saya dan Risma berlomba menuruni tangga dari lantai 2 (tempat menjemur pakaian). Risma adalah kakak kedua saya, singkatnya kami menyambut kedatangannya dengan hangat tapi sayang kamar dikeluarga kami hanya ada 3. “Tante Wulan pakai saja kamar saya, biar saya tidur di ruang tengah,” kata saya sambil membawa kopernya ke dalam kamar. Kamar saya yang tak terlalu besar, hanya ada tempat tidur yang tidak terlalu besar, meja belajar dan lemari kecil.

Pada tengah malam… “Sssttt… Bayu pindah saja ke dalam,” sambil menunjuk kamarnya.
“Ahhh nggak usah Tante, Tante khan…” balasku tertahan.
“Eh di sini kan banyak nyamuk,” selanya, dengan langkah gontai saya masuk ke kamar. Ketika saya merebahkan diri, teryata dia ikut masuk dan menutup pintu, saya pikir dia menggantikan saya tidur di ruang tengah, ini membuat saya malah menjadi canggung dan tidak bisa tidur, pikiran pun melayang kemana-mana, sebentar-sebentar saya memandang ke sebelah.
“Haa… cepet banget Tante Wulan tidurnya… ya ampuuun, kenapa otak gua jadi ngeres gini.” Saya teringat kembali semua yang telah saya tonton (Film Biru) lalu saya duduk dan memandangi pahanya yang tersingkap sampai daerah sekitar perut.

“Wowww! seksi banget…” kata saya dalam hati. Tante Wulan memang seorang yang sangat cantik, tinggi badannya 166 cm dengan tubuh yang proporsional kulit kuning langsat, rambut hitam pekat, panjang sebahu mirip seorang model, leher jenjangnya yang putih bersih, hidung mancung dengan bentuk yang manis sesuai dengan ukuran wajahnya, bibir yang sensual dengan warna merah natural, membuat setiap orang yang melihatnya ingin mengecupnya. Pokoknya ia adalah wanita seperti idaman saya, kadang saya berfikir, “Coba kalau ia bukan tante saya.”

Tanpa disadari tangan saya mulai meraba betis. “Iiihh lembut banget (sambil dikecup sedikit),” kata saya dalam hati, baru kali ini saya memegang betis seorang wanita, dan tangan saya menjalar ke pahanya yang membuat darah muda saya mendidih, perasaan yang tidak karuan, takut dan nafsu birahi yang tak dapat dibendung. “Ya ampun, kenapa saya bisa sekurang ajar ini,” saya berhenti sejenak untuk memperhatikannya apakah ia benar-benar tertidur? Untuk mengetahuinya saya tarik bantal yang berada di kepalanya secara mendadak, benar saja ia tertidur pulas.

Kemudian saya melanjutkan aksi dengan membuka tali piyamanya, pemandangan luar biasa yang belum pernah saya lihat sebelumnya, lalu saya merebahkan diri di sampingnya sambil saya dekatkan mulut saya ke mulutnya, terasa hembusan nafasnya yang hangat membuat saya makin terangsang untuk mencium bibir indahnya dan saya beranikan diri untuk melumat bibirnya.

“Eemmmuuaahh…” tiba-tiba mengalirlah perasaan aneh dalam tubuh saya, membuat saya lupa akan semuanya dan saya tak dapat menahan lebih lama lagi, saya hisap bibirnya, saya cium hidungnya yang indah, pipinya dan kembali lagi ke bibir manis itu, saya berlama lama di sini sebentar, saya mencoba memasukkan lidah saya ke mulutnya. “Eeehhmm…” gumamnya, “Masa bodo ketahuan apa nggak!” kata saya dalam hati, lalu dengan tangan kanan, saya meraba payudara yang kenyal itu sambil sesekali meremas-remasnya mesra (tanpa membuka BH-nya).

“Begini saja tidak bakalan puas,” pikir saya. Dengan gemetar lalu saya memiringkan tubuh indah itu. “Uuuhh susah banget,” tetapi akhirnya berhasil juga dan saya buka kancing BH-nya. “Haaa… luar biasa indahnya,” kataku kagum dan kurangkul tubuh indah itu sambil saya menindihnya dari samping karena ia dalam posisi miring, kaki kananku kusilangkan diantara pahanya, menciumi seluruh wajahnya sambil meremas-remas buah dadanya, tapi tiba-tiba dia mendorongku, aku kaget bukan main sepertinya jantung ini berhenti berdetak. Saya berhenti sebentar sambil mengatur nafas dan memperhatikannya. Beruntung, ternyata dia masih dalam keadaan tidur dan tetapi posisinya kali ini sangat memudahkan bagiku untuk mengadakan operasi selanjutnya, yaitu telentang.

Perlahan saya mendaratkan wajah saya diantara gunung kembar itu, dan saya mulai menjilatinya dengan lembut, dengan gemetar saya meremas-remas, sesekali mengisap-isap puting susunya yang berwarna coklat muda dan kemerahan itu sambil memainkan ujung lidah saya, nikmat sekali benda kenyal ini yang perlahan-lahan mulai mengeras dengan diiringi suara rintihan. “Aahhh… uuuggh..” terlihat sekilas olehku, ia mulai tidak tenang, kepalanya bergoyang ke kanan dan ke kiri, tangannya yang meremas-remas sprei, sepertinya ia juga merasakan nikmatnya, tapi dasar orang yang sudah dikendalikan nafsu birahi, hal itu tidak menyusahkannya, malah menimbulkan sensasi tersendiri, semakin gencar saya melakukannya, bahkan kini tanganku berani menyelinap ke dalam celana dalamnya.

“Wahhh… bulunya lebat amat,” kataku dalam hati, lalu saya mulai mengusap-usap bulu tersebut sambil menciumi seluruh buah dadanya disertai gigitan kecil di puting susunya yang membuatnya bergetar dan terasa olehku bahwa setiap kali aku membelai bulu di selangkangannya, pantatnya agak terangkat sepertinya berbicara, “Masukkan jarimu,” dan setelah kulepaskan CD-nya, kuberanikan diri untuk menyelipkan jari tengahku ke dalam goa kenikmatannya. Kontan saja dia menggumam, “Uuuggh.. ssszzttt… ahhh… ahhh.. aaauuhhh…” tak henti-hentinya ia merintih sambil meremas-remas rambutnya. Dalam hati saya berfikir apa ia benar-benar tidur?

Tiba-tiba pantatnya agak terangkat sampai seluruh jari saya masuk ke dalam liang kewanitaannya sambil ia meregangkan kedua pahanya lebar-lebar membuat saya ingin melihat lubang kemaluannya secara dekat. Lalu saya merubah posisi, saya seperti orang yang sedang bersujud, kubenamkan hidungku di liang senggamanya sambil kugesek-gesekkan dengan hidungku, “Uuhh..” baunya membuat sensasi seksku meningkat, “Sssrruuupps..” (seperti menjilat ice cream) Sambil memegang kedua pahanya, aku menjilat-jilat bagian dalam liang kenikmatan tanteku itu, jujur saja rasanya aneh asin, sedikit gurih dan pokoknya nikmat, tak bisa kulukiskan dengan kata-kata.

Tiba-tiba saya dikagetkan oleh kedua tangan, yang tiba-tiba saja memegang kepala saya. “Ehhhmm… siapa kamu?” sambil mengangkat kepala saya, “Mati gue!” dalam hati saya berkata dengan perlahan saya mengangkat kepala saya dari liang sorganya, saya hanya terdiam.
“Roy apa yang telah kamu lakukan.. kenapa kamu, berani..?” kata Tante Wulan.
Dengan gemetar saya berkata, “Maaf kan saya Tante.”
“Maaf lagi, enak aja… nanti Tante bilangin Ibu… baru tau rasa!” ancamnya.

Saya hanya pasrah, saya sudah kehilangan seribu bahasa, saya hanya diam dan diam ketika saya hendak melangkah keluar kamar, ia melompat dan mengunci pintu membuat saya kaget bukan main, kupikir ia mau menghajarku, “Tidur sana!” perintahnya sambil membiarkan tubuhnya terlihat olehku yang hanya mengenakan baju tidur yang telah kubuka talinya dan saya membaringkan badanku membelakanginya dan ia mematikan lampu kamar. Saya telah berusaha untuk memejamkan mata tapi tidak dapat. “Gimana nih, gua bisa diusir dari rumah,” dalam hati saya berbicara.

Satu jam setelah itu, saya dikagetkan oleh tangan yang memegang alat vital saya, kontan saja ini membuatnya bangun (dongkrak antikku). Awalnya hanya meraba-raba saja dan akhirnya sampai masuk ke dalam celana dalam dan kurasakan tubuh hangat itu memelukku sambil berkata, “Tante tau Kamu belum tidur,” tapi saya terus pura-pura tidur, dan ia menelentangkan tubuh saya, sedikit saya mengintip rupanya ia melepaskan piyamanya dan benar-benar telanjang bulat. Sebenarnya saya ingin melongo tapi takut ketahuan.

“Astagaaa… teryata ia tadi itu cuma pura-pura,” saya menahan nafas ketika ia menelungkupkan tubuhnya di atasku sambil berkata, “Ini rahasia kita.” Lalu menghujani bibirku dengan ciuman rakusnya, “Emmuuahh… eemmuuuaahh..” sambil tangannya memegang kepalaku dan memutar-mutar kepalanya. “Jangan salahkan saya, jika sekarang perjakamu kuambil,” katanya lagi sambil mencium bibirku dengan nafsunya dan menggoyangkan pantatnya, lalu saya tak tahan lagi, saya bangun tapi hanya sebatas duduk dan membiarkan ia berada di atas pangkuanku sambil saling melilitkan lidah, tanteku membuka t-shirt yang kukenakan dan, “Ahhh, sialan ia menggigit lidahku,” kataku. “Maaf..” katanya singkat dan meneruskan aksinya, dan ia menggiring tanganku untuk memegang payudaranya karena aku masih agak malu, “Roy silakan lakukan apa saja yang kamu suka,” katanya “Ya Tante,” jawab saya. “Sssttt… jangan pangil Tante ketika bercinta,” katanya lagi.

Kami benar-benar larut dalam gejolak nafsu birahi, saling berlomba untuk merebut hadiah kenikmatan, sekarang sudah benar-benar bebas, mulut saya menjelajah ke seluruh wajah sampai leher, belakang telinganya kujilat dan kuciumi dan kembali ke bagian leher sampingnya membuat kepalanya menengadah ke atas. “Aaahhh… uuuhh teruuuss Roy,” katanya, “Uuugghhh… belajar dari mana kamu?”, lanjutnya dengan nafas yang terengah-engah. “Sudahlah jangan tanya-tanya,” kata saya dengan suara bergetar, tangan kita masing-masing saling menjalar ke bagian tubuh yang paling sensitif.

Kemudian Tante Wulan mendorong tubuh saya dan menarik celana pendek serta CD yang saya kenakan. “Tooeewww…” tugu kenikmatan berdiri dengan tegak seraya menyombongkan dirinya. “Tahan sedikit ya,” katanya sambil ia meraih batang kemaluan saya dengan cepat dan mengulumnya. Gila, masuk semua ke dalam mulutnya, bahkan topi baja saya sampai menyentuh tenggorokannya. Tante Wulan dengan rakusnya melahap seperti hendak menelan habis, ia bukan seperti tante saya yang saya kenal, di sini ia tampak liar, seperti orang kesurupan “Aaauuuww…” teriak saya waktu ia menghisap dengan seluruh kekuatannya, sepertinya tenaga saya turut dihisapnya sambil ia menempelkan gigi-giginya di topi baja saya. “Besar sekali punyamu dan panjang,” bisiknya lirih. Sekedar informasi saja, alat vital saya berdiameter 16 cm, den panjangnya 12 cm (jika sedang tegang) menurut saya itu biasa saja, bagaimana menurut pambaca?

Tiba-tiba Tante Wulan berdiri dan menyambar piyama tidurnya dan keluar kamar begitu saja. “Haaa…” saya hanya melongo dibuatnya kali ini apa yang akan dibuatnya? Terdengar suara agak gaduh di luar, sepertinya ia sedang mencari sesuatu. Kemudian saya bangun dan mengintip dari balik pintu, rupanya ia mengambil sesuatu dari kulkas dan menyembunyikan di balik badannya, dan melangkah ke arah saya. “Ssstt ayo masuk,” bisiknya dan ia menunjukkan sesuatu tepat depan wajah saya. “Haa, Tante untuk apa ketimun itu,” tanyaku heran. “Aahhh aku tauu! Dasar!” lalu dia memelukku dan menjatuhkan diri bersama-sama ke atas tempat tidur setelah ia membuka kembali piyamanya. “Nih, pegang..!” teryata ketimun ini sudah diberi baby oil, licin dan basah. Sekedar informasi, ketimun itu adalah ketimun import ‘Cucumber Pickling’ Berwarna hijau tua berukuran seperti alat vital orang dewasa.

Beberapa saat kita berguling-guling di atas kasur sampai akhirnya ia berada di bawah saya dan membimbing tangan saya untuk memasukkan ke dalam liang senggamanya. “Aaauuugghh.. teeruuss… yang dalam.. uuhzz.. yeeaaah… pompa terus Roy.. ya begitu.. terus.. aahhhggh.. nikmat Roy.. puter.. puter.. yaa… sodok.. sodok lagi… aauuhh.. niikmaatt.. agak ke atass.. ya begitu..” ocehan Tante Wulan makin menjadi sambil ia mengocok senjata pusakaku. Tante Wulan membalikkan badan saya dan menduduki tugu kenikmatan yang sudah mengeras dan membimbingnya masuk. “Srruup..” amblas, tapi hanya setengahnya saja dan Tante Wulan mulai menaikturunkan pantatnya dengan perlahan sambil berpegangan pada lututnya. “Uuuhh… batangmu hangat sekali.. lebih enak punyamu…” sesekali ia membenarkan letak rambutnya.

“Kraak.. kraakk… kraakk…” suara ranjangku seakan berteriak karena menahan beban tubuhku dan tubuh Tante Wulan. Malam itu menjadi malam yang sangat istimewa dan gaduh, suara rintihan, erangan, kenikmatan berbaur menjadi satu seperti hendak sengaja mempertontonkan adegan yang mencengangkan. “Astaga pintu kamarku belum ditutup,” tetapi Tante Wulan sedang asyik bermain di atas tubuhku, aku pun tak ketinggalan, menjamah, meremas buah dadanya sehingga membuat Tante Wulan semakin liar saja. Samar-samar ada empat mata yang memandang dari kegelapan, apakah itu cuma khayalanku yang timbul karena rasa takut? Ah masa bodoh, selama mata itu tak menggangu acaraku.

Lalu saya bangun tapi hanya sebatas duduk, Tante Wulan masih berada di atas pangkuanku. Bibir kami saling bertemu dan berpagutan, saling menjilat dan saling memompa, berpelukan. Kemudian saya bangun dan berdiri sambil menggendong Tante Wulan agar batang kejantananku tetap menancap di liang senggamanya, dan kunaikturunkan dengan kedua tanganku. “Enaaak.. Roy..” Tante Wulan semakin memelukku dengan erat. Lalu tak kusadari kakiku melangkah keluar sambil tetap pada posisi tadi, sampailah di ruang tengah dan kuletakkan tubuh Tante Wulan di atas meja, tanpa kucabut batang kemaluanku yang bersarang indah di liang sorganya.

Aku mulai memompanya lagi, “Aauugghhh… lebih cepat Roy… ya teruss.. begitu,” desah Tante Wulan sambil melingkarkan kedua kakinya di pantatku. Aku mengayun dengan sekuat tenaga, meja bergetar dan pot bunga, gelas berjatuhan akibat getaran kenikmatan yang kukeluarkan. “Roy lebih cepatt.. mau keeluarr nih..” Aku pun semakin mempercepat dorongan dan pompaanku,” Aaahhh…” teriakku sambil mengumpulkan tenaga yang tersisa, mulai terasa olehku ada suatu cairan hangat yang memenuhi liang senggama Tante Wulan dan menyelimuti seluruh batanganku, membuat seakan berkumpul kembali tenagaku, bersamaan itu Tante Wulan bangun dan memelukku erat sambil melumat bibirku dan tak lama kemudian aku pun tiba-tiba merasa tergoncang hebat sambil memacu dengan gencarnya, “Croot… croot.. croott… crooot…” empat kali tembakanku, lalu lunglailah tubuh kami. Nafasku tersengal-sengal, Tante Wulan memandangku dengan penuh rasa bangga dan puas, lalu ia menarik dirinya dari pelukanku sambil memberikan kecupan lembut di bibirku, dan ia melangkah menuju kamar mandi.

Keesokan harinya, pukul 11.00 aku bangun dan aku melihat mata kedua kakakku merah dan bengkak seperti orang habis begadang, karena memang pertempuran semalam selesai ketika matahari mulai nampak. Hatiku bertanya-tanya, “Apakah mereka menontonku? tapi dari sikap mereka terlihat biasa saja. “Roy kenapa kamu bangunnya siang begini tak seperti biasanya?” tanya Risma curiga. “Ehhh… karena.. kecapean kali..” Aku pun bingung, tetapi aku jadi malu jika menatap wajah tanteku itu, ada perasaan bersalah tapi ia tenang dan mengusap-usap bahuku dan kepalaku dan seperti biasanya kami melakukan aktifitas kami masing-masing, Riska kuliah dan Risma sekolah di sebuah SMA Negeri di Jakarta, dan aku sendiri sekolah tak jauh dari rumah.

Pukul 17.00 aku tiba di rumah, aku menengok ke kanan dan ke kiri, sepi sekali di dalam rumah, pintu tidak dikunci terlihat olehku pintu kamar Riska agak terbuka, dengan berjingkat aku masuk dan mengintip. “Ahhh.. baju.. rok dan celana dalam kakakku bertebaran di lantai, lalu mataku mulai menjelajah ke setiap sudut ruangan. “Astagaaa,” jantungku berdetak keras melihat Riska tanpa busana membelakangiku sambil tangan kanannya berpegangan pada lemari dan tangan kirinya maju mundur seperti sedang memasukkan sesuatu ke dalam kemaluannya, hal ini membuat darah mudaku mendesir. Dia mengerang, meringis. Kepalanya menengadah ke atas langit-langit, lalu ia merebahkan diri ke atas kasur, sambil terus memompa sesuatu di liang kemaluannya.

Perlahan setelah kulepas sepatuku, aku masuk dan menutup pintu, aku tak tahan dan kukeluarkan kejantananku, tetapi sayang ia membalikkan badannya ke arahku, terpaksa aku masuk ke dalam kolong ranjang. “Ahhh sial…” kataku. “Aaaa…” jeritan Riska menyudahi kenikmatannya, entah sudah berapa lama ia melakukan itu (martubasi dengan ketimun), tapi tak terdengar apa-apa, semuanya menjadi sunyi, aku tak berani keluar dari kolong dan setelah 2 jam aku mulai keluar dan memperhatikan sekelilingku. Oh, rupanya ia telah tidur dengan mengenakan selimut.

Perlahan-lahan kutarik selimut itu. Mataku terbelalak melihat pemandangan yang satu ini, tubuh molek kakakku yang dihiasi dengan keringat semakin indah kelihatannya, ia teryata lebih seksi dari Tante Wulan, payudaranya lebih kencang, tubuhnya padat berisi. Uhh, pokoknya diatas segala-galanya jika dibandingkan dengan Tante Wulan. Lalu kutangalkan semua pakaianku dan kukunci pintu.

Perlahan kuhampiri tubuh kakakku yang sedang tertidur, lalu aku menyentuh bulu-bulu tipis yang tumbuh di sekitar kemaluannya dan kusisir dengan lidahku perlahan-lahan, sambil tanganku menggapai-gapai buah dada milik Riska dan kuambil kembali ketimun itu dan kumasukkan perlahan. “Ehm, pantatnya agak terangkat sedikit dan kupompa perlahan, masih tertinggal bekas cairan memeknya di ketimun yang ia gunakan tadi. Aromanya lebih tajam dari milik Tante Wulan. Riska tampak menggeliat-geliat sambil bergumam, “Ohhh.. oohhh…” tangannya tak bisa diam menjambaki rambutnya dam meremas-remas payudaranya, kupercepat pompaanku tapi aku tidak tega dan kutarik kembali ketimun itu dan kugantikan dengan punyaku sendiri.

“Ssleeephh… Ooohhh…” Riska merintih panjang dan astaga membuka matanya dan kaget melihatku yang ada di atas tubuhnya dan mendorongku, tapi tanganku lebih kuat. “Rooy jangannn… tolong Roy jangan,” katanya, tapi kusumpal dengan mulutku. Ia menoleh ke kiri dan ke kanan, menghindari ciumanku dan kutahan kepalanya, kupaksa ia untuk menerima ciumanku. “Aaaihh teryata bibir Riska lebih manis dari Tante Wulan.” Aku semakin bernafsu saja. Ia terus berontak, berontak. Semakin ia berontak, aku semakin kencang mengayun batanganku. “Auuu.. uughh..” Riska menggigit bibirnya, tak kusadari bahwa setiap hentakanku turut dibantunya dengan menggoyangkan pantatnya, membuat semakin nikmat walau punya kakakku lebih sempit dari milik Tante Wulan, ini tak menjadi penghalang bagiku, kali ini sepertinya ia sudah kehabisan tenaga dan pasrah.

“Roy jangan kau tumpahkan manimu di dalam ya,” katanya memelas, aku hanya menganggukkan kepala saja dan kuciumi bibirnya, ia tidak menolak bahkan lidahnya masuk ke dalam mulutku dan ikut menikmatinya, karena takut ketahuan yang lain aku memacunya lebih cepat dan kulihat senyuman dari bibir kakakku. Ia melingkarkan kakinya di pantatku agar tak terlalu kencang getaran yang ditimbulkannya. “Aaaa…” kita berteriak bersamaaan, dan tiba-tiba ia memelukku dan menciumi bibirku sambil menekan pantatnya hingga terasa olehku menyentuh dinding kemaluannya bahkan klitorisnya, dan “Crooott… crrooot..” untung saja aku cepat mengeluarkan dan tertumpah mengenai wajah Riska, dan saat itu juga ia meraih dan mengulum batanganku dan menyedot habis mani yang tersisa di sekitar topi kepala bajaku. Terlihat juga ada lava putih mengalir dari dalam liang senggamanya yang disertai aroma yang merangsang. Sebetulnya aku masih ingin bercinta dengannya tapi sudah agak petang dan karena itu aku tadi mempercepat genjotanku, dan aku mengambil bajuku dan keluar menuju kamar mandi, beruntung ketika aku mandi, Tante Wulan dan Risma pulang sehingga mereka tidak mengetahui apa yang sebenarnya telah terjadi.

Saya mengharapkan bagi teman-teman pembaca untuk memberikan kritik, saran dan pendapatnya mengenai tulisan saya ini.

TAMAT
Comments (0)
Akibat Pergaulan Bebas 9:47 am

EKSIBISIONIS

Selama ini cerita yang gw tulis selalu dari sudut pandang cowo.
Biar adil, kali ini gw tulis khusus buat para cewe.
(cowo gak boleh baca, tapi boleh comment…..)

EKSIBISIONIS …?

Aku wanita 24 tahun, tinggal di Yogya, sudah menikah punya satu anak lelaki yang September ini genap tiga tahun usianya. Akhir-akhir ini Aku merasakan ada sedikit kelainan seksual dalam diriku. Kalau dibilang Aku itu seorang eksibisionis kupikir kurang tepat juga walaupun Aku terkadang suka memamerkan bagian-bagian tubuhku. Dikatakan kurang tepat karena kelakuanku mempertontonkan tubuh hanya pada kondisi khusus dan hanya kepada lelaki tertentu saja. Selain itu, aksiku ini “bermanfaat” bagi kehidupan seksual bersama suamiku tercinta.

Anda jangan ketawa dulu soal “manfaat” tadi. Begini, setelah menjalankan aksi eksibisi itu Aku merasakan menjadi “bersemangat” untuk kemudian Aku jadi panas dalam melayani suamiku, sehingga akan berdampak pada tercapainya kepuasan luar biasa pada kami berdua dalam berhubungan seks. Suamiku sampai terheran-heran terkadang Aku begitu “bersemangat” di ranjang, padahal pada umumnya berjalan biasa-biasa saja. Bahkan terkadang agak malas melayani. Semangat tadi muncul karena ada pemicunya yaitu sebelumnya Aku telah melakukan eksibisi seksual. Tentu saja suamiku sama sekali tidak tahu kelakuanku yang rada menyimpang ini. Tapi Aku berpikir, sepanjang kelakuan anehku itu berguna bagi kami berdua, fine-fine saja bukan ?

Yang kumaksudkan “kondisi khusus” itu ialah peristiwa eksibisi terjadi begitu saja tanpa perencanaan. Ide untuk melakukan pameran tiba-tiba saja timbul setelah Aku mendadak menemukan kesempatan untuk melakukan. Kesempatan itu ada karena ada “pemicunya” (kalau Anda kurang menangkap apa yang kumaksud dalam kalimat-kalimat pada alinea ini, nanti akan menjadi jelas setelah Aku menceritakan peristiwanya, mohon bersabar dulu).

Tadi Aku menyebutkan memamerkan tubuh hanya kepada lelaki tertentu, karena memang tidak kepada setiap lelaki yang menarik perhatianku, misalnya karena dia ganteng, macho, atau lainnya. “Sasaranku” bisa lelaki manapun asal sudah “terkondisi” dan masih usia remaja ! Ya, hanya kepada anak lelaki belasan tahun. Bukan karena Aku seorang pedofil ataupun penggemar “brondong”, Aku punya alasan yaitu demi keamanan.
Kalau Aku memamerkan buah dadaku misalnya kepada seorang lelaki dewasa, Aku khawatir akan diartikan berbeda. Dalam pikiranku, lelaki itu akan punya sangkaan bahwa Aku menginginkannya. Lebih celaka lagi kalau dia akan menganggapku sebagai perempuan murahan. Tentu saja aksi pamer diri ini kulakukan seolah-olah secara tak sengaja. Aku tak mau lelaki sasaranku tahu bahwa Aku sengaja mempertontonkan tubuhku. Aku adalah tipe perempuan setia, selama ini Aku hanya berhubungan seks dengan suamiku seorang.

Kalau misalnya ada pertanyaan bagian tubuhku yang mana yang paling kusukai, tanpa ragu Aku akan menjawab buah dada dan kakiku. Aku bangga dengan bentuk buah dadaku yang membulat dan mulus, meskipun tak begitu besar. Blouse atau kaus yang ngepas di badan akan makin mempertegas “kebulatannya”. Bila Aku sedang jalan-jalan di mall misalnya, setiap lelaki yang berpapasan denganku selalu “tertangkap” oleh mataku sedang menatapi dadaku. Selain dada, Aku baru menyadari memiliki sepasang paha yang “bulat” setelah suamiku mengatakannya sewaktu kami pacaran.
“Engga ah, mayan panjang gini dibilang bulat” bantahku.
“Maksudku, penampangnya. Kalo dipotong di sini … (sambil merabai paha atasku), penampangnya berbentuk lingkaran nyaris sempurna”. Semuanya makin diperindah karena memang dasarnya kulitku yang langsat. Bila sedang bertelanjang, ketika mandi atau ganti pakaian di kamar, tak puas-puasnya Aku mengagumi tubuhku sendiri di depan cermin. Mungkin ini jenis kelainan lagi ? Semacam narsis atau apa gitu ?

Ada banyak aksi eksibisi yang pernah kulakukan, tapi Aku hanya menceritakan dua peristiwa saja yang paling mengesankan bagiku dan punya “efek” paling besar pada aksi ranjang bersama suamiku. Peristiwa pertama mengesankan karena itu adalah pertama kali aku pamer tubuh, dan peristiwa kedua adalah memang benar-benar mengesankan…

***

Siang agak sore itu Aku terjaga dari tidurku karena terdengar suara ribut dari ruang tengah. Kudengar suara percakapan adik bungsuku bersama paling tidak dua anak lainnya. Oh ya, ada empat orang yang tinggal di rumah. Aku dan suami (siang itu masih di kantor, tentu saja), adik lelakiku, si bungsu yang masih kelas dua SMP, dan seorang pembantu. Dengan malas Aku bangkit dari tempat tidur, ingin ke kamar kecil.

Aku keluar kamar, di ruang tengah memang ada adikku dan dua orang temannya, semuanya masih dengan seragam putih biru. Adikku sedang di depan desk top mengetik sementara seorang kawannya berada di samping dia, dan seorang lagi sedang duduk nonton TV.
“Udah pada makan belum ?” sapaku.
“Udah” jawab mereka berbarengan, lalu mereka kembali asyik dengan kegiatannya masing-masing. Aku berjalan menuju kamar mandi di belakang.

Selesai dari kamar mandi Aku ke ruang tengah lagi menuju mini bar yang letaknya di samping ruang makan dan agak berdekatan dengan letak pesawat TV. Ruang tengah dan ruang makan memang tak ada penyekatnya. Aku membuat minuman teh manis panas kesukaanku setelah terasa agak kedinginan karena AC kamar tidur yang Aku stel suhu rendah sebelum Aku tidur tadi. Selesai bikin teh Aku duduk di salah satu dari dua kursi tinggi di dekat mini bar, menikmati teh. Kebiasanku menikmati teh masih dalam keadaan panas, Aku seruput sedikit demi sedikit. Teh manis panas berkhasiat menyegarkan tubuh yang sedang lesu, begitulah paling tidak pengalamanku selama ini.
“Ngetik apa” tanyaku sambil menikmati teh pada adikku.
“Ada tugas kelompok, Kak”jawabnya.
Dua anak sedang asyik di depan komputer sementara seorang lagi santai, matanya tak lepas dari TV. Nonton TV ? Tidak juga rupanya. Ketika Aku mengalihkan pandangan ke anak yang santai ini, ternyata matanya tak sedang ke TV tapi menatapi kakiku. Tapi secepat kilat matanya kembali ke TV setelah “tertangkap” olehku. Kelihatannya anak ini dari tadi menatapiku, ketika sedang membuat teh tadi Aku merasa ada sepasang mata yang memperhatikan gerakanku.

Aku baru sadar telah membuat kesalahan. Bangun tidur tadi Aku tak mengganti pakaian tidurku. Pakaian tidur yang tipis, pendek pula dan berkancing di dada, sehingga ketika Aku duduk di kursi bar yang tinggi, hampir seluruh pahaku dan kakiku yang jenjang terbuka. Bahkan mungkin pandangan anak ini bisa menerobos ke sela-sela pahaku untuk menatapi celana dalamku. Celana dalam ? Kadang Aku tak mengenakan pakaian dalam ketika tidur. Aku melirik, untunglah … Aku mengenakannya, juga bra. Kuletakkan gelasku ke meja bar, Aku turun dari kursi dan ke kamar hendak berganti pakaian. Ekor mataku menangkap anak itu terus menatapiku sewaktu aku berjalan menuju kamar.

Kulepas baju tidurku dan kuambil daster dari lemari pakaian. Seperti biasa sebelum mengenakan pakaian Aku mengagumi tubuhku di depan cermin. Buah dadaku yang masih bulat tegak ke depan walaupun Aku menyusui anakku (dan suamiku ), sepasang pahaku yang mulus dan berpenampang nyaris lingkaran sempurna, sepasang kakiku yang panjang dan mulus dengan ditumbuhi bulu-bulu halus. Mendadak ada perasaan aneh menyelinap, dadaku berdesir, teringat akan adegan film VCD “Private Teacher” yang dibintangi oleh Sylvia Kristel, bintang seksi yang juga main dalam film serial “Emmanuelle” yang erotis.

Cerita tentang anak lelaki umur 12 tahun yang suka ngintip perempuan dewasa yang sedang berganti pakaian.
Suatu saat perempuan itu menangkap basah si pengintip. Bukannya dia marah tapi malah menyuruh anak itu masuk ke kamarnya disuruh duduk. Mulailah perempuan itu mencopot bra-nya dan memamerkan buah dadanya. Hari berikutnya tak hanya bra yang dilepas, tapi celana dalamnya juga. Lalu kesempatan berikutnya dia jadi ‘guru’ yang mengajarkan anak polos itu bagaimana caranya berhubungan seks, lengkap dengan “praktikum”.

Ingatan pada adegan film itu menjadikan Aku untuk berbuat rada nekat. Aku tak jadi berganti pakaian. Dengan tetap berbaju tidur Aku keluar kamar menenteng majalah dan duduk di kursi tadi, pura-pura membaca. Dari balik majalah Aku menangkap anak tadi menatapi pahaku. Inilah pertama kalinya Aku merasakan “nikmatnya” eksibisi seksual. Aku terrangsang justru ada lelaki lain yang matanya menikmati tubuhku. Kusilangkan kakiku sehingga membuat bagian bawah pakaian tidurku semakin naik dan makin banyak pahaku yang terpampang. Melakukan gerakan tadi dengan mataku tetap tertuju pada majalah. Aku tak perlu khawatir adikku dan kawannya yang sedang di komputer akan menyaksikan pameranku, sebab mereka duduk membelakangiku.

Duduk di kursi bar yang tinggi dengan posisi kaki menyilang begini mustinya celana dalamku terlihat sedikit. Tapi Aku tak yakin. Aku ingin dia bisa melihat celana dalamku juga. Untuk meyakinkannya Aku menurunkan kakiku yang menyilang, duduk biasa dengan paha sejajar. Lalu beberapa saat kemudian Aku menggoyang-goyangkan kaki kananku, layaknya dilakukan orang kalau sedang asyik membaca. Gerakan yang membuat pahaku membuka dan menutup bergantian dengan cepat. Dengan begitu anak itu bisa mengintip celana dalamku sekelebatan tapi berulang-ulang. Nah pas lagi posisi membuka Aku menghentikan goyangan pahaku. Kuberi kesempatan kawan adikku itu menikmati pangkal pahaku lebih leluasa. Dari tepi majalah kuintip sekejap mukanya. Benar, pandangan matanya lurus ke arah pangkal pahaku. Wajah itu merah padam. Usahaku berhasil ….

Mendadak suatu aliran hangat menyebar ke seluruh tubuhku. Kurasakan mukaku juga menghangat, dadaku berdesir. Beberapa saat kemudian seluruh tubuhku terasa panas. Aku mengenali perubahan tubuhku yang seperti ini adalah ketika Aku terrangsang. Ini sungguh suatu reaksi yang tak kuduga sama sekali. Aku jadi terrangsang ketika sedang beraksi memamerkan tubuhku kepada anak lelaki remaja. Selangkanganku membasah. Aku begitu menikmati kondisi seperti ini. Ingin rasanya Aku mencopoti pakaianku sekarang juga di depan anak itu. Untunglah, Aku masih mampu mengendalikan diri. Ada adikku di situ.

Dalam keadaan terrangsang begini kadang muncul bermacam ide nakal. Aku tak ingin anak itu hanya melihat celana dalamku, Aku ingin dia bisa melihat lebih. Membuka kaki lebar-lebar ? Ah, akan kelihatan sekali pamernya. Kuingin aksi pamer ini terjadi seolah-olah Aku tak sengaja. Masuk kamar dulu, lepas celana, da duduk lagi di sini ? Ini juga akan terkesan sengaja. Jadi bagaimana ? Aha !

Pahaku tetap membuka sedikit dan Aku tetap pura-pura membaca. Tangan kanan memegang majalah sementara tangan kiriku mulai membuka kancing-kancing di dada. Gerakan tanganku membukai kancing ini tentu saja tak terlihat oleh anak itu karena sengaja kututupi majalah. Hanya dua biji kancing yang kubuka, dan hanya satu sisi belahan baju saja yang kuturunkan, agar memberi kesan tak sengaja. Walaupun begitu buah dada kiriku cukup terbuka dengan sedikit ‘penampakan’ pinggiran bra. Siap eksyen.

Kuturunkan majalah dan kuletakkan ke pahaku untuk tetap membaca, sehingga tubuhku sedikit membungkuk. Ini akan memperjelas penampakkan sebelah buah dadaku kepada anak itu. Sebenarnya Aku ingin melihat wajahnya untuk menangkap reaksi atas aksiku ini, tapi tak usahlah, biarkan saja dia menikmati suguhanku. Lagi-lagi kurasakan desiran di dada serta aliran hangat yang menjalar ke seluruh tubuh. Kali ini rangsangannya lebih hebat. Ingin rasanya Aku bertelanjang bulat sekarang juga di depan anak itu. Ada yang meledak-ledak di dalam tubuhku. Aku ingin kelembaban di bawah sana bisa “diselesaikan”.

Anehnya, Aku tak ingin anak itu yang menyetubuhiku. Aku menginginkan suamiku ! Ah … kemanakah dia ? Masih lamakah dia pulang kantor ? Tak tahan Aku bila membara terus seperti ini. Akupun gelisah. Aku turun dari kursi. Tanpa kusengaja tepi pakaian tidurku ada yang nyangkut di kursi sehingga sewaktu kakiku mendarat di lantai seluruh tubuh bagian bawahku terbuka, di depan anak itu ! Cepat-cepat aku tutup kembali pakaian yang tersingkap itu. Mataku refleks menatap anak itu, dan dia tertangkap sedang melotot fokus ke celana dalamku yang tadi seutuhnya terbuka….

Aku melangkah masuk kamar. Aku ingin tahu apa saja yang telah terlihat oleh anak itu. Kusingkap pakaianku di depan cermin. Kira-kira tadi tersingkap sebatas ini, berarti anak tadi sempat melihat sebagian perutku yang putih, dan … tentu saja termasuk celana dalamku yang membasah di bagian bawahnya yang membuat isinya ‘tercetak’ jelas. Aku tak tahu gimana reaksi anak itu. Yang jelas justru sekarang Aku yang horny …

Dalam kondisi yang gelisah dan “megap-megap” begini apalagi yang bisa Aku harapkan selain kedatangan suami. Setiap terdengar suara mobil yang mendekat rumah, Aku berharap itu mobil suamiku. Kalau kemudian ternyata itu bukan dia makin membuatku gelisah. Akhirnya penantian berakhir ketika suara mobil diikuti dengan suara terbukanya pintu garasi.

Aku langsung memeluknya kencang begitu suamiku masuk kamar.
“Eh…eh… ada apa nih…”serunya.
Aku tak menjawab, langsung mera-raba selangkangannya. Batang itu terasa memanjang. Kulepas ikat pinggangnya dan kubuka rits celananya, lalu kupelorotkan sekalian celana dalamnya. Batang itu sudah keras mengacung.

Tubuhku didorongnya sampai rebah ke ranjang. Dengan sekali renggut baju tidurku terlepas. Dengan bernafsu diciuminya buah dadaku. Aku senang suamiku menjadi buas begini. Inilah yang dari sejam lalu kutunggu. Dipelorotkan celana dalamku untuk menciumi isinya, lalu dijilatinya. Inilah yang Aku suka dari suamiku. Tubuhku berkelojotan bagai ular diganggu.
“Masukin …. sekarang …. Mas ….”desahku.
Dia taruh palkon-nya ke pintu liangku lalu digesek-gesekkan gerak vertikal, kebiasaanya memang begitu sebelum penetrasi. Memang sedap sih, tapi Aku sekarang ini butuh “diisi”, bukan stimulasi lagi.
Pas sapuan palkon sampai dipintu, Aku tarik pantatnya, masuklah kepalanya. Lalu dia mulai menusuk sampai mentok, dan merebahkan tubuhnya di atas tubuhku.
“Dah gak tahan lagi ya say….”bisiknya.
Pertanyaannya kujawab dengan menggoyang pinggulku …

***

Jumat pagi, suamiku yang sedang mengikuti seminar di Bandung menelepon, Aku disuruh nyusul ke Bandung. Gembira Aku mendengarnya sebab memang Aku sudah lama mengimpikan jalan-jalan ke kota berhawa sejuk itu. Banyak yang bilang belanja pakaian di Bandung harganya murah dan banyak pilihan. Segera Aku menelepon kesana-kemari untuk mendapatkan tiket. Pesawat Yogya – Jakarta memang banyak dan harga bersaing, tapi yang ke Bandung hanya satu, dan dengan tarif ‘normal’ pula, tiga kali lipat dibanding harga tiket Yogya-Jakarta. Aneh, padahal Yogy-Bandung lebih dekat. Naik KA, ada 3 pilihan, Aku kirim SMS ke suamiku tentang transportasi ke Bandung.

“Kalo yayang mau lebih baik pake KA, sebab sore cuaca jelek”. Okay, Aku putuskan naik KA Mutiara Selatan saja. Aku sering takut kalau mendarat dengan cuaca buruk. Berangkat jam 12 tengah malam, tiba di Bandung pukul 07 pagi, begitu yang tertulis di tiketnya. Suamiku akan menjemputku di stasiun Bandung.

Kukemas dua stel pakaianku ke dalam travel bag ukuran sedang supaya Aku mampu mengangkatnya sendiri, plus baju hangat menjaga kalau-kalau AC di KA terlampau dingin. Untuk perjalanan kupilih blouse warna cream berkancing dari bahan katun supaya nyaman, dipadu dengan celana panjang casual warna coklat muda. Aku mematut diri di depan cermin. Paduan warna atas dan bawahan membuatku tampil cerah, kulitku tampak makin putih. Model blouse dan celana yang ngepas di badan membuat tonjolan-tonjolan seksi, terutama di dada dan pinggulku. Baju hangat yang kupilih adalah model menyerupai blazer tapi lebih santai, bahan casual juga dan dan berwarna senada dengan celanaku. Terbayang, suamiku nanti pasti akan mengomentari :”Yayang seksi banget …”, lalu diikuti dengan ciuman dan rabaan nakal, perlucutan pakaian satu persatu dan diakhiri dengan hubungan seks yang bersemangat dan menyenangkan. Terbayang pula berpasang-pasang mata lelaki yang akan melotot mengikuti kemana Aku bergerak, seperti selama ini kualami ketika Aku keluar dari rumah. Membayangkan seperti itu cukup membuatku bergairah … Aku berangkat ke stasiun Tugu diantar oleh adikku.

Benar saja, di stasiunpun entah sudah berapa lelaki yang melototiku. Dulu sih Aku merasa risih, tapi lama kelamaan Aku sudah terbiasa, dan selalu bersikap acuh, seolah tak menyadari kalau banyak pasang mata sedang mengamati dadaku. Bahkan akhir-akhir ini Aku justru “menikmati” kalau menyadari bahwa banyak mata menontoni tubuhku. Di dalam keretapun begitu. Sewaktu Aku jalan di gang mencari-cari nomor tempat dudukku, hampir semua lelaki yang kursinya kulewati menatapiku. Seperti biasa Aku acuh saja seolah tak tahu.

Kutaruh tasku di bawah saja supaya Aku nanti tak repot kalau mengambil baju hangat. Nomor seat-ku memang di dekat jendela yang sengaja kupilih agar Aku bisa tidur nanti. Aku berharap kereta segera berangkat sebab sementara ini tempat duduk di sebelahku kosong sehingga nanti Aku bisa berselonjor kaki. Tapi rupanya harapan tinggal harapan, seorang ibu datang menanyakan apakah benar ini nomor 5 B.
“Benar, Bu”sahutku.
“Sini, Le …”kata Ibu itu melambaikan tangannya.
Datanglah seorang anak muda yang tergopoh-gopoh meletakkan tas lumayan besar ke rak di atas lalu duduk di sebelahku. Ibu tadi lalu membuka obrolan basa-basi denganku. Dikatakan anak muda ini adalah anak pertamanya yang baru saja lulus SMU, akan berangkat ke Bandung untuk kuliah. Dia suruh anaknya berkenalan denganku. Lalu ketika terdengar pengumuman kereta segera berangkat, Ibu tadi bilang :
“Titip anak saya ya Mbak …” Titip ? Memangnya Aku mirip Ibu panti asuhan ?
“Iya Bu”basa-basi saja.

Aku masih berusaha untuk mencari tempat duduk yang kosong supaya bisa tidur lebih nyaman. Ketika kereta berangkat Aku bangkit.
“Permisi ya Dik …”
Anak itu menggeser kakinya memberiku jalan. Tadinya anak itu menunduk menatap lantai, tapi begitu Aku melewatinya, matanya langsung melotot ke arah dadaku. Karena memang ketika Aku bergeser mau keluar dari kursi, dadaku berada tepat di depan hidungnya. Aku jalan ke belakang sambil meneliti kursi mana yang kosong. Tak kupedulikan tatapan mata lelaki-lelaki. Tak ada yang kosong. Memang ada 3 kursi yang hanya berisi masing-masing seorang. Seandainya Aku punya keberanian untuk meminta salah satu penghuni kursi yang sendirian itu untuk bergabung ke penghuni sendirian yang lain, Aku akan dapatkan kursi kosong. Tapi Aku tak berani. Atau anak itu saja yang kusuruh pindah ? Ah, sungguh Aku tak enak. Apa boleh buat, terima saja apa adanya. Aku kembali ke tempatku. Lagi-lagi mata anak muda itu memelototi tubuhku. Dan masih saja tak melepas tatapannya meskipun Aku sudah kembali duduk.

Sering dia mencuri-curi pandang. Menoleh kesamping menatap wajahku, lalu turun ke dadaku, dan kembali kedepan. Kalau Aku melongok keluar melalu jendela, dia seolah punya kesempatan untuk menatapi tubuhku.
Tingkahnya inilah yang membuatku punya ide nakal. Anak ini akan kuberi “pelajaran”, seperti yang pernah kulakukan pada teman sekolah adikku. Kalau memungkinkan malah seperti Sylvia Kristel di film “Private Teacher”. Dadaku berdesir membayangkannya. Mulailah kulakukan pendekatan, ajak ngobrol basa-basi. Rupanya anak ini pendiam, hanya bicara kalau ditanya. Mungkin pemalu dia. Aku memikirkan rencana apa yang akan kulakukan dalam show-off ini. Dia tertarik dengan dadaku, okay akan kuberi Dik. Tapi nanti ya, setelah penumpang lain pada tidur dan mas-mas pembawa makanan-minuman itu tak lagi lewat. Sementara ini Aku akan pura-pura tidur dulu. Ternyata Aku tertidur beneran …

Aku terbangun karena kereta berguncang berhenti mendadak dengan suara rem berdenyit. Refleks Aku menoleh kesamping ke “teman tidurku” si anak muda baru lulus SMU. Gotcha ! Mata anak itu baru saja beralih dari dadaku ! Ketangkap basah elo ! Tapi justru Aku yang kaget. Kulihat kancing blouseku yang paling atas sudah lepas. Bagian dadaku begitu terbuka sehingga menampakkan sebagian bulatan dadaku. Pantes saja anak ini memilih tak tidur karena mendapatkan pemandangan yang (mungkin) lebih indah dari mimpinya kalau dia tidur. Matanya yang segar tidak memerah menandakan dia belum tidur.

Rasa dingin AC menyergap tubuhku. Kuambil baju hangat dari tasku dan memakaikannya. Segala gerakanku dari mengambil baju sampai mengenakannya tak lepas dari lirikan curi-curi matanya. Aku coba mengingat-ingat kembali sebelum tidur tadi. Aku yakin sekali tadi tidak melepas kancingku. Apakah lepas sendiri ? Rasanya tidak mungkin. Lubang kancing ini masih kuat, tidak longgar. Apakah anak ini yang melepasnya ? Inilah satu-satunya kemungkinan. Seberani itukah Si pemalu ini ? Mungkin saja. Dibalik sifatnya yang pemalu mungkin saja sesungguhnya anak ini nakal. Kalau benar demikian, aha … Aku merasa mendapat tantangan !

Kereta berhenti cukup lama, sunyi, bukan berhenti di stasiun. Pandangan ke luar gelap gulita. Jam menunjukkan pukul dua lebih seperempat. Rasanya semua penumpang sudah tertidur, tak terdengar obrolan hanya samar-samar terdengar dengkuran yang bersahutan. Rasanya semua penumpang sudah tertidur, kecuali anak di sebelahku ini. Show time !

Sengaja Aku membiarkan kancing blouseku tetap terlepas, hanya mengatupkannya saja. Sedangkan baju hangat hanya menutupi kedua lengan dan bahuku saja, bagian dada tetap terbuka. Aku bersandar dan mulai memejamkan mata, pura-pura tidur sebenarnya untuk membuktikan sangkaanku tentang kenakalan anak ini.

Kereta belum juga jalan, keadaan masih senyap sehingga dengan mengeluarkan suara dengkuran halus cukup untuk mengelabui anak ini. Cukup lama Aku “mendengkur” belum ada kejadian (memangnya Aku mengharapkan kejadian apa?). Tapi tunggu dulu … serasa ada yang menyentuh blouseku. Aku deg-degan, tapi tetap pura-pura mendengkur. Benar. Terasa olehku ada yang membuka belahan blouse yang tadi kukatupkan. Siapa lagi kalau bukan anak nakal di sebelahku ini. Aku makin berdebar, membuat dadaku makin naik-turun. Rasanya belahan blouseku sudah terbuka lebar, lalu Aku menunggu aksi dia berikutnya.
Perkiraanku dia akan menyusupkan telapak tangannya kedalam blouse yang sudah terbuka. Aku menunggu, dengan dada yang berdegup. Kalau benar dia akan merabai buah dadaku, apa reaksiku ? Menampik tangannya diikuti dengan kemarahan besar atau justru membiarkannya ? Let see. Tapi aksi itu tak kunjung muncul. Penasaran Aku dengan amat hati-hati membuka sedikit mataku. Benar. Dari sela-sela bulu mataku Aku bisa melihat blouseku sudah terbuka lebar, bulatan buah dada kiriku hampir seluruhnya tampak. Mengetahui keadaan ini tubuhku menghangat, darahku serasa lebih cepat mengalir. Aku mulai gelisah.

Sampai kereta jalan lagi tak terjadi apa-apa. Anak ini hanya ingin melihat saja rupanya, silakan Dik, nikmati buah ranum kebanggaanku ini. Rasanya Mbak akan keberatan bila engkau ingin merasakan kehalusan kulit dadaku, atau ingin merasakan sintalnya buah kembarku ini dengan meremasnya. Aku ingin engkau tahu bahwa putingku sudah mengeras … silakan. Tapi sekian menit Aku menunggu lagi, keberanianmu tak muncul juga … Atau engkau akan membuka kancing blouseku lagi ? Lakukan saja. Aku akan diam tak berreaksi.
Sayangnya Aku memakai celana panjang. Bila saja Aku memakai rok, tak segan Aku akan mengangkat kakiku hingga tersibak dan engkau akan tahu Aku memiliki sepasang paha yang selain putih mulus juga berpenampang bulat. Lampu ruangan kereta yang cukup terang mungkin cukup buat kamu untuk mengamati bulu-bulu halus di pahaku. Khayalanku buyar ketika kurasakan sentuhan di dadaku. Berdebar Aku menunggu apa yang akan diperbuat oleh anak yang tampaknya alim tapi ternyata nakal ini. Tapi Aku tetap memperdengarkan dengkuran halusku.

Nah…. kamu nekat juga akhirnya. Bisa kurasakan kain blouseku tertarik-tarik. Sedang apa dia? Perasaanku dia sedang membukai kancing, meneruskan pekerjaan yang tadi tertunda. Ayo, setelah terbuka kancingku satu lagi, apa yang akan kamu lakukan… Ternyata tak ada apapun. Dinginnya AC kereta menyapu ke dadaku yang 3 kancingnya terbuka. Setelah beberapa saat tak ada sentuhan apapun, kubuka ujung kelopak mataku sedikit. Belahan blouseku memang telah tersibak ke kanan-kiri, sebagian bra-ku tampak, juga belahan dan bagian bulatan kedua buah dadaku. Selain itu, ada juga bayangan yang menerpa wilayah dadaku. Perkiraanku, anak nakal ini duduknya lebih mendekat ke arahku sedang menikmati hasil usahanya. Artinya, Aku telah berhasil mencapai tujuanku mempertontonkan tubuhku kepada remaja ini. Silakan, nikmati sepuasmu, Nak … Seperti yang pernah terjadi, kondisi seperti ini membuatku “gerah”, yaitu awal dari perasaan terrangsang.

Dan, kurasakan sentuhan di dada kiriku. Aku mengintip melalui sela-sela bulu mataku. Tampak jari-jari anak ini menyentuh buah dadaku. Awalnya hanya jari telunjuk, kini keempat jarinya sudah mengusapi buah dadaku. Kegerahanku mulai merambat naik, kurasakan di bawah sana mulai melembab. Aku bimbang, akankah anak ini kubiarkan terus menjamah buah dadaku atau Aku stop dengan elegan ? Entah kenapa kali ini Aku tak keberatan jika anak ini nantinya akan meremasi buah dadaku. Cuma yang Aku khawatirkan, dalam kondisi yang telah terrangsang begini tentu saja puting dadaku telah mengeras. Lulusan SMU ini kemungkinan besar telah tahu arti mengerasnya puting buah dada. Aku tak mau dia tahu bahwa Aku telah terrangsang.

Sementara ini masih kubiarkan dia mengelusi buah dadaku di wilayah yang terbuka saja. Kalau nanti dia berani menyusupkan jari-jarinya ke balik bra, baru Aku akan bertindak. Tapi …. kini ujung jarinya telah menyentuh pinggiran cup bra-ku. Harus ada tindakan sekarang. Bagaimana caranya supaya tak kelihatan Aku sedang pura-pura tidur ? Okay, kupejamkan mataku, lalu kupalingkan kepalaku sedikit ke arahnya. Berhasil. Dia menarik tangannya dari wilayah dadaku. Rupanya dia tak berani lagi menjamah, setelah sekitar seperempat jam kemudian tak ada lagi tangan dia. Kuperkirakan dia sekarang hanya berani memelototi saja.

Beberapa saat berikutnya kurasakan kursi kereta ini berguncang-guncang kecil dan teratur. Aku yakin ini bukan guncangan gerbong kereta, tapi “gempa lokal”. Dan “epicentrum gempa” ada di sebelahku, tidak puluhan kilo di bawah permukaan laut tapi hanya beberapa senti di atas permukaan kursi kereta. Ukuran gempa tak sampai satu skala Richter. Apa yang sedang dia lakukan sekarang dengan nafasnya yang memburu ? Tak sampai dua menit gempa tiba-tiba berhenti. Lalu beberapa detik berikutnya hidungku menangkap aroma khas, aroma yang sama ketika suamiku menginginkan variasi oral dengan diakhiri “membasuh” mukaku.

Aku jadi penasaran ingin meyakinkan sangkaanku. Kalau sangkaanku ini benar, alangkah beraninya anak ini. Kubuka kelopak mataku sedikit seperti tadi. Ternyata perkiraanku benar. Samar-samar kulihat penis tegang anak ini nongol dari rits celananya, dan di ujung batang yang membasah ini telapak tangan kirinya sedang menampung tetesan-tetesan akhir pancaran cairan yang beraroma khas tadi … Kututup mataku sebelum dia menoleh. Gerakan-gerakan tubuhnya menunjukan dia sedang sibuk berberes. Lalu sunyi, tak ada gerakan apa-apa. Kubuka lagi kelopak mataku, dia tak ada. Mungkin sedang ke toilet. Aku tersenyum penuh kemenangan ….

Aku berberes sedikit, hanya mengatupkan sibakan blouse tidak mengancingkannya. Belahan blazer masih teribak. Lalu Aku mengubah posisi duduk dan pura-pura tidur lagi. Setelah kurasakan dia kembali duduk, Aku pura-pura terbangun dan mengatupkan blazer dan menoleh ke arahnya. Lagi-lagi dia tertangkap mata mengamati dadaku. Aku tak merapikan kancing-kancing blouse-ku yang terbuka sebab Aku harus tetap bersikap seolah tak terjadi apa-apa. Nanti akan kurapikan di toilet saja. Aku bangkit.
“Permisi ya…”
“Oh…. silakan, Tante”
Kakiku melewati ujung dengkulnya dengan sedikit membungkukkan tubuhku. Tentu saja dadaku melewati hanya beberapa senti di depan hidungnya. Dengan blouse yang belum terkancing, dia bisa menikmati buah dadaku dari jarak yang amat dekat. Nikmati sepuasmu, ini adalah sajian terakhir, kataku dalam hati. Di toilet Aku merapikan blouse-ku, terlihat putingku masih menegang.

***

Di stasiun suamiku sudah menunggu sejam, keretanya memang terlambat. Aku menolak semua usul suamiku untuk mampir ke FO atau ke restoran.
“Langsung ke hotel aja, mo mandi dulu”kataku. Padahal sebetulnya Aku ingin cepat-cepat sampai di hotel agar penis suamiku bisa langsung “mengisi” di bawah sana yang masih lembab dan megap-megap.

Begitu kamar pintu hotel tertutup, Aku langsung menubruk suamiku, kupeluk erat-erat, sangat kencang.
“Katanya mo mandi dulu…..”katanya.
“Engga, mo ini dulu”kataku sambil menjamah selangkangannya. Batang yang dari semalam kurindukan mulai memuai.
“Aku juga pengin banget….”katanya.
Suamiku langsung melepas seluruh pakaiannya dengan cepat sampai telanjang bulat. Aku baru sempat melepas celana panjang dan CD-ku saja ketika suamiku membopong tubuhku dan “melempar”kannya ke ranjang. Ditindihnya tubuhku. Dirabanya kelaminku.
“Uh…. dah basah….”katanya.
Dia bangkit, bertumpu pada kedua lututnya dan lalu menusuk masuk. Aku menikmati pompaannya. Tubuhku serasa melayang-layang… Tak sadar Aku merintih dan melenguh lebih keras dari biasanya sampai suamiku menutup mulutku ….
Suatu persetubuhan yang sungguh begitu nikmat.
Kami baru menyadari bahwa ternyata pintu kamar belum tertutup rapat. Entah ada orang kebetulan lewat atau tidak ketika kami tadi bersetubuh. Yang jelas suara rintihanku tadi pasti nyampai ke mana-mana.
Dia bangkit hendak menutup pintu. Aku cegah sehingga kelamin kami masih bertautan.
“Biarin ajalah, Mas…”kataku.
“Entar ada yang lewat …..”
“Sayang mo dilepas”kataku.

Sebelum mandi kami melakukan lagi, maklum sudah 3 hari tak ketemu. Juga dengan pintu yang kubiarkan tak rapat tertutup, tanpa suamiku tahu. Dasar eksibisionis …..

Malemnya, Aku diajak ke suatu pertemuan reuni kawan sekolah suamiku di suatu ballroom di hotel Jalan Asia Afrika. Tak kusangka, Aku ketemu dengan kawan lama, Lina namanya, yang datang bareng suaminya. Mereka tinggal di Jakarta. Dia masih cantik seperti dulu, dan kulitnya tambah putih saja. Setelah ngobrol-ngobrol lama,
“Udah berapa anakmu?”tanyaku.
“Belum …. ”
“Tapi masih rajin bikin ‘kan ?”
“Iya dong ….”
“Perasaan elo jarang keluar kota deh….”kataku.
“Iya, sekarang kan ada keponakan suami yang tinggal di rumah, jadi gue bisa bebas kemana aja. Kaya’nya elo tahu deh keponakan suamiku. Yang dulu gue kenalin waktu gue nikah”
“Yang mana ya….”Aku coba mengingat-ingat.
“Didin, yang kekar itu…”
“Oh iya, gue inget. Anaknya Kang Sastra kan?”
“Yup”
“Gimana sekarang dia?”tanyaku.
“Masih kekar, tinggi lagi. Sekolah di SMU XX”
“Tambah ganteng dong dia”
“Pasti …. kuat lagi…”katanya sambil mengedipkan mata penuh arti.
Aku sih maklum saja. Aku tahu gimana Lina, selalu “haus” ….

TAMAT
Comments (0)
Cerita Antara Kita 9:40 am

Anak kost mamaku

wow toketnya…
Cihuuyyy! Aku mau pulang ke Indonesia! Kangennya aku sama kota Kembang tempat kelahiranku, teriakan kernet angkot “Dago! Dago! Dago, Neng?” Kangen sama cowok-cowok Indonesia yang keren. Kangen sama makanan Indonesia yang khas. Yep! It’s time for serious ngeceng dan makan sebanyak-banyaknya. Bukannya aku jarang pulang, walaupun tidak rutin, aku sering pulang di saat liburan sekolah, kali ini sedikit lain karena tidak ada lagi ikatan sekolah.

Akhirnya aku lulus kuliah beberapa bulan yang lalu. Cihuy lagi! Good Bye, School! Tak mungkin aku akan balik lagi ke tempat yang disebut learning institution; dingin-dingin/panas-panas harus ke kampus, ngantuk/lelah harus belajar, lapar/haus harus ditahan, di saat ujian aku hanya tidur tiga jam sehari. Temanku malah sampai kencing darah karena keseringan menahan pipis (demi belajar?). Hhhh… “sigh” higher education sucks! Mendingan hidupku yang sekarang, duduk di office yang nyaman dan bekerja menurut jadwalku sendiri. Yah, inilah yang namanya bersusah-susah dahulu, bersenang-senang kemudian.

Anyways, ini terjadi ketika umurku 21 tahun. Setamat kuliah di US, aku sempat kerja part time beberapa bulan. Aku belum menginginkan pekerjaan yang tetap disebabkan oleh alasan kepingin istirahat. Personal status pada waktu itu; sudah punya pacar, seorang pria bernama Venis (not with the P, but V) kepada siapa aku telah mempersembahkan milikku yang paling berharga, namun kini rasanya aku inginkan hubungan ini berakhir. Yang namanya spiritual, emotional, intellectual connection itu tidak terasa di antara kami, mungkin yang eksis cuma intellectual. Paling sulit memang mendapat restu dari Venis untuk pergi jauh darinya berbulan-bulan. Sudah kukatakan kepadanya bahwa aku perlu “break” (hei! aku perlu membuka kesempatan bagi pria-pria lain untuk mendekatiku dong). Tapi dia tidak setuju. Ya sudah, aku tinggal saja.

Keberangkatanku agak mengharukan. Rasa kehilangan itu ada, terhadap kekasih yang aku tinggal (Venis adalah lelaki yang mengisi hatiku setelah Ade, some of you may already know the history with him). Entah apa yang akan terjadi jika aku balik lagi ke negeri ini, akan bersama lagikah kami? Aku sempat meneleponnya waktu transit di Changi untuk menyatakan kerinduanku. Tapi, perasaan galauku lenyap begitu aku melihat Mama menjemputku di bandara Cengkareng. Ketika aku keluar dari bandara, suasana jauh berbeda. Wuihh! gerahnya kota ini. (dan… belum apa-apa sudah lihat cowok kece di restoran!)

Pertama-tama yang kulakukan setiba di Bandung yaitu merayu Mama sampai dia membelikan mobil untukku. Pada mulanya dia memang memenuhi permintaanku, tapi yang dikabulkan; Charade, yang mesinnya cuma 1000cc itu! Kontan aku protes keras. “Maaa, sing baleg atuh. Masa Khristi disuruh bawa mobil sekecil itu sih? Mana aman? Ditubruk orang langsung mati deh berikut penumpangnya. Di Amrik mobil Khristi ampir 3000cc!” Permintaanku memang macam-macam, perlu yang otomotis pula, “Sini kan di mana-mana macet melulu, entar betis Khristi gede sebelah gimana?!” Aku masih merengek-rengek. Banyak pertentangan yang keluar dari mulut Mama yang dinamakan “issues”, mengenai jalan di Indonesia yang sempit-sempit, bahwa dia juga mesti pinjam uang sana sini, bahwa Papa kurang setuju. Ya sudah deh, aku mengalah, habis anak Mama sih. Akhirnya aku dapat mobil Honda Civic, yang kalau tidak salah nama resmi Indonesianya “Genio”. Lumayan walaupun bukan brand new, aku cukup puas, otomatis lagi.

Dengan modal mobilku ini, aku jalan-jalan kesana kemari sendiri, sambil mengenali kembali jalan dan tempat yang sudah lupa-lupa ingat. Aku tidak suka disupiri, not my style. Well, dengan bekal pengalaman nyetir di Amerika, aku nekat keluyuran di jalan-jalan yang sempit dan tidak beraturan itu, kadang ditemani kadang tidak menghindari lalu lintas yang ramai polisi sebab aku tidak punya SIM (akhirnya tertangkap ketika ada razia). Aku menemui beberapa teman lama, mengunjungi sanak saudara, keluar masuk pusat-pusat perbelanjaan, fitness, dan lain sebagainya.

Ada juga beberapa tawaran pekerjaan datang dari kenalan. Aku tolak dengan halus. Hmph! dalam hati aku bersungut-sungut, yang benar saja, untuk apa aku kerja di sini, kalau mau cari duit tentunya aku akan cari pekerjaan di negeri Paman Sam.

Kadang-kadang aku kesepian tidak ada teman di siang hari, kawan-kawanku ternyata sibuk semua, entah sibuk benaran atau pura-pura. Biarlah, mereka dan aku memang susah menyambung lagi. Aku hanya memiliki sepupu yang dari dulu dekat denganku dan dua teman dekat. Seharusnya kakak laki-lakiku bertanggung jawab, aku ingin dia mengenalkanku pada teman laki-lakinya dan harapanku salah satu dari (mereka) keluar sebagai “the perfect guy”, supaya aku kecantol padanya dan tidak usah balik lagi ke US. Sialnya, sampai sekarang yang dia kenalkan cuma satu, dan aku tidak berminat.

Pernah ketika pergi dengan segerombolan kawan-kawan yang lain, aku bertemu kakak kelasku yang pernah aku taksir dulu. Selama tiga tahun di SMP aku memperhatikannya! Entah dia mengetahui hal ini atau tidak, tapi hhhh… lemas aku ketika melihatnya lagi sekarang, yang jelas dia jauh dari apa yang kubayangkan, sangat mengecewakan, tsk, tsk, tsk! Kelihatannya hidup yang susah telah merubah manusia.

Di belakang rumah kami di daerah Sukajadi, Mama membuka bisnis sendiri yang oke punya. Mama memang hebat. Dia terlatih untuk memanfaatkan banyak hal dalam segala ketidakmampuannya, terutama di saat-saat Papa “kurang” bertanggung jawab. Dia telah mampu me-manage beberapa unit di belakang rumah kami dan memutarnya menjadi tempat kost, yang sekarang jumlah kamarnya ada dua puluh buah, semuanya senantiasa terisi. Penghuninya melebihi 25 orang, ada beberapa kamar yang dihuni dua orang. Mereka umumnya terdiri dari pria dan wanita berusia 17-27 tahun, bekerja atau kuliah, belum nikah. Ada beberapa jenius yang kuliah di perguruan tinggi terkenal, banyak yang sudah tinggal di sini bertahun-tahun, malah ada yang ketemu jodoh di sini dan menikah lalu pindah keluar untuk membina rumah tangganya sendiri. Macam-macam orang dari seluruh pelosok negara Indonesia.

Lama-lama tinggal di rumah, aku jadi mengenali penghuni kost di belakang. Kebanyakan dari mereka tidak ada di rumah di siang hari. Tapi menjelang sore, ruang dapur, beberapa ruang duduk, ruang tamu, bahkan di lorong-lorong yang tidak tersedia kursi pun menjadi semarak. Mereka sibuk makan, masak, ngobrol, main kartu, masuk-masuk kamar orang lain dan sok menjadi tuan rumah di kamar sendiri.

Aku menjadi akrab dengan beberapa dari mereka, salah satunya adalah Randy. Kami memanggilnya Duren. Duren hanya beberapa bulan lebih tua dariku, asal Jakarta, di Bandung bekerja sambil kuliah, orangnya paling ngocol. Wajahnya biasa-biasa saja, tapi bodinya oke banget, pantatnya terlihat padat berisi (later I found out bukan cuma pantatnya yang padat berisi). Setiap hari dia cuma ngantor beberapa jam dan selebihnya lebih sering di rumah. Dialah yang sering kuajak menemaniku keluyuran. Katanya dia sudah kost di sini sejak aku pulang tahun lalu. Yang lainnya adalah Donat, pelesetan dari Doni, penghuni terlama di sana, umur 23-24, tampan, kulitnya putih sekali, otaknya super encer, sayangnya agak pemalu. Menurutku dia benar-benar pemalu. Kami senang sekali menggodanya dan “menodong” makanan di kamarnya.

Well, masih banyak lagi tenant-tenant (pria atau wanita) yang lucu atau “bagus”, tapi umumnya sudah punya pasangan. Seperti Fendi dan Tikno yang pacarnya manis dan imut. Tentunya aku tidak punya niat apa-apa terhadap mereka, sampai pada suatu hari. Malam Minggu, rumahku sepi, adik dan kakakku pergi, Papa keluar kota, Mama barangkali arisan. Adikku yang perempuan (masih ABG) kencan dengan pacarnya, hmmm… entah dia masih perawan atau tidak. Aku sendiri lebih memilih duduk di kamar baca novel.

Teman kakakku tadi menelepon mengajakku keluar, tapi aku malas. Terakhir aku keluar bersama dia minggu kemarin. Bukan salahnya memang kalau di acara itu salah satu ban mobilnya tertusuk paku sehingga acara date kami jadi berantakan, setengah jam dia harus berutak-utik dengan ban menyebabkan tangan serta bajunya hitam-hitam.

Well, guess what? Another incident. Baru dua hari yang lalu, aku dibonceng motor oleh seorang temanku yang lain dalam rangka cari makan malam. Tahu-tahu setelah makan, datang ide gila. Bukannya pulang, kami berputar haluan ke Lembang, hanya berbaju lengan pendek tanpa jaket. Selain badan beku kedinginan, motor pun ngadat dalam perjalanan pulang, di tempat sepi lagi (sampai ngeri aku).

Ada apa sih antara aku dengan mobil/motor teman-temanku? Tapi yah, sedikit banyak inilah sebabnya aku memilih diam di rumah yang tenang. Bosan baca buku, aku menghampiri cermin besar lemariku. Aku menatap wajahku sendiri, lalu tersenyum menunjukkan sederetan gigi putih, terlihat olehku senyumku sendiri yang menawan, yang ampuh memikat hati lawan jenisku. Bahkan gynekolog-ku yang tampan namun sudah berumur memandangku dengan sungguh-sungguh dan berkata, “Khristi, you have a really pretty smile!” Aku lepaskan setiap potong pakaianku, lalu kulihat bayanganku di sana. Wajahku memang cantik, tidak sedikit orang yang bilang begitu. Tubuhku yang cukup tinggi semampai terlihat jauh dari buruk. Aku harus bersyukur dengan pemberian yang ini, aku bisa makan apa saja yang aku suka sebanyak-banyaknya, tidak perlu diet, dan bentuk tubuhku tetap langsing (olahraga tetap diperlukan tentunya). Aku melarikan tangan dan jariku dari leher ke dada, berputar di bukit dada, kedua tanganku meremasi buah dadaku dan desahan-desahan lirih mulai keluar dari mulutku. Aku jadi terbawa nafsuku sendiri.

Aku berjalan mendekati jendela-jendela besar yang terbuka. Angin malam bertiup memasuki kamarku, namun justru terasa sejuk sekali menerpa kulitku. Aku duduk bertengger di salah satu jendela itu. Kaki kanan di bagian dalam kamar dan kaki kiri terjuntai bebas di luar. Di jendela inilah aku sering memuaskan diriku sendiri, menggunakan vibrator yang berbentuk kemaluan Venis (hadiah dari Venis tentunya) dan melakukan solo seks disaksikan genting-genting rumah dan langit nan biru, dan kadang-kadang kucing yang lewat mengejutkanku (atau mungkin juga oleh penghuni kost yang kebetulan melongokkan kepalanya keluar?). Malam itu yang kubayangkan adalah Riko, cowok kece yang sempat mengejarku di masa kuliah, namun kutolak karena aku sudah bersama Venis. Hmm… minggu depan aku akan ke Jakarta menemuinya.

Beberapa menit kemudian, berahiku yang tadi menggebu-gebu mereda. Aku berpakaian kembali celana pendek jeans yang lusuh, kaos putih tak berlengan serta kemeja kedodoran, tanpa pakaian dalam sama sekali. Aku ambil semua uang Rupiahku di dompet, lalu turun menuju belakang rumah. Jam-jam begini di malam Minggu, tentunya beberapa cowok-cowok yang kost sedang berjudi. Aku akan ikut main kali ini. Selama ini aku hanya nonton, pernah iseng-iseng aku sampaikan bahwa aku ingin ikut serta, mereka tidak mengijinkan.

Ini memang sudah menjadi aktivitas rutin di sini. Kadang mereka berjudi nonstop sampai Senin pagi, akhirnya bolos kerja. Kadang, yang memiliki pekerjaan tidak sungkan menghabiskan seluruh upah sebulannya dalam satu malam. Benar-benar edan! yang kalah dan uangnya ludes tentunya harus berhenti main, kecuali ada yang meminjamkan. Tetapi sebaliknya, lain dengan yang kualami di Las Vegas, yang menang tidak bisa keluar begitu saja, dia harus main sampai semua sepakat permainan berakhir.

Ada empat orang yang sedang main; Randy alias Duren, Tikno dan Fendi yang masing-masing menarik namun sudah punya pacar, Jojon yang berduit dan agak gemuk; dan seorang yang cuma nonton; Tompel alias Thomas yang berkacamata dan tertua umurnya. As you can see, semua cowok-cowok yang single diberikan nickname. Donat yang pemalu bersama dua orang lain ada di ruang satu lagi sedang nonton TV, mereka tidak pernah ikut-ikut judi.

Aku menempatkan pantatku di kerumunan orang itu. Huh! Bau sekali! Semua perokok, kecuali Duren, dan mereka dengan seenaknya meniupkan asapnya kemana saja dengan cuek bebek. Sambil mengendus-endus di balik kemejaku mencoba menghirup udara yang lebih segar, aku mendongkol dalam hati. Aku sudah komplain satu dua kali, tapi tentu saja percuma. By the way, what is it with cigarettes and Indonesian people?

Setelah berbasa-basi, aku menyerukan, “Ikut main!” Beberapa cowok memandangku dan tersenyum, yang lain lebih konsentrasi ke kartu di tangannya. Eh, sialan, aku memang kurang dianggap, disangkanya aku anak kecil atau apa. Aku berbisik ke Duren (yang lebih dekat denganku) bahwa aku serius ingin main. Dia yang biasanya baik pun tidak begitu peduli kali ini. Dasar! cowok-cowok bila sedang terbawa hobby memang begitu, hobby menjadi nomor satu, well… sebetulnya ini lebih mirip addiction, Tikno dan Fendi bahkan sebelum jam 10 malam telah memulangkan pacarnya masing-masing supaya bisa berjudi.

Kutunggu sebentar. Beberapa hanya melemparkan pandangannya padaku, terkadang ke arah tungkaiku yang tak tertutup. Kesal juga aku! Aku tanya lagi, “Ren, kenapa sih aku enggak boleh ikutan?”
“Jangan. Nanti Mama marah,” katanya.
“Ini uangku sendiri.”
Yang di kantong memang uangku sendiri, tapi aku melupakan bahwa Mama baru saja membelanjakan uangnya sendiri untuk mobilku.
“Ikutan! Kalah ya kalah! Aku nggak mau cuma duduk bengong!” tekatku.
Aku menanggalkan kemejaku dan mengeluarkan semua uangku.

Nah, sekarang semua cowok yang ada lima orang mengalihkan perhatiannya padaku. “Kartu baru, aku masuk!” Aku tahu mata mereka sempat menangkap dua tonjolan di dadaku yang mengacung di balik kaosku. Ukurannya tidak besar memang, tapi cukup menggiurkan, who says they have to be big to be beautiful? Kaos putih polos yang pas di tubuhku (tidak ketat dan tidak juga kedodoran) seakan menunjuk ke mana exactly puting susuku terletak. Biar saja, aku memang bukan anak kecil lagi, pasti dengan begitu mereka takkan menolak aku main. Kalau masih menolak, aku akan pergi! Hayo! enggak rela kan?

Lima pasang mata lelaki di sekelilingku mulai sering melirikku. Pikiranku mulai nakal. Walaupun aku bukan penggemar group seks, berada di tengah lima laki-laki atraktif dan menjadi pusat perhatian mereka tak enggan membuat darahku naik. Aku tergoda untuk makin menarik perhatian mereka. Sambil menunggu permainan itu berakhir, aku melipat kaki dan tanganku dengan gayaku yang khas, perlahan tapi pasti, memperlihatkan lipatan antara paha dan pantatku dan juga memperjelas bentuk buah dadaku. Kini mereka tak malu-malu “menonton” aku. Aku tersenyum menang. Aku melarikan lidahku membasahi bibirku. Lalu sambil mengikat rambutku ke belakang membuat buntut kuda, perlahan-lahan aku membuka kedua pahaku dan menutupnya kembali; aku bikin scene seperti Sharon Stone di Basic Instinct di mana dia memamerkan bulu kemaluannya saat diinterogasi polisi-polisi. Hmm… aku sangat menikmati wajah-wajah terkejut dan takjub di sekelilingku, lima pasang mata semua tertuju ke arahku, tak terhalangi meja karena tinggi meja tengah itu hanya selutut. Aku yakin beberapa dari mereka sempat mengintip sesuatu di selangkanganku. Mungkin hanya sedikit bulu-bulu halus, mungkin juga bibir kemaluanku… entahlah, aku tidak pernah double check. Tapi hasilnya: Instant Erection.

Berkali-kali aku praktekan “show” ini di depan pacarku seorang; tapi kini di hadapan lima laki-laki strangers, oh…! sensasi yang muncul lima kali lebih nikmat. Imajinasiku mengalir dengan bebas… andai musik jazz di latar belakang diubah menjadi freestyle/house music, rasanya aku bisa menari-nari mempertunjukkan strip show. Aku berdiri di tengah-tengah mereka menggantikan kartu-kartu menelanjangi diriku sendiri, sambil meliuk-liukkan pinggulku aku singkapkan kemolekan satu persatu anggota tubuhku dari yang “wajar-wajar saja” ke yang paling private, semuanya terungkap tidak menyisakan sedikitpun tanda tanya dalam imajinasi mereka. Lalu berakhir dengan aku di atas meja disetubuhi mereka satu demi satu bergiliran, atau… tubuhku tak berpijak, terayun-ayun di udara sementara dipapah tangan-tangan kokoh sebagian dari mereka dan sebagian lagi bergerak memuaskanku.

Ahem… well, tidak sampai itu tentunya. Bahkan, bukan seperti biasanya aku begini, aku adalah orang yang lebih mengandalkan otakku untuk menarik perhatian cowok, ini adalah pertama kalinya aku berbuat kotor. Dari dulu aku memang anak remaja yang polos, sampai bertemu Venis. Dia telah banyak mengenalkan aku hal-hal yang baru.

Di tengah ruang itu kami hanya berbincang-bincang, sedikit ngeres. Menyegarkan memang, apalagi melihat batang kemaluan Tikno yang berdiri tegang dengan bebas, dia sama sekali tidak berusaha menutupi, berbeda dengan Jojon yang ngumpet-ngumpet membetulkan letak kemaluannya. Hihihi… Walaupun duitku hampir ludes, aku sempat mengorek banyak dari mereka. Dengan gencar bertanya ini itu (mengenai topik-topik yang hanya pantas dibahas oleh orang dewasa), namun berkelit jika ditanya. Well, dari sini aku mendapat pengetahuan yang lumayan, termasuk terminologi seks Indonesia yang tak pernah kudengar sebelumnya.

Aku teringat Donat. Untung Donat sedang nonton TV di ruang lain. Laki-laki yang baik itu tentunya sudah pingsan jika melihat adegan tadi, atau mungkin kabur menjauh. Pernah satu kali aku mengenakan blouse v-neck yang menunjukkan sedikit bukit atas dadaku, dia sampai menelan ludah berkali-kali. Aku berani bertaruh dia tidak pernah menyentuh wanita seumur hidupnya.

Seminggu kemudian. Di suatu hotel di Jakarta

Malam hari di atas ranjang, aku merenungkan Duren yang sedang berbaring di sofa, tidak berselimut atau berbantal. Dia tidak tega meninggalkanku sendiri menginap di hotel. Rencananya dia akan pulang ke rumah orang tuanya sendiri di Jakarta, tapi di menit-menit terakhir dia ingin menjagaku. Kelihatannya dia mengkhawatirkan aku. Besok Riko, cowok yang ganteng itu akan datang menemuiku di hotel ini. Mungkin Duren takut Riko akan datang malam ini juga mengetahui bahwa aku sendirian. Mama memang mempercayakan aku kepada Duren. Mulanya Mama menyuruhku menginap di rumah saudaranya kalau aku ingin jalan-jalan keliling Jakarta tapi aku tidak suka numpang-numpang di rumah orang lain.

Aku tertidur. Tengah malam jam 2 aku terbangun. Aku lihat Duren masih di sofa, sedang berusaha tidurkah? Kasihan dia, tentunya kedinginan. Kupikir dia baik sekali, rela kedinginan dan tidur di sofa, dan tidak sedikitpun keluhan keluar dari mulutnya. Cowokku sendiri tentunya akan protes keras disuruh tidur di sofa.
“Ren, matiin aja AC-nya,” aku usul.
Dia bergerak memberi respon. Ternyata dia memang tidak bisa tidur.
“Engga usah Khris, nanti kamu kepanasan.”
Aku memang benci kepanasan, dimana-mana aku selalu menyalakan AC.
“Tidurnya enggak nyaman ya?”
“Nggak papa kok.”

Setelah kupikir-pikir, akhirnya aku menawarkan dia untuk tidur di sisiku. Tawaranku diterimanya. Duren tidak tidur, aku tahu. Kami berdua tidak bisa tidur. Aku sendiri tidak memikirkan akan kemungkinan yang bisa terjadi. Selama ini aku dekat dengan Duren, kadang-kadang di saat-saat casual aku menempatkan tanganku di pahanya, atau tangannya memegang bahuku. Dia tidak pernah kurang ajar, bahkan setelah kami berjudi bersama minggu lalu. Tapi tiba-tiba kesunyian itu pecah, Duren menindihku, menyerbu leher dan wajahku dengan ciumannya yang bertubi-tubi. Dia mendesah, “Napasmu membuat aku tidak bisa tidur.” Ciumannya enak sekali, panas dan penuh bara, terasa lain dari yang pernah kurasakan. Memang aku kaget, tapi setelah kaget itu hilang, aku tidak menolak meskipun tidak juga membalas. Tangannya menyerbu dada, pinggang dan pantatku. Aku merasakan tonjolan keras di celananya menekan-nekan tubuhku. Sshhhh… tak tahan aku tidak menyentuhnya, tanganku menyusup ke dalam celana pendeknya dan meremas bagian itu dan melepasnya kembali. Ciumannya turun ke dadaku sambil berusaha menelanjangi bagian itu. “Oh… jangan Ren, jangan ke sana,” aku mempertahankan bajuku sambil menggelinjang geli. Duren berdiri melepas semua baju dan celananya sendiri, lalu tangannya beralih dengan cepat memelorotkan celana pendekku tanpa sempat kucegah. “Ren! tolong jangan lakukan,” aku memohon. Ciumannya memang sedap, tapi aku tidak sudi disetubuhinya. Duren kembali mencumbu bagian wajahku.

Aku mulai berpikir. Apa yang sedang kulakukan? Selama ini hanya ada satu pria yang pernah menyetubuhiku. Dia adalah kekasihku sendiri. Setelah mendapatkan hatiku, dia harus berjuang keras berbulan-bulan untuk mendapatkan tubuhku. Lantas, siapa orang di hadapanku ini? Kenal juga baru-baru ini. Tidak bisa! aku menjerit. Ren, pergi kau. Aku tidak sehina itu. Aku dorong tubuhnya kuat-kuat. Kakiku menendang-nendang di udara. Rupanya nafsu Duren yang sudah tinggi mengalahkan segala-galanya. Dengan segenap tenaganya, dia menekan tubuhku, berhasil mengoyakkan celana dalamku dan mengarahkan batang kemaluannya ke arah liang kemaluanku. Belasan kali dia mengarahkan, belasan kali pula aku mengelak. Akhirnya di saat aku lelah, dia keluar sebagai pemenang. Dia menghunjami tubuhku dengan barangnya yang besar. Besar dan panjang sekali. Aku tak berdaya. Hatiku sakit, kewanitaanku perih. Aku hanya memejamkan mata dan menangis. Semenit kemudian, dia berkata, “Jangan khawatir, aku akan bertanggungjawab.” Heran, kubuka mataku. Nyatanya dia sudah selesai.

Aku berbaring lama sambil berpikir. Apakah Duren sudah menumpahkan air maninya di dalam tubuhku? Rasanya terlalu cepat. Tapi dia bilang dia akan tanggung jawab? Apa maksudnya? Hah! maksudnya kalau aku hamil? Apaan? Aku tidak mau dinikahinya sekalipun aku hamil. Sekolahnya belum selesai dan kerja pun belum mapan. Suara “Maaf” terdengar sayup-sayup. “You used me,” desisku.

Setelah kurasakan tenagaku kembali, aku berdiri, memakai celanaku. Lalu ke dekat pintu memungut sepatuku yang bertumit 10 senti. Bukan tumit lancip yang mampu melubangi kepala Duren, tapi cukup keras untuk membuat tubuhnya biru-biru. Dengan histeris, aku menyerangnya dengan sepatu itu. “Kalau pacarku tau, dia akan terbang ke sini dan menembakmu.”

So, inilah permulaan dari segalanya. Pertama kalinya aku mengkhianati kekasihku yang jauh. Berkhianatkah aku? Aku memang sudah berniat meninggalkannya. Ini pula awal aku merubah banyak hal dalam hidupku. Aku memang bertemu Riko di pagi harinya sementara Duren pulang ke rumahnya. Riko… dia orang yang “lain”, tampan dan simpatik, kuakui aku pernah menyukainya. Umurnya sudah 25, punya bisnis sendiri di ITC Roxy Mas. Dua tahun yang lalu dia muncul dalam hidupku dan mendekatiku, tapi harus kujauhi karena Venis telah masuk dulu. Alasan aku menemuinya kali ini adalah memberikan kesempatan untuk membuktikan masih adakah chemistry itu. Akan tetapi, mau apa lagi sekarang? Semangatku sudah putus.

Hari-hariku berikutnya… aku malu mengakuinya setelah apa yang dilakukannya terhadapku, aku menjalin hubungan yang lebih dekat dan intim bersama Duren. Perbuatan yang tidak bisa kubanggakan. But we had fun together, just for the sex and lust, no love not great sex, but good enough for the time being. Tinggal di atap yang sama. ML di setiap kesempatan datang. Di kamarnya. Di kamarku. Di kamar mandi. Di atap rumah. Di pinggir jalan raya di dalam mobilku. Bahkan di boncengan motornya.

Akibatnya harus kutanggung sendiri. Kami tidak pernah menggunakan protection. Aku ternyata hamil beberapa saat kemudian. Lucky me, aku bisa mendeteksi hal ini awal sekali. Duren sama sekali tidak bertanggung jawab. Dari mana dia punya uang untuk berbuat apa-apa, apalagi dia termasuk penjudi. Pernah terbayang di benakku aku menjadi istrinya, hidup dalam kemiskinan, walaupun mungkin the sex could be great. Untung akal sehatku masih bekerja. Aku mengambil langkah untuk menggugurkan janinku pada tahap kehamilan yang cukup dini. Ini merupakan dosa terbesar dalam hidupku: mengakhiri hidup sebuah janin karena ulahku sendiri.

Bukan itu saja. Duren tidak pernah punya kekasih selulus SMA, kadang- kadang untuk memenuhi kebutuhan biologisnya, dia berhubungan dengan perempuan bayaran di Saritem. Rasa takut akan terhinggap penyakit STD menghantuiku berbulan-bulan setelah perpisahan kami. Akhirnya aku mendapat keberanian untuk ke lab untuk mengecek diri. Hoping for the best and expecting the worst…? no, no, actually, I couldn’t even expect anything, I was just hoping and hoping and praying to my god. Bahagia sekali ketika hasil test HIV itu keluar negatif. Sejak insiden itu aku bersumpah kepada diri sendiri bahwa aku tidak akan pernah gegabah lagi.

Semoga cerita di atas bisa dapat menjadi contoh pelajaran buat pembaca. Ummm… gimana ya? nyata atau tidaknya kisah ini adalah rahasiaku sendiri, persis seperti kisah-kisahku yang sebelumnya… dan yang akan datang, kalau mau menghubungiku melalui email, khususnya cewek cewek yaaa! Sampai jumpa di lain cerita.

TAMAT
Comments (0)
Akibat Pergaulan Bebas 9:26 am

…::: Dugem Girl :::….

Dugem Girl
malam minggu gue sama temen2 gue biasa lah hunting cari cewe , di sbuah tempat hangout di bandung , kita saat itu berempat. saat asyik2 minum , gue ngeliat ada dua ce baru masuk , kelihatannya kebingungan cari tempat soalnya emang hari itu agak penuh.

setelah berunding sama temen2 gue , akhirnya gue ajak tu dua cewe ke table kita , awalnya mereka ragu2 , tapi jgn sebut gue naga_langit klo kalah sama cewe , akhirnya mereka pun mau.

“girls , ini temen2 gue , bobby , andes , yg pojok ovan , gue naga.” temen2 gue lsg semangat kenalan sama tu dua ce , soalnya selaian cantik , ditunjang juga sama pakaiannya yg seksi abis boss.

mereka ternyata namanya nina and diah , kuliah di univ yg ngetop banget dah , ngetop sama filmnya , ( you know lah).

awalnya kita berenam , ngobrol and drink lah , ternyata nina ini kuat bngt minum , sementara diah kelihatan lebih pendiem , menurut gue sih dia baru pertama kali ke tempat kaya gini. makanya dia terus terusan minta pulang , akhirnya krn kasian bobby nawarin nganter dia pulang . awalnya nolak , but krn udah malem dia akhirnya mau juga. ( belakangan gue baru tau klo diah ini sebenrnya ce baik2 , and kata bobby dia nie masih virgin…. kgak tau deh gimana temen gue bisa tau…..bukan urusan gue lagi )

berlima sama nina kita minum sampe sekitar jam dua -an , nina pun kelihatannya udah agak mabok , dia bilang jgn dianter ke pulang dulu , soalnya dia ga mau ada yg tau dia mabok.

akhirnya dia ikut kita ke tempat gue , soalnya emang rumah gue sepi boss , lumayan gue pikir , soalnya gue dah horny dari tadi.

sampe rumah gue , nina keliatan antara sadar ga sadar, temen2 gue bawa dia ke kamar and ngebaringin dia di kasur . begitu dibaringin di kasur ternyata dia mulai sadar.
“dimana nih..?” tanya nina
’sst..kamu di rumah gue say…katanya ga mau pulang dulu” jawab gue
saat itu gue udah ga tahan lagi , gue cium bibirnya yg mungil menggarirahkan, butuh waktu beberapa saat sampai dia membalas ciuman gue , dia merespon permainan lidah gue , its a hot tounge play ..i tell you.

sambil bermain lidah, pelan pelan gue singkap baju atasnya , nina ga menolak , bahkan ciumannya makin ganas waktu buah dadanya gue remas, puting susunya itu wow…..kayanya dia juga dah horny berat.

ciuman gue turun ke leher , terus ke bwah sampe buah dada dia yg lumayan besar ,
gue lumat buah dada sebelah kanan , gue mainin putingnya pake lidah gue , dari mulut nina keluar rintihan kenikmatan , ditambah gelinjangan tubuhnya..makin gue nafsu.

tangan gue masuk ke balik rok mini nina, menyelusup ke balik cd nina , gue mainin jari gue di mem*knya , rintihan dia makin ga karuan , sejenak gue buka rok mini dia biar leuasa, setelah dia naked, gue baru buka baju gue.

temen2 gue yg sedari tadi ngeliatin gue ama nina , udah ga sabar pula., apalagi begitu liat body naked nina, kayaknya nafsunya dah sampe ubun2 dah.

“naga, ikutan dong…..cuek lah….kali2 gang bang…” kata ovan
“ok lah..tapi mem*knya gue duluan ” jawab gue
“terserah deh……gang bang ya..?”
begitu gue bilang setuju., mereka lsg menyerbu buah dada nina , smentara gue langsung jlilatin mem*k nina.

thats a hot night…nina makin keras erangannya.,buat nafsu kiita makin naik..
“nin.bangun dulu say….” kataku membangunkan nina yg masih berbaring, lalu gue arahkan kepalanya ke penis gue.
“ayo nin….ngerti dong” kataku.

nina mulai mengocok penis gue, gak butuh waktu lama sampai akhirnya penis gue diamsukin ke mulutnya…her blowjob bikin gue melayang boss…..boleh dibilang she one of the best blowjob girl.
“gantian dong man” temen gue juga kayanya penasaran banget sama mulutnya nina, tapi sementara kepala nina gue tahan dulu , gue masih betah penis gue diemut dia, akhirnya temen2 gue sementara waktu cuman dapet kocokan tangannya.

setelah ngerasa cukup gue kasih giliran temn2 gue di blowjob nina , langsung bergantian nina melakukan bj ke penis ovan and andes. jujur boss , its my first time terlibat gang bang kayak gini , ternyata seru juga.

lama lama gue ga sabar juga , gue tarik nina , gue suruh tiduran lagi.. gue mulai masukin penis gue ke mem*knya dia , emang ga virgin sih..tapi mash sempit boss
begitu masuk , gue mulai pompa penis gue , sambil meremas buah dada dia ,
“ahhh…ohhh…” nina mengerang

“”ahh..ahhh/…” semakin lama erangan nina semakin membangkitkan gairah gue, bikin gue tambah semangat, sementara temen2 gue dengan sabar nunggu giliran sambil colenak..hehehe,,,,

gue ga tau berapa lama gue pompa mem*k dia , yg jelas cukup lama juga, sampe akhirnya dia orgasme, teriakan panjangnya bikin gue makin semangat….sampe akhirnya gue sampe juga.

begitu selesai, ovan ga tunggu lama2 , ga banyak ba bi bu lagi , langsung membalik badan si nina , and doing doggy style , sebenernya keliatan klo nina capek , but waht the heck….show must go on…

setelah ovan , giliran andes yg ngerjain nina , kali ini nina keliatan udah lelah banget , badannya udah mengkilat krn keringat , tapi justru hal kaya gitu makin kita tambah nafsu….

setelah andes orgasme , nina udah lemes banget , dia cuman terbaring tak berdaya,tapi gue masih penasaran….gue kerjain dia sekali lagi.

“udaahh…ampuun…aahhhh”
“udaahh…ahhh…uuhhh…” nina keliatannya makin tak berdaya, gue saat ini gak peduli gue pompa dia, tubuh dia terguncang guncang tanpa daya, buah dadanya aku remas sedikit keras , yg membuat nina teriak kecil..

“aaggjhh…ahhh..please…udda…ahhh”

gue makin cepat pompa dia , begitu nyampe gue keluarin penis gue , gue keluarin di buah dada sama di wajah dia, abis gitu dia pingsan ( or sleep) sampe sore.

……..peace ah.
Comments (0)
Cerita Antara Kita 9:25 am

SEPUPUKU LISA

Kisah ini adalah kisahku sebenarnya. Dalam cerita ini aku buat nama-nama tokoh kisah ini dengan nama yang berbeda, karena aku takut orang yang bersangkutan dengan cerita ini mengetahui, makanya aku buat demikian. Kisah ini adalah pengalamanku sebenarnya yang terjadi sekitar bulan januari 1982 dimana namaku (tokoh) dan tempat kejadiannya kurubah. Jika ada di antara pembaca merasa terbawa dalam kisahku ini aku mohon maaf kepada saudara/i. Sebelumnya aku perkenalkan diriku dulu. Namaku Sultan, wajahku lumayan lah. Kata teman-temanku, aku tampan. Itu kata mereka, kalau menurutku, aku biasa-biasa saja. Aku anak dari seorang pejabat. Papaku bekerja di suatu kantor pemerintahan, waktu itu ayah menjabat sebagai wakil walikota.

Awal kisah ini terjadi sekitar awal Januari, dimana waktu itu aku sedang sendiri di rumah, sedang nonton TV tiba-tiba aku di kejutkan oleh suara bel berbunyi.
“Kringg.. kring..” suara bel berbunyi itu membuat aku terkejut.
Kemudian aku membuka pintu, aku melihat seorang gadis berdiri menggunakan baju kaos berwarna putih dan rok mini berwarna hijau sampai ke lutut, wajahnya cantik dan sedap dipandang mata.
Aku bertanya, “Cari siapa dik..?”
Dia balas dengan bertanya, “Benarkah ini rumah paman Rizal..?”
Aku terkejut, karena nama yang dia sebutkan adalah nama papaku. Kemudian aku bertanya lagi.
“Adik ini siapa?”
Dia hanya tersenyum. Senyumannya manis sekali, lalu aku jawab, “Benar, ini rumah paman Rizal,” sambungku lagi.
Dan sekali lagi dia tersenyum, manis sekali, membuat hatiku dag dig dug.
Aku bertanya lagi, “Adik ini siapa sih..?”
Sambil terseyum dia memperkenalkan dirinya, “Namaku Lisa,” kata-katanya terhenti, “Aku datang kemari disuruh mama untuk menyampaikan sesuatu untuk paman Rizal.”
“Oh iyah..” aku sampai lupa mempersilakan dia masuk ke rumah. Lalu kusuruh dia masuk.
“Silakan masuk,” kataku.
Aku persilakan dia masuk, “Kan ngga enak bicara di depan pintu, apa lagi tamu.”
Setelah berbicara sebenter di depan pintu, dia masuk dan duduk di kursi ruang tamu. Setelah kupersilakan duduk, aku mulai bertanya lagi tentang dia, dan siapa dia bagaimana hubungannya dengan papaku.
“Kalau boleh tau, adik ini siapa yah..?”
“Hihihi..” dia tertawa, aku jadi heran, tetapi dia malah tertawa.
“Kalau ngga salah, pasti abang ini bang.. Sultan yah?” sambungnya.
Aku terkejut, dari mana dia tahu namaku, lalu aku bertanya, “Kog adik tau nama abang?”
Lalu dia tertawa lagi, “Hihihi… ..tau dong.”
“Masa abang lupa sama aku?” lanjutnya. “Aku Lisa, bang. Aku anaknya tante Maria,” celotehnya menjelaskan.
Aku terkejut, “..ah.. jadi kamu anaknya tante Maria?” tambahku.

Aku jadi termangu. Aku baru ingat kalau tante Maria punya anak, namanya Lisa. Waktu itu aku masih SMP kelas 3 dan Lisa kelas 1 SMP. Kami dulu sering bermain di taman bersama. Waktu itu kami belum tahu tentang apa yang namanya cinta/sex dan kami tidak berjumpa lagi karena waktu itu aku pergi ke Australia sekitar 2 tahun. Sekembalinya dari Autralia aku tidak pernah ke rumahnya karena sibuk sekolah. Sudah kira-kira 3 tahun kami tidak berjumpa, sampai aku mahasiswa tingkat 2, aku tidak ingat namanya lagi, kini bertemu sudah besar dan cantik lagi.
Lalu kubertanya kembali menghamburkan lamunanku sendiri, “Bagaimana kabar mamamu?” tanyaku.
“Baik…” jawabnya.
Kamudian dia mengulangi maksud dan tujuannya. Katanya, papaku diminta mamanya untuk datang ke rumahnya untuk membicarakan sesuatu hal.
Lalu aku balik bertanya dengan penasaran, “Kira-kira yang akan dibicarakan apa sih..?”
Dia menjawab sambil tersenyum manis nan menggoda. Sambil tersenyum, aku memperhatikan dirinya penasaran.

Tiba-tiba dia bicara, “Ternyata abang ganteng deh, ternyata mama ngga salah bilang.”
Aku jadi salah tingkah dan wajahku memerah karena dipuji. Adik ini ada-ada saja pikirku. Kemudian aku sambut kata-katanya, “Ternyata tante Maria punya anak cantik juga.” dia hanya tersenyum saja.
“Paman Rizal kemana bang?” dia bertanya membuka keheningan.
“Belum pulang kerja.” jawabku.
“Hmmm…” gumamnya.
“Ya udah deh, titip pesen aja gitu tadi, ya bang!” memastikan.
“Iya… oke.” jawabku pasti.
“Jangan lupa yah..!” lebih memastikan.
“Iya..” aku tegaskan lagi.
“Oke deh.. kalau gitu Lisa pamit dulu yah.. ngga bisa lama-lama nih.. mama bilang jangan lama-lama.” jelasnya. “Pamit yah bang!” tambahnya.
“Oke deh,” mengiyakan. “Hati-hati yah!” sambungku seperti cowok-cowok lain pada cewek umumnya.
Dia hanya tersenyum menjawabnya, “Iya bang…”

Nah, detik itu jugalah momen itu terjadi. Tidak tahu kenapa dia tiba-tiba menarik tanganku dan mencium pipiku. Bercampur rasa bingung dan asyik di hatiku.
“Waduh… buat apa itu tadi?” tanyaku bodoh. Dia hanya tersenyum.
“Abang ganteng deh,” jelasnya sambil melepaskan pegangan tangannya.
Nah, itu dia, karena menurutku aji mumpung perlu diterapkan, aku menangkap tangannya dan balik mencium pipinya. Dia menjadi kaget dan aku hanya tersenyum saja, memasang wajah innocent yang jauh dari sempurna. Balas dendam pikirku. Karena kepalang keasyikan dan sudah timbul nafsu. Aku memberanikan diri lagi untuk mencium bibirnya mengusik kediamannya karena kaget pada ciuman pertamaku tadi.

“Mumpung rumah sepi… kesempatan nih..” pikirku dalam hati.
Aku memberanikan diri untuk lebih lagi dengan meraba tonjolan yang ada di dadanya yang terbungkus bra dari luar.
Dia mendesah, “..ahh..hem..”
Tonjolannya agak lumayan kalau tidak salah taksir, kira-kira 32b besarnya. Karena sudah sangat bernafsu, dan ego kelelakianku meningkat, hasrat itu pun timbul. Aku belai tubuhnya perlahan dan terus menaik sampai ke lehernya. Kubuka baju yang dia pakai hingga terlepas. Dan aku terus meraba bongkongnya yang lumayan juga besarnya kalau tidak salah taksir dapurnya kira-kira 61.
“Seperti penyanyi saja,” gumamku dalam hati.

Karena keadaan kurang memungkinkan, kugendong dia ke kamarku sambil kami berciuman terus. Kurebahkan dia di kasur dan kutindih dia. Kubuka perlahan-lahan kaos yang dia pakai dan BH-nya aku buka hingga polos. Terpampang di depanku sebuah pemandangan yang indah, sebuah gunung dua yang sangat indah dengan pucuknya berwarna merah ranum. Aku dengan rakusnya meremas dan mengulum kanan dan kiri. Tanganku dengan aktif terus menjalar ke rok yang dia pakai. Perlahan-lahan aku turunkan hingga terbuka semuanya. Aku melihat kodam (kolor,dalam) warna putih dengan berenda bunga. Kubuka perlahan-lahan dengan sabar, hati-hati dan lembut. Tiba-tiba dia menepis tanganku.
“Jangan bang..! Jangan bang..!” dia memohon, tetapi aku yang sudah dirasuki setan tidak ambil pikir.
Kemudian kucium bibirnya dan kuremas kembali gunungnya. Dia terangsang. Kucoba mengulang kembali, kutarik kodamnya (kolor,dalam) perlahan-lahan. Dia tidak menepis tanganku, terus kubuka dan kuterpana melihat pemandangan yang begitu indah yang tidak bisa dikatakan dengan kata-kata. Aku melihat sebuah kemaluan yang masih gundul yang hanya dikelilingi dengan rambut yang masih belum lebat.

Kusibak hutan yang masih agak gundul. Ada cairan bening yang keluar dari dalam hutannya. Dia sudah terangsang. Kubuka bajuku tergesa-gesa. Pakaianku hanya tinggal kodam (kolor dalam) saja tetapi Ucokku (kejantananku) sudah mau lompat saja, ingin mencari sasaran. Sudah tidak tahan ucokku sehingga aku langsung meraba hutannya. Kusibak (buka) hutannya dan aku menciumnya. Kemudian kujilat semacam daging yang keluar dari kemaluannya. Kujilat terus kelentitnya hingga dia meyilangkan kakinya ke leherku.
“Ahh.. ohh.. yaa..” desahnya.
Kumasukan jari tanganku satu dan kukorek-korek dalam hutanya. Dia semakin merapatkan kakinya ke leherku sehingga mukaku terbenam dalam hutannya. Aku tidak bisa bernafas. Aku terus hajar hutannya.

“Hauhh.. ahh.. yahh.. huhhh..” terdengar suara desahya.
Aku terus hisap sehingga timbul suara yang entah dia dengar atau tidak. Kemudian perlahan-lahan kakinya agak melonggar sehingga aku bisa nafas dengan bebas kembali. Aku terus menghisap dalam hutannya. Setelah puas kubermain di hutanya, kuhisap lagi gunung kembarnya, kiri dan kanan.
“Bang.. aku udah ngga tahan nih.. mau keluar..” desahnya.
Kupercepat lagi hisapanku, dia merintih.
“Ahh.. oohhh.. yahh.. serrrr..” dia lemas. Ternyata dia sudah klimaks.
Kubuka kodamku dan kejantananku ini kukeluarkan. Taksiranku, kejantananku kira-kira 18 cm panjangnya kalau sudah tegang. Kubimbing kejantananku (ucok) ke arah hutannya. Kugesek-gesekan kejantananku pada liang kelaminnya, kusodok perlahan-lahan. Awalnya meleset, tidak masuk. Wah, ternyata dia masih perawan. Kucoba lagi perlahan-lahan, tidak juga bisa masuk. Kuberi air ludah ke batang kejantananku agar tambah licin. Kemudian kucoba lagi, hanya masuk ujung kepalanya saja, dia merintih.

“Aduh.. sakit bang.. sakit..” rintihnya.
Aku berhenti sejenak, tidak melanjutkan sodokanku, kukulum lagi gunungnya, dadanya terangkat ke atas. Tidak lama dia terangsang lagi, lalu kucoba lagi untuk meyodok (seperti permainan bola billyard). Kusodok terus dengan hati-hati, aku tidak lupa memberi ludahku ke kejantananku. Karena hutannya becek akibat klimaks tadi jadi agak licin sehingga kepala kejantananku bisa masuk dia merintih.
“Aduh.. sakit bang…”
“Tahan dikit yah.. adikku manis..`ngga sakit kok.. cuman sebentar aja sakitnya…” bisikku di daun telinganya.
Dia diam saja. Kusodok lagi, akhirnya masuk juga kepala si ucok, terus kusodok agak keras biar masuk semua.
“Slupp.. blesss..” dan akhirnya masuk juga ucokku. Dia menggigit bibirnya menahan sakit. Karena kulihat dia menahan sakit aku berhenti menunggu dia tidak kesakitan lagi. Ucokku masih terbenam dalam hutannya, kulihat dia tidak menggigit bibirnya lagi. Kusodok lagi ucokku perlahan-lahan dan lembut, ternyata dia meresapinya dan kembali terangsang. Kusodok terus.

“Ahh.. auuohhh.. yahh.. terus bang..” pintanya karena dia teransang hebat sambil mengoyangkan pinggulnya ke kiri kanan. Rupanya dia sudah tidak kesakitan lagi. Semakin kuat kusodok.
“Auoohhh.. ahhh.. yahh.. uhhh.. terus bang!” kakinya dililitkan ke leherku.
“Ahh.. yaa..” rintihnya lagi, terus kusodok agak keras.
“Selupp.. selup..” suara ucokku keluar masuk, aku juga merasakan ada denyutan dalam hutannya seperti menghisap (menarik) ucokku. Rasanya tidak bisa dikatakan dengan kata-kata.
“Yahh.. aouuhh… yahh..” suaraku tanpa sadar karena nikmatnya.
“Bang.. enak bang.” kusodok terus.
“Uohh.. ahhh.. yahh.. terusss bang! Yahh.. yahh.. ngga tahan nih bang..” dia terus berkicau keenakan, “oohh.. yahh… aouuhh.. yaa.. i coming.. yes..” terus dia berkicau.
Entah apa katanya, aku tidak tahu karena aku juga merasakan sedotan dalam hutanya semakin kuat.

Dia meremas kain penutup tilam sampai koyak. Aku terus meyodok dan terus tidak henti-henti.
“Aouhhh.. ahhh.. yahh.. yaa.. mau keluar nih bang..” dan, “Slerrrr…” dia keluar, terasa di kepala ucokku. Dia klimaks yang kedua kalinya.
Aku terus memacu terus mengejar klimaksku, “Yahh.. aouuu.. yahh..” ada denyutan di kepala ucokku.
“Yahh.. ahhh..” aku keluar, kutarik ucokku keluar, kuarahkan ke perutnya.
Air maniku sampai 3x menyemprot, banyak juga maniku yang keluar, lalu kukecup keningnya.
“Terima kasih..” aku ucapkan.
Kulihat ada bercak darah di sprei tilam, ternyata darah perawanya. Lalu kuajak dia membersihkan diri di kamar mandi, dia mengangguk. Kami mandi bersama. Tiba-tiba ucokku bangkit lagi melihat bongkongnya yang padat dan kenyal itu. Kutarik bokongnya dan kutunggingkan. Kusodok dari belakang.
“Aduh..” gumamnya karena masih agak sempit dan masih terasa ngilu karena baru hilang keperawanannya.

Dia terangsang kembali, kuremas gunung kembarnya, aku berdengus. “Ahh.. aouhhh.. yaaa.”
“Crottt.. croottt.. crottt..” kukeluarkan maniku dan kutumpahkan di bokongnya.
Kami terus bermain sampai 3 kali. Aku teringat kalau sebentar lagi mama akan pulang, lalu kusuruh cepat-cepat si Lisa mandi dan mengenakan pakaiannya. Kami tersenyum puas.
“Terima kasih yah bang,” aku tersenyum saja dan aku mencium bibirnya lagi serta membisikkan ke telinganya, “Kapan-kapan kita main lagi yah!”
Dia hanya tersenyum dan, “..iya,” jawabnya.
Setelah berpakain dan merapihkan diri, kuantar dia ke depan rumah. Dan ciuman manis di bibir tidak lupa dia berikan kepadaku sebelum pergi. Aku hanya bisa melihat dia berjalan pergi dengan langkah yang agak tertatih karena merasakan nyeri di selangkangannya.
“Oh… nikmatnya dunia hari ini.” pikirku dalam hati sambil menutup pintu.

Jika anda ingin berkenalan denganku tetapi khusus cewek, silakan e-mail aku.

TAMAT
Comments (0)
Cerita Antara Kita 9:24 am

KEPONAKANKU

Kebetulan sekolah sedang libur di bulan Oktober ini, aku (namaku Tris) bersama istri dan kedua anakku (yang besar baru kelas I SD) berlibur ke Malang sambil mengunjungi orang tua istriku. Rumah mertuaku bukannya di kota Malangnya tetapi agak jauh di Desa di luar kota Malang yang masih terasa sejuk. Seperti kebiasaan di desa, tetangga-tetangga mertuaku masih termasuk keluarganya juga dan di samping kiri rumah mertuaku adalah keluarga adik perempuannya yang sudah mempunyai anak 3 orang dan semuanya perempuan. Yang terbesar nama panggilannya Asih dan masih duduk di kelas 3 SMU di desanya, yang kedua bernama Ami masih kelas 1 di SMU-nya Asih dan yang terkecil Ari masih duduk di kelas 2 SMP, sedang bapaknya kerja di suatu PT di Surabaya yang hanya pulang ke desanya setiap bulan habis gajian.

Yang kudengar dari mertuaku, ke 3 keponakannya itu walau tinggal di desa tapi badung-badung dan susah di atur sampai-sampai ibunya kewalahan. Kupikir mungkin akibat bapaknya tidak pernah ada di rumah sehingga tidak ada yang disegani.

Untuk menyingkat cerita, baiklah kumulai saja kisah nyataku ini. Ketika tahu aku dan keluargaku datang di desa, ibunya Asih datang kepadaku dan meminta tolong untuk memberi les kepada ketiga anaknya terutama kepada Asih, karena ujian akhir sudah dekat. Oh iya, mertuaku dan keluarganya tahu kalau aku dulu kerja sebagai seorang Guru SLTA sebelum diterima kerja di salah satu BUMN di Jakarta. “Naak.. Triiis, mumpung lagi libur di sini, tolong yaa si Asih dan adik-adiknya diberi les”, kata ibunya Asih sewaktu semua keluarga sedang ngobrol-ngobrol. Asih dan adik-adiknya langsung protes ke ibunya,
“Buuu, ibu ini gimana siiih. Kita sedang libur kok malah disuruh belajar?”
“Asiiih”, teriak ibunya agak keras,
“Apa angka-angka di raportmu sudah bagus? Apalagi ujian sudah dekat, kalau hasil ujianmu jelek, bapakmu mana sanggup menyekolahkan kamu di Universitas swasta”, lanjut ibunya dengan sedikit ngotot.

Supaya tidak terjadi keributan, lalu aku berusaha menengahinya dengan mengatakan “Asiiih”, ibumu benar ikut ujian UMPTN itu tidak gampang. Mas Triis mau kok membantu Asih dan adik-adik dan waktunya terserah saja, bisa pagi, siang atau malam.”

Kebetulan hari Selasa sore, istriku dan ibunya pergi ke Kediri untuk mengunjungi saudaranya yang sedang sakit dan mungkin akan menginap semalam. Kira-kira jam 9 malam ketika aku sudah siap akan tidur, Asih yang memakai baju tidur tanpa lengan yang longgar dan belahan dadanya yang sangat rendah datang memintaku untuk mengajari matematika. “Lho kok malam-malam begini sich apa tidak ngantuk nanti?”, kataku agak malas karena aku sendiri sudah mulai ngantuk. “Naah.. kata Mas Tris kemarin terserah Asih soal waktunya kebetulan lagi belum ngantuk nih Mas”, jawabnya. Lalu Asih mengajakku ke rumahnya dan dia sudah menyiapkan buku-bukunya di meja makan. “Lho.. kok sepi”, tanyaku pada Asih melihat rumahnya terasa sepi, “Kemana Ibu dan adik-adik mu Siiih?” Sambil duduk di kursi satu-satunya di meja makan, Asih mengatakan kalau mereka sudah tidur sejak tadi.

Lalu Asih mulai membuka bukunya dan menanyakan persoalan-persoalan matematika yang tidak dimengertinya dan aku menerangkannya sambil berdiri disamping kirinya sambil sesekali kulirik belahan dadanya yang sangat jelas terlihat dari atas. Payudaranya tidak terlalu besar tapi terlihat menonjol tegang di balik baju tidurnya yang berleher rendah itu. Dari pengamatanku beberapa saat sewaktu Asih mengerjakan soal-soal matematika yang kuberikan, kelihatannya dia tidak bodoh-bodoh amat, mungkin karena bandel dan tidak pernah belajar saja sehingga hasil rapornya jelek. Suatu saat ketika aku menuliskan jawaban matematika yang ditanyakannya, secara tidak sengaja siku tangan kananku menyenggol payudaranya dan terasa empuk kenyal walaupun masih terbungkus BH-ya. “Asiiih, ma’af yaa tidak sengaja”, kataku basa-basi. eeeh tidak menyangka kalau Asih malah berguman, “Aah sengaja juga tidak pa-pa kok.. Maas”, katanya dengan tanpa menoleh. Nah kesempatan baik nih, sambil menyelam minum air, sambil mengajari siapa tahu dapat kesempatan menggoda Asih yang kudengar bandel dan suka pacaran di sekolahnya, pikirku.

Kembali Asih mengerjakan soal-soal yang kuberikan dan aku melihat apa yang dikerjakannya dari belakang badan Asih dan sesekali kulongok belahan dadanya yang membuat dadaku berdesir dan kepingin memegangnya serta membuat celana pendek piyama yang kukenakan kelihatan menonjok akibat penisku sudah berdiri. Aku jadi melamun dan mencari jalan bagaimana cara memulainya supaya bisa memegang payudara Asih. “Maas, panggil Asih yang membuatku agak tersentak dari lamunanku, kalau yang ini, gimana ngerjakannya?” kata Asih yang agak menunduk mendekati kertas kerjaannya di meja makan. Lalu aku membungkukkan badanku dari belakang sehingga badanku menempel di sandaran kursi dan kepalaku ada di kanan bahu Asih sambil tangan kananku menjulur ke depan di atas kertas kerjaan Asih dan menerangkan bagaimana cara mengerjakan persoalan yang ditanyakan, dan Asih tidak berusaha menghindar dari posisiku dalam menerangkan dan juga tidak berkomentar ketika beberapa kali payudaranya tersenggol tanganku sewaktu bergerak menerangkan di kertas kerjaannya. “Sudah mengerti aas”, tanyaku setelah selesai menerangkan dan “Suu…daah maas”, jawab Asih pelan dan kuangkat kepalaku menjauhi kepala Asih sambil kukecup mesra leher Asih yang jenjang dan kulihat Asih agak menggelinjang mungkin kegelian dengan kecupanku itu sambil berkata lirih “Aahh maas gee..niiit aahh nanti Asih kasih tahu Mbak Sri (nama panggilan Istriku) lho baru tahu”, menakut-nakutiku. “Yaa jangan dong Aas, bisa perang dunia nanti”, kataku dari belakang dan kulanjutkan kata-kata rayuan gombalku “Haabis, Asih maniiis dan body Asih menggairahkan siiih”, sambil kembali kukecup lehernya.

Lagi-lagi Asih menggelinjang dan lalu melepaskan pinsil dari tangannya sambil berkata pelan seolah mendesah “aahh maas, jaa..ngaan nanti ada yang tahuu.” Karena tidak ada tolakan yang berarti dan Asih tidak berusaha menghindar atau pergi, aku semakin tambah berani dan kupegang kepalanya serta agak kuputar sedikit ke kanan lalu segera bibirnya kucium dalam-dalam dan tidak menyangka kalau Asih malah membalas ciumanku dan tangannya dirangkulkan ke badanku. Karena dalam posisi begini kurang nikmat, sambil masih tetap berciuman, lalu kuangkat Asih berdiri dari duduknya dan kupeluk rapat-rapat badannya ke badanku. Setelah puas kami berciuman, lalu kualihkan ciuman serta jilatanku ke arah leher Asih dan kudengar Asih mulai berdesah “Aahh… aah maass aahh… maas ja..ngaan di sini.. nanti ketahuan”, mendengar desahan yang cukup merangsang ini, aku semakin tidak dapat menahan nafsu berahiku lalu tangan kananku kugunakan untuk meremas-remas payudara Asih dari luar BH-nya dan Asih kembali mendesah “aah maas ja…ngaan disinii.”

“Asiih, kita ke kamar Asih sajaa yaa”, dan tanpa menunggu jawaban Asih, kuangkat dan kubopong tubuh Asih sambil kutanya, “Kamar Asiih yang mana.. As?”
“Di dekat ruang tamu Mas”, sambil kedua tangannya dirangkulkan ke leherku. Rupanya kamar Asih terpisah jauh dari kamar-kamar lainnya dan sesampai di kamarnya lalu kurebahkan Asih di tempat tidurnya dan langsung kupeluk dan kembali kulumat bibirnya dan Asih pun meladeniku serta sepertinya sudah berpengalaman.
Setelah puas kulumat bibirnya, kualihkan ciumanku ke arah leher dan telinganya serta tangan kananku kugunakan kembali untuk meremas-remas payudaranya sedangkan Asih hanya mengeluarkan desahan-desahan. Sambil tetap mencium leher, telinga dan seluruh wajahnya, aku mulai mencoba melepaskan kancing-kancing baju tidur Asih dan setelah semua kancing terbuka, Asih mendesah, “Maas jangaan maas Jaa..ngan”, katanya tanpa adanya penolakan atau menghentikan tanganku yang melepas kancing-kancing baju tidurnya. Ketika kubuka kaitan BH di punggungnya, Asih juga seperti tidak menolak tetapi masih terdengar desahan suaranya, “Maas ja..ngaan maas.” Setelah kaitan BH-nya terlepas segera kubuka BH-nya dan terlihat payudara Asih yang tidak terlalu besar dengan puting susunya kecil kecoklatan, segera saja kualihkan cuimanku dari leher langsung ke payudaranya dan tangan kananku kugunakan untuk mengelus-elus vagina Asih dari luar CD-nya.

Seraya menggerak-gerakkan bagian dadanya dan kedua tangan Asih dirangkulkan kuat-kuat ke badanku, desahan Asih semakin sering terdengar”,Maas maas aduuh maas teruus maas.” Desahan-desahan Asih semakin membuat penisku semakin tegang saja, dan setelah beberapa saat kuciumi serta kujilati payudaranya yang ranum itu, lalu ketelusuri perut dan pusar Asih dengan ciuman serta jilatanku dan kugunakan kedua tanganku untuk melepas CD-nya sehingga vagina Asih yang menggelembung di antara kedua pahanya dan hanya ditumbuhi bulu-bulu hitam yang tipis terlihat jelas. Ketika jilatanku sudah mendekati bibir vaginanya, secara perlahan-lahan Asih membukakan kedua kakinya dan tercium aroma khas vagina. Aku sudah tidak sabar, lalu kujilat bibir vaginanya yang agak terbuka dan kurasakan tubuh Asih menggelinjang kuat sambil mendesah agak kuat. “Maas aduuuh maas sudaah maas”, sambil menekan kepalaku agak keras dengan kedua tangannya sehingga mulut dan hidungku terbenam dalam vaginanya dan basah oleh cairan yang keluar dari vaginanya. Lalu kuhisap-hisap bagian clitorisnya yang membuat Asih semakin sering menggelijang dan kuat desahannya, “Maas maas teruuus.. Maas”, dan ketika bibir vagina Asih kubuka dengan jari-jari tanganku, kulihat lubang vaginanya sudah mempunyai lubang yang agak besar dan sambil tetap menjilati vaginanya aku segera berkesimpulan kalau Asih sudah tidak gadis lagi dan mungkin sudah beberapa kali vaginanya dimasuki penis orang lain. Jilatan-jilatan serta sedotan-sedotanku sudah keseluruh vagina Asih dan pinggulnya semakin kuat pergerakannya serta kudengar desahan kuat Asih lagi “Maas, maas, Asiiihh nggaak kuaat laggii maas, aahh”, sambil tangannya menekan kuat-kuat kepalaku cukup lama dan pinggulnya kelojotan dengan cepat. Tapi tidak lama kemudian Asih terdiam dan yang kudengar hanya nafasnya yang terengah-engah dengan kuat. Setelah kudengar nafasnya mulai agak teratur, kurasakan kedua tangannya berusaha menarik pelan kepalaku ke atas, lalu aku merangkak di atas badan Asih dan kupegang kepalanya sambil kuciumi seluruh wajahnya dengan mulut dan hidungku yang masih basah oleh cairan vagina Asih. Sambil mencium lehernya, lalu kutanyakan apa yang ada dalam pikiranku tadi, “Asih sebelumnya sudah.. pernah.. seperti ini.. yaa?” Dan seperti kuduga Asih menjawab pelan. “Sudah Maas dengan pacar Asih, tapi tidak seperti sekarang ini, pacar Asih maunya cepat-cepat dan setelah diam sesaat Asih melanjutkan kata-katanya, “Maas, tapi jangan kasih tahu Ibu yaa?” Aku hanya mencium bibirnya dan kujawab singkat, “Nggaak akan doong aas”, dan kembali kuciumi wajahnya.

“aas, boleeh sekarang Mas masukin?” kataku setelah diam sesaat, Asih tidak segera menjawab tetapi kurasakan kedua kakinya digeser membuka. Karena tidak ada jawaban, lalu kupegang batang penisku dan kuarahkan ke lubang vaginanyah serta pelan-pelan kutekan kelubangnya. Walaupun vaginanya masih basah dengan cairan, kurasakan masuknya penisku ke dalam vaginanya agak susah sehingga kuperhatikan wajah Asih seperti menahan rasa sakit dan terpaksa tekanan penisku kutahan. Melihat wajahnya sudah biasa dan kurasakan tangannya yang berada di pungungku menekan pelan-pelan, lalu kembali penisku kutekan pelan-pelan dan tiba-tiba penisku seperti terperosok ke dalam lubang, bleess… serta kudengar Asih berteriak kecil, “aachh maas tahaan”, sambil menahan pinggulku.
Setelah diam beberapa saat, kudengar kembali Asih berkata pelan, “Maas .. jangaan dalam dalaam yaa Maas, Asiiih takut sakiit.” Agar supaya Asih tidak kesakitan, lalu kuikuti pesan Asih dan aku mulai menarik penisku pelan-pelan dari dalam vaginanya dan menekan kembali pelan-pelan serta kubatasi tekanan masuknya penisku itu seperti pertama kali masuk kira-kira sepertiga panjang penisku.

Setelah beberapa kali keluar masuk, kurasakan penisku mulai lancar keluar masuk vagina Asih dan kuperhatikan wajah Asih sudah biasa dan tidak sedang menahan sakit, malahan sewaktu aku menahan pinggulku agar penisku jangan masuk terlalu dalam, ternyata sekarang Asih menaikkan pinggulnya dan tetap menekankan kedua tangannya di pinggulku. Karena sudah ada tanda ini, lalu kukocokkan penisku keluar masuk vagina Asih pelan-pelan lebih dalam, dan terus lebih dalam lagi dan terus sampai akhirnya penisku bisa masuk semuanya ke dalam vagina Asih dan setiap kali penisku masuk semua ke dalam vaginanya dan terasa sampai mentok di vagina Asih, kudengar Asih berdesah, “aahh maas”, berulang-ulang.

Karena sudah kuanggap lancar dan tidak ada keluhan dari Asih, sambil kuciumi wajah dan bibirnya, lalu kupercepat kocokan keluar masuk penisku di vaginanya dan akibatnya sangat terasa gesekan-gesekan di vaginanya yang terasa sempit itu, membuatku tidak sadar berdesah, “Sshh sshh… enaak Aasss… aaccrhh”, sedangkan Asih yang mungkin sudah begitu terangsang, vaginanya mencuat akibat keluar masuknya penisku dan kadang-kadang sampai mentok di ujung vaginanya, gerakan pinggulnya semakin cepat dan tidak teratur serta kuku jari tangannya mencengkeram kuat di pinggangku sambil sering kudengar desahnya, “Maas teruuus maas enaak aahh ssshh enaak maas.” Tidak terlalu lama kemudian gerakan pinggul Asih semakin liar, pelukan dan cengkeraman kukunya semakin sering dan nafasnya juga sudah semakin cepat dan tiba-tiba Asih berseru agak keras dan mudah-mudahan tidak sampai terdengar di kamar ibu atau adik-adiknya, “Maas.. maas Asiiih suudah nggaak kuaat Maas, aduuhh Maas, Asiiih sekaraang aduuuh, keluaar aacccrhh”, serta badannya seperti kejang-kejang, dan kubantu orgasmenya dengan memeluknya kuat-kuat serta kupercepat kocokan keluar masuk penisku di dalam vaginanya sambil kubisiki, “Asiihh teruuskan saa..yang teruuskaan sampaii Asih panas”, tapi bersamaan berhentinya seruan Asih saat orgasme, kulihat sekelebat wajah perempuan entah Ami atau Ari menutup korden kamar Asih lalu berjingkat pergi dan Asih kelihatannya tidak tahu dan aku pun tidak akan kasih tahu. Tidak lama kemudian Asih terdiam dengan nafasnya yang tersengal-sengal dan menciumi seluruh wajahku serta membisikiku “Maas, maas hebaat, Asiiih baru bisaa puaas sekarang dan Asiihh capeek bangeet maas.”

Karena mendengar Asih mengatakan capai, aku jadi tidak tega lalu kubilang “Assiiih, kalau asih capek istirahat saja duluuu Mas cabut dulu yaa.. punya Mas?”
“aahh biaarkan sajaa.. duluu maas, maskan belum keluaar”, jawab Asih tenang sambil mencium wajahku. Kulihat nafas Asih sudah normal kembali dan kedua tangannya diusap-usapkan di punggungku sambil masih tetap menciumi wajahku dan kurasa ini sebagai tanda bahwa Asih sudah siap lagi, lalu pelan-pelan aku mulai menggerakkan pinggulku lagi sehingga penisku mulai keluar masuk vaginanya yang semakin basah sambil kusedot-sedot salah satu puting susunya dan terdengar jelas bunyi, crrrooott crrroot, pada saat penisku masuk ke dalam dan Asih masih diam saja mungkin sedang menikmati enaknya dinding vaginanya digesek-gesek penisku. Makin lama kocokan penisku semakin kupercepat dan sekarang terasa Asih sudah menggerakkan pinggulnya sehingga penisku terasa semakin nikmat sehingga tanpa sadar aku mendesis, “Aasiih enaak Aas aduuuh enaak Aas”, dan hampir bersamaan Asih pun mulai mendesah, “Maas.. Asiih jugaa Maas teruus maas aduuuh.. enaak maas.” Gerakan penisku keluar masuk semakin kupercepat dan terasa spermaku sudah di ambang pintu mau keluar dan kucoba menahannya sambil kutanyakan,
“Asiih maas sudaah nggaak kuaat keluarkannya dimanaa Aas?”
“Maas, biariin di dalam maas, Asiiih pingin disemprot maas ayooo sama samaa Maas ayoo sekaraang Maas!” dan aku berseru agak keras
“aaccrhh aahh Maas keluaar aaccrhh”, sambil kupererat pelukan dan penisku kutekan dalam-dalam ke vaginanya dan hampir bersamaan Asih pun berteriak cukup keras,
“Maas aacrhh maas Asiih keluaar.” sambil menggerakkan pinggulnya secara liar. Setelah itu kami sama-sama terdiam tapi dengan nafas yang tersengal-sengal dan segera kucabut penisku dari dalam vagina Asih dan langsung kupakai celanaku tanpa me-lap lagi dan kubilang, “Asiiih Mas pulang kesebelah dulu yaa, takut dicariin.”

Sesampainya di rumah mertuaku yang cuma sebelah rumahnya Asih, aku tidak melihat tanda-tanda ada yang masih ada yang bangun. Lalu kukunci semua pintu-pintu dan aku langsung tertidur di dekat ke 2 anakku. Siang harinya waktu aku sedang ngobrol dengan beberapa keluarga istriku di rumah mertuaku, tiba-tiba telepon berbunyi dan salah seorang memanggilku. “Maas ada telepon dari Mbak Sri”, (nama Istriku).”Maas”, kata istriku dalam telepon, “Kayaknya aku belum bisa pulang hari ini mungkin baru besok, habis ibu banyak yang perlu diurus. Jaga anak-anak ya Maas”, kata istriku mengakhiri teleponnya.

Kira-kira jam 3 sore, sedang nikmat-enaknya baca koran di ruang tamu rumah mertuaku sambil minum kopi. Si Ami (anaknya adik ibu mertuaku yang masih duduk di kelas 1 SMU dan adiknya Asih) datang menghampiriku lalu duduk di kursi sebelahku dengan wajah yang agak serius. “Ooom, Ami mau ngomong sedikit dengan om”, (menceng juga si Ami ini, aku masih terhitung Masnya kok malah di panggil om). Aku jadi agak deg-degan melihat wajah Ami yang serius itu dan aku jadi yakin kalau yang mengintip tadi malam itu pasti dia, tapi dengan mencoba menenangkan diri aku bertanya pelan.

“Ami, ada apa kok kelihatannya serius benar sih?”
“Ami mau cerita ke Ibu dan Mbak Sri, soal om tadi malam dengan Mbak Asih”, sahut Ami dengan ketusnya.
“Lho, lho tenaang sedikit dong Aam, Om kok tidak mengerti maksud Ami”, jawabku dengan sedikit gemetar.
“aah om ini pura-pura tidak mengerti, padahal Ami melihatnya cukup lama apa yang om lakukan dengan Mbak Asih di kamarnya.”

Aku jadi benar-benar kaget mendengar kata-kata Ami, yang rupanya cukup lama melihat apa yang kukerjakan dengan Asih, tapi aku masih berusaha tetap tenang dan berpikir, “Masak sih kalah dengan anak kemarin sore?”
“Ami..”, kataku lirih tapi tetap kubuat agar setenang mungkin,
“Jadi Ami lama melihatnya? Kok Ami sampai tahu sih”, tanyaku lagi. Dengan tetap menunjukkan wajahnya yang serius segera Ami menceritakan bahwa tadi malam, sewaktu selesai pipis di kamar mandi dan mau kembali ke kamarnya, samar-samar seperti mendengar orang sedang merintih. Karena berpikiran pasti ada yang lagi sakit, lalu Ami mencari dari mana datangnya suara rintihan itu dan ternyata datangnya dari kamar mbaknya. Tetapi karena rintihannya terdengar bukan seperti rintihan orang sakit, Ami membatalkan niatnya untuk masuk kamar mbaknya, tetapi hanya mengintip lewat korden yang menutupi pintu kamarnya Asih yang setengah terbuka dan diperhatikannya agak lama. Ami segera meninggalkan kamar mbaknya dan lalu pergi tidur karena Ami menyangka kalau aku melihatnya sewaktu wajahku menatap ke arah pintu kamar Asih.

“Oooh, Ami melihatnya cukup lama yaa? jadi tahu doong semuanya”, kataku seperti bertanya tapi tidak mendapat jawaban dari Ami yang tetap membisu.
“Amiii”, kataku tetap lirih sambil kupegang tangannya,
“Toloong doong Am, jangan cerita ke orang lain apalagi ke Ibu dan Mbak Sri, om janji tidak ngulangi lagi deeeh dan om mau deh bantu Ami apa saja, asaal Ami tidak cerita-cerita”, kataku lanjut. Ami tidak segera menjawab kata-kataku dan juga tidak berusaha melepas tangannya yang kupegang, tapi tiba-tiba Ami menarik tangannya dari peganganku dan balik memegang tanganku sambil mengguncangnya serta berkata,
“Jadiii om mau bantu Ami?” Mendengar kata-kata Ami terakhir ini, dadaku terasa agak plong.
“Amiii, seperti kata om tadi, om akan bantu Ami apa saja asaal Ami janji tidak cerita-cerita”, jawabku dengan sedikit penuh kekhawatiran.
“Jadiii apa yang bisa Om bantu buat Ami?” tanyaku melanjutkan.
“Amiii janji deeeh om, cuma Ami saja yang tahu”, kata Ami lalu diam sebentar.
“Oom begini..” kata Ami lalu dia menceritakan kalau pacarnya mau ulang tahun besok dan Ami mau mentraktir makan dan memberikan hadiah ultah pacarnya, karena dulu dia juga diberi hadiah sewaktu ultah, tetapi waktu kemarin minta ke ibunya bukannya diberi tetapi malah dimarahi. Setelah Ami menyelesaikan ceritanya lalu kutanya,

“Amiii…, Ami butuh uang berapa..?” Ami tidak segera menjawab, tapi kemudian katanya, “Yaa terserah om saja seratus ribuu juga boleh Om”, katanya sambil meremas tanganku yang dari tadi dipegangnya. Tidak kusangka aku bisa diperas oleh anak kecil, tapi yaa.. apa boleh buat daripada rahasia terbongkar, kataku dalam hati sambil terus kucabut dompetku dari kantong belakang dan mengeluarkan uang sebesar 250 ribu dan kusodorkan ke tangan Ami sambil kukatakan, “Nih Am, om kasih dua ratus lima puluh ribu buat Ami tapi sekali lagi janji lho yaa?” Ami menyambut uang yang kusodorkan sambil memelototkan matanya seperti tidak percaya serta berseru “Betuuul niiih Om?” dan aku menjawabnya dengan senyuman saja dan tiba-tiba Ami berdiri, memelukku sehingga kedua payudaranya yang kurasa lebih kecil dari payudaranya Asih kakaknya menempel di dadaku serta terus mencium pipiku sambil berseru “Maa kasiih yaa om, Ami janjiii deeh”, dan langsung mau lari kabur karena kesenangan. Tetapi langkahnya tertahan ketika tangannya kupegang dan segera kukatakan, “Amiii tunggu dulu dooong kita ngobrol dulu mumpung tidak ada orang.” “Ngobrol apaan sih om”, tanya Ami sambil duduk kembali di kursinya.

“Ami, om mau tanya yaa, tadi malam Ami melihatnya sampai lama sekali kenapa sih? pasti Ami pernah melakukannya juga yaa dengan pacar Ami?”
“aahh om siiih mancing-mancing”, jawab Ami sambil tertawa cekikikan.
“Benarkan Am? Buat apa sih om mancing-mancing, lihat dari jalannya Ami saja, Om sudah yakin kok kalau Ami sudah pernah”, kataku sedikit serius agar Ami mempercayai omongan bohongku, padahal dari mana tahunya, kataku dalam hati. Ami sepertinya sudah termakan dengan omonganku, lalu sambil menggeser kursinya mendekati kursi yang kududuki Ami segera bertanya,
“Bee..tul yaa om? Jadi kira-kira ibu apa juga tahu om?”
“Aduuuh mati.. saya Om, kalau ibu sampai tahu?” kata Ami sedikit sedih dan ketakutan. Karena aku sudah bisa menguasai Ami, lalu kuteruskan saja gombalanku.
“Amiii, coba deh ceritain ke om dan om juga yakin kalau ibu tidak akan tahu, karena sesama wanita biasanya tidak bisa melihat gelagat-gelagatnya”, kataku dan kelihatannya Ami percaya betul dengan gombalanku.

Setelah diam sebentar dan mungkin Ami sedang berpikir dari mana mau memulai ceritanya, lalu setelah menarik nafas panjang kudengar Ami mulai bercerita, “Begini om….” untuk menyingkat cerita, jadi pada prinsipnya Ami sudah dua kali melakukan dengan pacarnya yang duduk di kelas 2. Pertama, dilakukan di rumah pacarnya, tapi baru saja menyenggol barang Ami, eh.. sudah muncrat dan yang kedua katanya kira-kira dua minggu yang lalu dan kembali dilakukan di rumah pacarnya, barang Ami terasa sakit sewaktu pacarnya mulai menusukkan barangnya, tapi ketika Ami baru memegang barang pacarnya, eh.. tiba-tiba barang pacarnya mengeluarkan cairan putih dan langsung letoi, kata Ami sambil terus ketawa cekikikan.

“Oom.., apa sih enaknya gituan?” tanyanya.
“Ami kok tidak pernah merasakan apa-apa, tapi yang tadi malam sepertinya Mbak Asih kok terus-terusan merintih keenakan dan om juga begitu”, katanya lagi.
“Memangnya nikmat yaa om?” Gila juga anak-anak sekarang ini, pikirku, sudah berani berbuat sejauh itu padahal Ami baru kelas 1 SLA.
“Yaa nikmat doong Miii”, kataku sambil kuusap-usap salah satu pipinya yang terasa sangat mulus dengan punggung tanganku dan kelihatannya Ami diam saja dan menikmati usapan itu.
“Pacar Ami saja yang payah yang tidak bisa membuat Ami nikmat memangnya Ami kepingin yaa”, sambungku.
“Iiihh om genit aah”, jawab Ami sambil menepuk pahaku agak keras lalu terdiam sesaat seperti sedang berpikir.
“Oom..” kata Ami sambil terus berdiri dari kursi,
“Ami mau pergi dulu yaa mau cari-cari hadiah.”
“Oh iyaa.. om yang tadi terima kasih yaa”, katanya lagi sambil terus beranjak meninggalkanku, tapi baru beranjak selangkah Ami segera berbalik melihatku sambil berkata,
“Oom, nanti malam tolong ajarin Ami pelajaran kimia yaa?” Karena takut Asih curiga lalu kujawab saja permintaan Ami,
“Tidak mau ah Am, besok siang saja nanti Mbak Asih curiga.”
“Lho Om Tris tidak tahu yaa kalau Mbak Asih dan ibu tadi pagi pergi ke Surabaya mau lihat Bapak?”
“Apa tadi tidak pamit, Om?” kata Ami sambil terus pergi tanpa menunggu jawabanku.

Malam harinya setelah selesai mendengarkan Dunia Dalam Berita dan beranjak mau mengunci pintu-pintu rumah mertuaku lalu terus tidur, muncul si Ami dari rumahnya sambil agak berlari dan memegang pintu yang akan kututup serta langsung berkata,
“Lho om sudah mau tidur?”
“Iyaa Am, om sudah ngantuk”, jawabku malas.
“Yaa om kok gituuu, katanya mau ngajarin Ami, ayo dong om ajarin pelajaran kimia”, rengek Ami sambil mengguncang tanganku. Melihat Ami hanya pakai celana pendek dan baju yang cekak sehingga perut dan pusarnya kelihatan, memdadak kantukku jadi hilang, lalu sambil keluar dari pintu dan menutupnya dari luar, lalu kujawab,
“Ayoo kalau mau Ami begitu.” Ami duduk di tempat di satu satunya tempat duduk yang diduduki oleh Asih kemarin di meja makan sambil membuka buku pelajarannya dan karena tidak ada kursi lain, aku berdiri di belakang kursi yang diduduki Ami. Ketika aku menuliskan dan menerangkan rumus-rumus kimia, aku hanya menjulurkan kepalaku kesamping kanan kepala Ami dan sesekali kualihkan pandanganku ke dalam baju Ami dan terlihat payudara Ami yang kecil tanpa memakai BH. Melihat ini penisku mulai berdiri di dalam celana pendek yang kupakai, sedangkan Ami tetap serius mendengarkan keterangan-keterangan yang kuberikan dan tidak menghindar atau menjauhkan badannya kala aku beberapa sengaja menempelkan pipiku ke pipinya. Pada saat Ami sedang menulis jawaban soal-soal yang kuberikan, kudekatkan wajahku ke wajahnya dan sengaja kuhembuskan nafasku ke dekat kupingnya sehingga Ami sambil terus menulis berkomentar, “Oom, nafasnya kok panas?” Komentar Ami tidak kujawab, tapi segera kucium pipinya dua kali dan Ami segera menghentikan menulisnya dan berkata, “Oom, jangan nakal dong”, sambil kembali mau menulis.

Karena nafsuku semakin meningkat dan Ami hanya mengatakan begitu, keberanianku semakin bertambah dan pelan-pelan tanganku menyelusup lewat baju pendeknya bagian bawah dan kudekap kedua payudara Ami yang kecil itu serta kuremas pelan, dan kulihat dia melepaskan pinsil yang dipegangnya dan menutup kedua matanya sambil berdesah lirih, “Ooom ssshh jaangaan Ooom”, dan memegang serta meremas pelan kedua tanganku dari luar bajunya. Sambil tetap kuremas-remas payudaranya, segera wajahku mencari bibir Ami dan kucium dan Ami seperti kesetanan melumat bibirku dengan ganasnya sehingga dalam benakku terlintas pikiran anak sekecil ini kok sudah pintar berciuman. Dengan masih tetap kudekap kedua payudaranya dan berciuman, kugunakan kekuatan badan dan sikuku untuk merubah posisi kursi yang diduduki Ami dan setelah kuanggap baik, sambil tetap kucium bibirnya kulepaskan dekapan tangaku pada payudaranya dan kuraih kedua pahanya serta kubopong badan Ami serta kukatakan, “Amiii, kitaa ke kamar Mbak Asih yaa”, Ami tidak menjawab tapi hanya memegangkan tangannya ke bahuku.

Kutidurkan Ami di tempat tidur kakaknya dan segera kuangkat bajunya dari bawah serta kujilat dan kuhisap-hisap payudara Ami yang masih terbilang kecil, maklum baru kelas 1 SLA tapi sudah berani belajar intim dengan pacarnya dan Ami meremas-remas rambutku sambil mendesah, “Ooom, Ooom ssshh ssshh Ooom.” Kuteruskan jilatan dan isapanku di kedua payudaranya bergantian dan kugunakan tangan kananku berusaha mencari dan membuka celana pendek Ami dan setelah kutemukan ternyata celana pendeknya memakai ritsluiting. Kubuka ritsluitingnya pelan-pelan dan kususupkan tanganku kedalam CD-nya serta kuelus permukaan vaginanya yang kecil dan terasa masih licin dan mulus seperti punya bayi tanpa ada bulu-bulunya dan ketika kuelus permukaan vaginanya, terasa Ami menggerakkan pinggulnya pelan dan masih tetap dengan desahannya yang kudengar semakin agak keras, “Ooomm ssshh ssshh Ooom.” Lalu sambil mengelus vagina Ami yang cembung, kuselipkan jari tengahku di belahan vaginanya dan terasa sudah basah sekali dan jari telunjukku itu kutekan agak masuk dan kuusap-usapkan sepanjang belahan vaginanya dan ketika sampai di clitorisnya yang terasa kecil, kuusap-usapkan di seluruh clitorisnya sehingga membuat Ami menggelinjang agak keras dan mendesah semakin kuat, “Ooom ssshh ooom jaangaan oom ssshh”, dan desahan ini membuat nafsuku semakin tinggi dan penisku semakin tegang dan agak sakit terjepit celana pendekku.

Perlahan-lahan aku menurunkan badanku kebawah dan jilatanku pun sudah disekitar perut dan pusarnya, dan kedua tanganku kugunakan melepas celana pendek dan celana dalam Ami bersamaan, sedang tangan Ami masih tetap meremas-remas rambut dan kepalaku. Sambil melepas kedua celananya, mulutku sekarang sudah sampai di vaginanya yang menggembung mulus tanpa bulu-bulu sama sekali dan tercium bau aroma vagina yang khas. Karena Ami masih tetap merapatkan kedua kakinya, lalu kugunakan kedua tanganku untuk membuka kedua kakinya. Pertama-tama agak susah karena Ami berusaha menahan supaya kakinya tetap rapat sambil terdengar rintihan desahannya, “Ooom jaangaan ooom suudaah oom”, tetapi ketika lidahku kujulurkan dan kujilati sepanjang belahan vagina Ami yang agak terbuka itu, pertahanan kaki Ami untuk tetap merapat itu sudah hilang dan kedua kakinya dapat kubuka lebar dengan mudah dan terlihat bagian dalam vagina Ami yang basah dan kemerahan itu dan malah terasa Ami menaik-naikkan pinggulnya tapi tetap mengeluarkan rintihannya, “Ooom, suudaah ooom ssshh oom.”

Semakin Ami mendesah atau merintih, nafsuku semakin kuat dan kujilati seluruh bagian vagina Ami dan sesekali klitorisnya kuhisap-hisap membuat desahan Ami semakin kuat dan kedua tangannya semakin keras meremas-remas rambut dan menekan kepalaku sehingga seluruh wajahku terasa basah semuanya dengan cairan yang keluar dari vaginanya, dan beberapa saat kemudian kurasakan gerakan pinggulnya naik turun semakin cepat dan jambakan di rambutku semakin kuat serta desahannya semakin keras, “Ooohh oooh ooom aduuuh ooom ssshh aahh oooh”, dan aku jadi agak kaget karena tiba-tiba kepalaku terjepit kedua kakinya yang dilingkarkan di badanku serta kepalaku ditekan kuat-kuat ke dalam vaginanya serta tubuhnya bergerak ke kiri dan ke kanan sambil mengeluarkan erangan agak kuat, “Aah aah aduuh Ooom aahh Ooom enaak”, lalu Ami terkapar diam, kedua kakinya yang tadi menjepit kepalaku jatuh di atas kasur disertai nafasnya terengah-engah dengan cepat, rupanya Ami telah mencapai orgasmenya.

Kuhentikan jilatanku di vaginanya dan merangkak ke atas dan kupeluk Ami serta kuelus-elus rambutnya, serta merta dengan nafasnya yang masih tersengal-sengal, Ami menciumi pipiku serta berkata,
“Ooom aduh kok begitu yaa rasanya.”
“Itu belum seberapa Am, nanti pasti Ami akan merasakan yang lebih nikmat lagi”, kataku meyakinkannya sambil tetap kuusap-usap rambutnya dan kucium pipinya, Ami tidak menjawab tapi malah menutup kedua matanya dan kelihatan sedang mencoba mengatur nafasnya. Setelah kuperhatikan, nafas Ami mulai teratur, lalu sambil kucium pipinya kubisiki, “Amiii sekarang oom boleh masukin punya oom ke punya Amiii.” Ami yang masih menutup matanya tidak segera menjawab. Setelah kutunggu sebentar dan tetap tidak ada jawaban lalu kuulangi bisikanku di dekat telinganya, “Boleh Aam?” dan Ami membuka matanya sebentar dan melihatku dengan wajah yang agak khawatir serta menjawab tapi dengan suara agak lirih yang hampir-hampir tidak terdengar,

“ooom, Ami takuut oom.”
“Takut apa Am, tanyaku pelan, oom nanti pelan-pelan kok, tidak apa-apa”, sambil pelan-pelan kunaiki badan Ami dan kupegang kepalanya dengan kedua tanganku serta kuelus-elus rambutnya serta kucium kedua pipinya bergantian, sementara kurasakan kedua kaki Ami bergerak agak terbuka sedikit, entah karena menghindar tindihan kakiku atau memberikan persetujuan permintaanku serta kudengar suaranya kembali yang pelan di dekat kupingku, “Ooom, Amiii takuuut jaangaan Ooom.” Sambil kembali kucium pipinya, kubisiki Ami, “Amm tidak apa-apa, Oom pelan-pelan kok”, sambil segera kugunakan tangan kananku untuk memegang batang penisku serta mulai kuusap-usapkan kepala penisku di belahan vagina Ami, sedangkan Ami yang mungkin merasakan vaginanya tergesek oleh kepala penisku lalu dia membuka kakinya lagi agak lebar. Kepala penisku sekarang kumasukkan sedikit di belahan vaginanya dan kuusapkan ke atas dan ke bawah beberapa kali sepanjang belahan vagina Ami yang masih sangat basah. Lalu ketika kepala penisku berada di bagian bawah vaginanya dan kurasakan sudah tepat di lubang yang ku tuju, lalu kucoba menekannya ke dalam sedikit dan kusetop tekanan penisku ketika terasa mentok. Karena tidak ada reaksi dari Ami, segera kutekan lagi penisku lebih dalam dan kuperhatikan wajah Ami agak meringis sambil berkata agak berbisik “Aduuh oom saakiit jaangaan oom”, mendengar suara ini segera kuhentikan tekanan penisku ke dalam vaginanya.

Setelah kudiamkan sebentar, kutekan lagi penisku dan kembali kudenga,r “ooom saakiiit”, sambil kurasakan kuku Ami mencengkeram di punggungku. Aku jadi berpikir, kata Ami penis pacarnya sudah pernah masuk walau belum semuanya, kok sekarang sulit betul masuknya, padahal ukuran senjataku termasuk ukuran normal-normal saja. Setelah beberapa kali kucoba tekan dan setiap kali kuhentikan karena Ami berkata sakit. Pada tekanan penisku yang entah ke berapa kalinya dan tekanan penisku kulakukan agak kuat, tiba-tiba penisku terasa seperti menyobek sesuatu crrreeet, terperosok sedikit lalu terjepit dan bersamaan dengan itu kudengar Ami agak berteriak, “Aduuh oom, sakiiit.” Kemudian dari kedua matanya yang masih tertutup terlihat keluar air mata. Kuhentikan tekanan penisku dan aku juga tidak berusaha untuk menariknya keluar, jadi kubiarkan penisku terjepit di vaginanya dan bisa kupastikan kalau penisku saat ini sudah masuk sedikit dalam vagina Ami. Lalu kulepas pegangan tanganku pada batang penisku dan kembali kugunakan kedua tanganku untuk memeluk kepala Ami serta mengelus rambutnya serta kucium kedua matanya yang tergenang air mata.

Lalu kucium bibir Ami yang serta merta dengan matanya masih tetap merem mengimbangi ciumanku dengan menjulurkan lidahnya ke dalam mulutku dan kesempatan ini kugunakan untuk menekan penisku masuk lebih dalam ke vagina Ami dan kulihat Ami merapatkan matanya lebih rapat lagi serta melepas ciumanku serta berteriak kecil, “Aah sakiit ooom”, dan kembali kuhentikan tekanan penisku walau posisinya sekarang mungkin sudah setengahnya masuk kedalam vagina Ami dan kembali kuciumi kedua pipinya dengan harapan Ami akan lebih tenang. Ketika kembali kucium bibirnya dan Ami kembali meladeni ciumanku dengan menjulurkan lidahnya ke dalam mulutku, kembali kugunakan kesempatan ini untuk menekan penisku masuk semuanya ke dalam vaginanya dan kulihat sekarang hanya memejamkan matanya lebih rapat lagi seakan menahan rasa sakit tapi ciumanku tidak dilepaskannya dan untuk sementara kudiamkan penisku tanpa gerakan. Beberapa saat kemudian, sambil tetap masih berciuman kugerakkan penisku naik turun pelan-pelan dan kulihat sesekali Ami lebih merapatkan kedua matanya seperti menahan rasa sakit.

Tetapi lama kelamaan sambil tetap kumasuk keluarkan penisku dalam vaginanya, wajah Ami sudah tidak lagi kelihatan tegang lalu gerakan penisku sedikit kupercepat dan aku tidak menyangka kalau sekarang Ami juga mulai menggerakan pinggulnya pelan-pelan. Beberapa saat kemudian kuhentikan gerakan penisku keluar masuk sambil kubisiki, “Amiii coba Ami sekarang hentikan gerakan pinggul Ami dan konsentrasikan otot-otot vagina yang bagian dalam sehingga vagina Ami bisa menjepit dan menghisap penis oom.” Ami tidak menjawab tapi segera menghentikan gerakan pinggulnya dan diam sambil tetap masih memelukkan kedua tangannya di punggungku. “Ooom, Amiii tidak bisaa”, kata Ami lirih, “Cobaa teruuus aam tadi sudah terasa vagina Ami sudah menjepit-jepit, cuma masih lemah”, jawabku sambil kucium bibirnya. Kulihat Ami tetap diam tapi wajahnya dengan matanya masih tertutup, terlihat seperti lebih berkonsentrasi dan sekarang kurasakan jepitan-jepitan vagina Ami terasa lebih kuat dan membuat penisku lebih nikmat karena terpijit-pijit vagina Ami dan kubisiki dengan desahanku dan sekalian memberitahukan kalau usahanya mempraktekkan pelajaran kilatku sudah cukup berhasil.

“Amiii yaa begituuu Aam teruuus enaak aam oouuhh, yaa begituuu enaak aam”, dan sehingga secara tidak sadar aku kembali menggerakkan penisku keluar masuk vaginanya lagi dengan agak cepat dan Ami pun segera menggoyangkan pinggulnya serta jepitan-jepitan vaginanya pada penisku terasa semakin kuat dan kembali kudengar desahan Ami lirih, “Ooom, ooom ooouuhh ssshh oouuuhh enaak ooom”, berulang-ulang sambil kedua tangannya menekan-nekan punggungku dan kuimbangi desahan Ami dengan bisikan berulang-ulang, “Yaa Aam, teruuus saayaang aaohh teruus aam, jepit yang keras aam aduuuh enaak sayaang.” Mungkin merasa usaha menjepit-jepit penisku berhasil dan mungkin menjadi terangsang dengan bisikan-bisikanku, Ami semakin mempercepat gerakan pinggulnya dan tangannya semakin kuat menekan punggungku dan kadang terasa agak sakit karena kuku-kuku tangannya seakan menusuk punggungku serta desahannya semakin kuat terdengar, “Oooh ooouuh Ooom, ooouuh aduuuh Oom”, dan kuimbangi ini semua dengan mempercepat kocokan penisku keluar-masuk vaginanya yang kayaknya sudah sangat becek dengan cairan-cairan sehingga sangat jelas terdengar bunyi ccrooot ccrrroottt crrooottt.

Beberapa saat kemudian kurasakan gerakan pinggul Ami semakin cepat dan liar serta kepalanya digeleng-gelengkan ke kiri dan ke kanan dan wajahnya menegang seperti menahan sesuatu dan tiba-tiba Ami mengeluarkan teriakan agak keras dan panjang, sambil menekankan tangannya kuat-kuat dipunggungku, “Ooouuhh aahh Ooom, aaccrrhh oouuh aduuh oom aarrrcchh”, dan terus terkulai lemas dengan nafas terengah-engah, rupanya Ami sudah mencapai orgasmenya. Walaupun nafsuku sudah mendekati puncak tapi aku masih bisa menahan diri agar spermaku tidak keluar dan melihat Ami sudah terkapar lemas dan untuk memberi kesempatan Ami melepaskan lelahnya aku segera menghentikan gerakan penisku keluar-masuk vagina Ami, tapi masih tetap berada di dalam vaginanya sambil kupegang kepala dan kuciumi seluruh wajahnya. Setelah nafas Ami mulai agak teratur, sambil mencium pipiku Ami berkata lirih, “Ooom, Amiii capeek ooom, sudaah yaa ooom?” sambil tangannya terasa berusaha sedikit mendorong punggungku. “Amiii, oom kan belum selesai sayaang? Ami istirahat dulu saja sebentar sampai cepeknya hilang”, sahutku lirih sambil kucabut penisku dari dalam vaginanya dan tiduran di sampingnya dengan tangan kiriku kuletakkan di bawah kepalanya sambil kuelus-elus rambutnya serta tangan kananku kuremaskan pelan di salah satu payudaranya yang kecil dan hanya terlihat menonjol sedikit karena Ami tidur telentang dan Ami dengan masih merapatkan matanya, hanya diam saja serta sedikit meremaskan tangan kirinya ke tanganku yang sedang mendekap payudaranya.

Setelah berdiam beberapa saat, lalu sambil kucium pipinya segera kubisiki di dekat telinganya, “Amiii masih capeeek yaang?” Ami tidak segera menjawab bisikanku melainkan hanya sedikit meremaskan tangannya yang ada di tangan kananku, entah apa yang dimaksud dengan remasan ini. Setelah kutunggu sebentar dan masih tidak ada jawaban dari Ami, lalu segera kucium pipinya dan kubisiki lagi, “Amiii, kalau sudah tidak capek toloong doong isap punya oom dengan inii yaa sayaang”, sambil kuletakkan jari tangan kananku di mulut Ami dan kembali kuremaskan di payudaranya serta kucium lagi pipinya sambil menunggu jawaban Ami. Ami membuka matanya sebentar seperti terperengah mendengar kata-kataku tapi kemudian matanya ditutup kembali seraya menjawab lirih. “Ooom, Ami tidak bisaa oom, Ami belum pernaah.” Aku segera menjawab, “Dicoba sayaang, nanti juga bisa”, kataku sambil terus bangun dan memiringkan badan Ami ke arah kanan serta aku duduk agak mengangkang sehingga penisku sekarang sangat dekat dengan wajah Ami. Lalu kupegang tangan kanannya dan kubimbing serta kupegangkan di batang penisku yang masih basah kuyup dengan cairan yang keluar dari vagina Ami, mula-mula jarinya seperti ditegangkan dan tidak mau memegang batang penisku, tapi setelah kuremaskan tanganku di jarinya, sekarang jarinya sudah memegang seluruh batang penisku walaupun terasa agak kaku sambil berkata lirih, “Jaangaan oom!”

Kemudian dengan tanganku masih menggenggam jarinya yang sudah menggenggam penisku, kubawa mendekati mulutnya dan sekarang kepala penisku sudah menempel pada mulutnya dan mungkin karena merasa mulutnya ditempeli penisku, Ami berusaha menggeleng-gelengkan kepalanya lemah sambil dari mulutnya berbunyi, “hhmm, hhmm.. hhmm”, tanpa kata-kata, mungkin karena takut membuka mulutnya. Usaha ini terus kulakukan sambil menggeser-geserkan kepala penisku di sepanjang mulutnya yang kecil mungil itu dan kadang-kadang sedikit kutekankan pada mulutnya yang semakin dirapatkan sambil tetap berbunyi, “Hhmm hhmm hhmm..”, tapi sekarang sudah tidak sering lagi menggelengkan kepalanya. Pada usahaku berikutnya, ketika kepala penisku kembali kutekankan lebih kuat pada mulutnya yang masih tertutup rapat itu, dari mulut Ami masih terdengar bunyi, “hhmm hhmm”, tapi tiba-tiba kudengar dia mengatakan “Jaangan”, dengan mulutnya sedikit terbuka, kesempatan ini tidak kusia-siakan, segera kusodokan kepala penisku pada mulutnya yang terbuka sedikit dan masuk seperempat batang penisku ke dalam mulutnya dan terdengar suara “hhpppp”, dari mulut Ami yang tidak sempat menyelesaikan kata-katanya tadi karena sekarang sudah tersumpal oleh penisku. “Ayooo aam tolooong diisaap yaang”, kataku sambil kulepaskan tangan kananku dan kugunakan untuk mengelus-elus rambut Ami dan dari mulut Ami hanya terdengar bunyi, “hhmm hhmm hhmm”, tanpa mau menghisap apalagi menggerakkan mulutnya.

Terpikir dalam benakku, mungkin Ami tidak mau berbuat lebih jauh mungkin malu karena wajahku ada di dekatnya, apalagi ini baru pengalaman pertamanya mengulum penis orang. Lalu aku berusaha merebahkan badanku di sampingnya sehingga sekarang kepalaku sudah berada di depan vaginanya (posisi 69) dan aku menjadi agak kaget karena di bibir vaginanya terlihat ada bekas darah yang sudah mengering. Aku jadi berpikir, kata Ami sudah pernah dengan pacarnya walau tidak masuk semua. Dasar Ami belum pengalaman, mungkin waktu itu punya pacarnya belum sampai masuk. Jadi aku rupanya yang beruntung dapat perawannya dan dengan agak was-was kucari di alas tempat tidur Ami mungkin ada tercecer di situ dan untungnya tidak ada, sehingga was-wasku menjadi hilang.

Segera saja kujilat-jilatkan lidahku pada belahan bibir vaginanya dan benar saja dugaanku tadi, sekarang Ami sudah berani menggerakkan tangannya yang memegang batang penisku dan mulutnya maju mundur walaupun masih pelan-pelan sehingga membuat penisku terasa nikmat dan secara tidak sadar aku menyuarakan, “Aaam teruus, Aam nikmaatt, aduuuh nikmat Yaang, teruuus sampai dalaam Yaang sedoot aam…”, sedangkan dari mulut Ami hanya kudengar suara “hhmm hhmm hhmm”, saja. Karena posisi badan Ami yang miring dengan kedua kakinya bertumpu satu dengan lainnya, sehingga membuat vaginanya menjadi rapat dan ini membuatku sulit untuk menjilati dan menyedot lubang vaginanya, lalu kuangkat kaki kirinya dan kuselipkan kepalaku di antara kedua kakinya, sehingga sekarang kepalaku bersandar pada kaki kanannya serta kugunakan kedua tanganku untuk memegang kedua bibir vaginanya dan membukanya lebar-lebar sehingga dengan mudah lidah dan mulutku menjilati dan menghisap bagian dalam vagina Ami yang kemerahan serta penuh dengan cairan itu sehingga terasa seluruh wajahku seperti basah semua dan mungkin jilatan dan hisapanku ini membuat nafsu Ami semakin tinggi sehingga membuat Ami semakin cepat dan semakin dalam mengulum penisku keluar masuk mulutnya dan sesekali disertai sedotan yang kuat serta kocokan tangannya di batang penisku semakin cepat disertai suara yang keluar dari mulutnya “Hhhmm hhmm hhmm hhmm”, semakin keras.

Ini semua membuat nafsuku semakin tinggi dan lagi-lagi secara tidak sadar, kubalik dan kuangkat badan Ami sehingga sekarang sudah berada di atas tubuhku dengan vaginanya menutupi seluruh mulutku dan sekarang makin leluasa mulut dan lidahku menjilati seluruh vaginanya tanpa perlu harus membuka bibir vaginanya dan kugunakan kedua tanganku bergantian kadang-kadang kucengkeramkan di pantatnya, kadang-kadang kuremas-remas kedua payudaranya yang kecil dan memijat badannya dan posisi ini pun yang ada di atasku, rupanya membuat Ami lebih bebas sehingga Ami dapat memaju-mundurkan mulutnya lebih jauh sehingga kadang-kadang penisku terasa ditelannya semua dan kocokan tangannya lebih cepat dan Ami pun menggerak pinggulnya naik-turun dengan cepat sampai kadang-kadang terasa sulit bernapas karena hidungku tertutup vaginanya. Hal ini berlangsung beberapa menit dan akhirnya aku merasa agak sulit mempertahankan agar spermaku jangan keluar dulu, lalu kudekapkan tanganku pada pantat Ami dan berteriak “aamm aam oom nggak tahaan mau keluaar ayooo yang cepaat aduhh Aam acrhh”, sambil kutekan penisku kuat-kuat ke dalam mulut Ami dan kutumpahkan spermaku di dalam mulutnya dan yang kudengar dari mulut Ami hanya suara, “aarcrhh aarcrhh aarrchh”, sambil melepas penisku dari mulutnya dan membantingkan badannya turun dari atas badanku.

Dengan nafasku masih terengah-engah, aku memutar badanku dan sambil kupeluk dan kucium dahinya aku bilang, “Aam terima kaasiih Sayaang”, sedangkan Ami sambil mengelap mulutnya yang penuh dengan ceceran spermaku dengan tangannya lalu memencet hidungku sambil berkata, “Ooom jahaat mau keluar tidak bilang-bilang sampai ada yang tertelan”, sambil terus memelukku dan mencium pipiku. Sambil balas kupeluk dan kucium bibirnya yang masih tercium bau spermaku, kubilang, “Sayaang tidak apa apa, itu vitamin kok.”

Setelah berciuman beberapa kali, lalu kubilang, “Aam, sudah malam oom mau pulang ya, terima kasih yaa aam”, kataku sambil terus bangkit dari tempat tidur serta melihat-lihat seluruh alas tempat tidur Ami, siapa tahu ada darah gadisnya yang tercecer dan untungnya tidak ada dan Ami pun segera bangkit dari tempat tidur dan segera mengenakan CD-nya sambil terus merangkulku dan mencium pipiku sambil berkata,
“Oom, Ami puaas Oom”, dan setelah berhenti sebentar dia lanjutkan kata-katanya,
“Oom kalau nanti Ami kepingin lagiii, gimana dong?”
“Lho kan ada pacar Ami”, kataku.
“aah tidak enak Oom, dia masih bodoh.”
Setelah selesai kukenakan celana pendekku lalu aku pamit.
“aam oom pulang yaa”, dan sekali lagi Ami mencium pipiku sambil berkata,
“Tidur yang nyenyak yaa.. oom.”

TAMAT
Comments (0)
Akibat Pergaulan Bebas 9:21 am

Pengalaman Sensasional

Satu lagi pengalamanku yang kutuangkan dalam tulisan, mungkin ini adalah
kejadian yang umum, tetapi bagiku.. Ini adalah pengalaman yang sensasional
dan terjadi pada masa sekarang. Dan untuk menghindari hal-hal yang tidak
diinginkan.. Sengaja nama pelaku aku samarkan, kecuali namaku.

Dalam posisiku sebagai sekretaris sekarang ini, maka hubungan dengan
relasi tidak bisa aku hindari.. Tugas entertaint selalu diberikan
kepadaku, mungkin bos ku tahu benar bagaimana memanfaatkan kecantikanku
didalam menghadapi klien atau relasinya, hingga akhirnya aku berkenalan..
Sebut saja namanya Mas Andy.. Seorang eksekutif muda.. Usianya kira-kira
30 tahun, tinggi 175 cm dengan bentuk tubuh proposional. Mas Andy ini
sudah berkeluarga dan punya 2 putra, dalam sehari bisa 3-4 kali Mas Andy
menghubungiku via telepon..

Dari membicarakan hal-hal yang berhubungan dengan bisnis sampai ke
permasalahan rumah tangganya.. Hingga akhirnya aku mendengarkan pengakuan
dari Mas Andy, ternyata dia seorang bisexual.. Gila..? Memang gila..
Tetapi aku malah antusias mendengarkan ceritanya, dan menurut
pengakuannya.. Sekarang ini dia juga jalan dengan salah satu karyawannya..
Dan mereka telah jalan 1 tahun lamanya tanpa sepengetahuan siapa-apa..
Kecuali aku..

Sejak pengakuannya itu.. Mas Andy sering menelponku.. Dan apabila
pembicaraan sudah menyinggung hubungan dengan karyawannya itu.. Aku tidak
sungkan untuk mengodanya, kata.. Wah.. Asyik nih main pedang.. Atau gimana
sih Mas ML nya.. Candaku selalu dijawab dengan tertawa saja oleh Mas Andy.

Hari itu adalah hari jumat, dan seperti biasa Mas Andy kembali
menghubungiku via telepon.

“Hallo.. Selamat sore Nia” serunya.
“Oh.. Mas Andy.. Selamat sore juga Mas” sahutku.
“Apa nih acaranya nanti malam?”
“Wah.. enggak ada acara nih Mas”
“Gimana kalau nanti malam kita jalan.. Nanti kukenalkan temanku” seru Mas
Andy lagi.

Aku tahu yang dimaksud “temannya” itu adalah teman jalannya, dan memang
akupun penasaran seperti apasih teman Mas Andy itu.

“Boleh aja Mas” jawabku.
“Oke.. Nanti aku jemput jam 8 malam yaa” serunya lagi.

Jam 19.30 aku sudah berdandan rapih, aku memakai t’shirt dan jeans ketat,
dibalik itu aku memakai bra dan g-string berwarna pink.. Warna favoritku,
rambut hitamku yang panjang kubiarkan terurai kebelakang, dan benar..
Tepat jam 20.00 Mas Andy datang menjemputku, aku pun langsung masuk ke
dalam mobilnya dan duduk di depan.

“Wah.. Malam ini kamu cantik sekali Nia” puji Mas Andy, aku hanya
tersenyum saja, lalu.
“Nia.. Kenalkan temanku” seru Mas Andy.

Ternyata dibangku belakang duduk seorang laki-laki, aku pun menoleh
sembari mengulurkan tanganku.

“Nia.. “sahutku,
“Joni..” sahut pria itu sembari menjabat tanganku.

Mhmm.. Ternyata yang namanya Joni ini macho juga.. pikirku. Selama
perjalanan kami banyak ngobrol, dan dari pembicaraannya aku tahu kalau
usia Joni ini sepantaran dengan aku yaitu 24 tahun, dan dia berasal dari
daerah.. Dikota ini dia mengontrak rumah dan tinggal sendirian.

Malam itu kami habiskan dengan duduk-duduk dan ngobrol di sebuah cafe..
Dan aku merasa geli juga melihat tingkah laku Mas Andy dan Joni..
kadang-kadang dalam tawa canda mereka.. Suka saling pandang dan
sekali-kali saling berpegangan tangan layaknya seperti dua orang kekasih..
Apalagi sedari tadi tidak henti-hentinya mereka berdua memesan draft
beer.. Minuman ringan kata mereka.. Sementara aku hanya memesan long
island.. Minuman ringan juga.. menurutku?

Jam sudah menunjukkan pukul 23.00 ketika kami keluar dari cafe itu, tampak
sekali Mas Andy dan Joni sudah mulai dipengaruhi alkohol, sedangkan aku..
kepalaku mulai rada-rada pusing.. Karena pengaruh alkohol juga. Dari situ
kita pergi ketempat Joni.. Jelas maksud Mas Andy adalah mendrop Joni
terlebih dahulu, tetapi ternyata kamipun mampir ditempat Joni.. Dan aku
menurut saja ketika disuruh turun.. Masuk ke dalam rumah Joni, akupun
duduk diruang tamu.. Sementara Mas Andy dan Joni masuk ke dalam.. Aku
tidak tahu apa yang mereka lakukan didalam..

Tetapi menunggu adalah pekerjaan yang paling menyebalkan.. Apalagi
pengaruh alkohol sudah memenuhi kepalaku, aku pun berjalan ke dalam..
Menuju kesebuah kamar yang tidak tertutup.. Tampak cahaya lampu terang
dari dalam kamar itu, ketika aku melihat ke dalam.. Terkejutlah aku..
Tampak Mas Andy dan Joni sedang.. berdiri ditengah kamar.. Dan berciuman..
Hah! Mas Andy hanya mengenakan jelana jeansnya.. Sementara kaosnya sudah
entah kemana.. Dan Joni dia hanya memakai celana kolor saja..

Aku hanya berdiri bengong diambang pintu.. Melihat adegan itu.. Tampak
mereka sangat ganas sekali berciuman.. Joni lebih sedikit agresif.. Dia
berusaha melepas celana jeans Mas Andy hingga akhirnya terlepas lalu
celana kolor Mas Andy pun dilepasnya.. Maka tampaklah batang kemaluan Mas
Andy yang.. Besar dan tegang itu.. Ohh, segera Joni mencekal batang
kemaluan Mas Andy itu lalu dikocok-kocoknya dengan tangan kanannya..
Setelah itu Jonipun berjongkok dihadapan Mas Andy.. Dan.. Astagaa..

Dengan ganas Joni mengisap batang kemaluan Mas Andy itu.. Woowww.. Sungguh
indah sekali pemandangan di depanku itu.. Tampak batang kemaluan Mas Andy
langsung dihisap oleh Joni.. Dijilat-jilat kepalanya terus dihisap lagi..
Joni mengerakkan kepalanya maju mundur sehingga tampak batang kemaluan Mas
Andy keluar masuk mulut Joni.. Melihat itu semua membuat pikiranku jadi
kacau.. Tetapi aku tidak mau berkedip sekalipun melihat itu..

Tiba-tiba Mas Andy menoleh kepadaku.. Dan tersenyum..

“Nia.. Jangan bengong aja.. Ayo masuk kesini” serunya.

Aku sempat terkejut.. Tetapi akupun berhasil menguasai diriku.. Lalu aku
membalas senyum Mas Andy itu.. Dan.. Aku melangkah masuk ke dalam.. Duduk
ditepian ranjang, dan memperhatikan adegan itu tanpa berkedip.. Maklum..
Aku suka banget melihatnya, kemudian Mas Andy menyuruh Joni duduk
disampingku.. Dan dia berlutut dilantai diantara kedua kaki Joni..
Ditariknya celana kolor Joni itu hingga terlepas.. Tampak olehku batang
kemaluan Joni.. yang berdiri tegak itu.. Tidak terlalu besar jika
dibanding milik Mas Andy.. Tapi mengairahkan juga.. Oohh..

Dengan rakus Mas Andy langung memasukkan batang kemaluan Joni ke dalam
mulutnya.. Dijilatinya.. Dari kepala sampai kebiji pelirnya.. Ohh
indahnya.. Diam-diam akupun terangsang hebat.. Sementara Joni hanya
mengelinjang keenakan dengan mata setengah terpejam.. Lalu Mas Andy
mengangkat kedua paha Joni dan ditekuknya ke atas.. Lalu dia menjilati
bagian bawah biji pelir Joni.. Tampak tubuh Joni tersentak-sentak
keenakan.. Gilaa.. Aku hanya duduk menonton adegan itu.. Sungguh
mengairahkan..

“Hayoo.. Nia.. Ikutan” seru Mas Andy.

Aku hanya tersenyum saja.. Tapi gairahku.. Ohh.. Aku sudah tidak tahan
lagi, akhirnya akupun mendekatkan kepalaku ke batang kemaluan Joni itu..
Tercium aroma khas.. Penis laki-laki, kemudian kujuiurkan lidahku
menjilati batang kemaluan Joni.. Aaahh.. Nikmatnya.. Kukulum batang
kemaluan Joni hingga.

“Aahh.. Nggkk.. Uuhh..” terdengar erangan Joni..

Rupanya hal itu membuat Mas Andy kepingin batang kemaluannya dioral
olehku, lalu dia berlutut ditepi ranjang dan menyodorkan batang
kemaluannya hingga menyentuh pipiku.. Gilaa.. Aku tidak mau menyia-nyiakan
itu.. Segera kukulum kepala batang kemaluan Mas Andy..

“Iyaa.. Iyaa.. Oohh” terdengar desisan Mas Andy..

Kukulum dan kujilati kedua batang kemaluan itu secara bergantian, dari
sudut mataku.. Aku melihat Mas Andy memperhatikan perbuatanku itu demikian
juga Joni.

Lama kuoral kedua batang kemaluan mereka, kemudian Joni merubah
posisinya.. Ia menungging ditepian ranjang.. Sementara Mas Andy mengambil
sesuatu dari atas meja.. Akupun sadar apa yang akan mereka lakukan,
rupanya permainan akan segera dimulai.. pikirku, tampak Mas Andy mengolesi
batang kemaluannya dengan cream yang ia tuangkan dari botol, dan aku pun
segera beraksi.. Kujilati anus Joni yang ditumbuhi bulu-bulu.. itu..
Terasa beberapa kali tubuh Joni tersentak-sentak karena nikmat..
Kucolok-colok ujung lidahku ke dalam..

“Aaahkk.. Ooh.. Nggkk..”

Joni mengerang keenakan.. Lalu Mas Andy menyerahkan botol cream itu
padaku.. Kutuang isinya ketelapak tanganku.. Lalu kuolesi ke sekitar anus
Joni.. Sembari sekali-kali kususupkan telunjukku ke dalam lobang pantat
Joni itu.. Setelah itu Mas Andy berdiri dibelakang bokong Joni dan segera
mengarahkan batang kemaluannya ke lobang pantat Joni.. Akupun tidak
tinggal diam.. Kubuka belahan pantat Joni.. Hingga tampak lobang anus Joni
merekah.. Dan.. Bless.. Perlahan tapi pasti.. Batang kemaluan Mas Andy
masuk ke dalam..

“oohh.. Nggkk.. Aahh” erang Joni..

Setelah itu tampak gerakan erotis pinggul Mas Andy maju-mundur.. Akupun
turun dari ranjang sembari memperhatikan adegan itu.. Ohh.. Sangat..
Sangat sensasional.. Dan tanpa sepengetahuan mereka.. Aku mulai melepas
pakaianku.. Hingga telanjang bulat..

Kemudian kupeluk tubuh Mas Andy dari belakang sehingga kedua buah dadaku
menyentuh punggungnya.. Dan kedua tanganku pun melingkar di dadanya..
Kutempelkan perutku dan pinggulku ke tubuh bagian belakang Mas Andy..

“Aahh.. Nggkk.. ” terdengar desisan Mas Andy..

Dalam posisi demikian.. Pinggulku pun kugerak-gerakan maju mundur
mengikuti gerakan Mas Andy.. Aahh.. nikmatnya, kuciumi tengkuk Mas Andy
dari belakang.. Aku benar-benar lost kontrol.. Rupanya Mas Andy tahu..
kegelisahanku.. Iapun mengulurkan tangan kanannya kebelakang dan langsung
meraba kemaluanku.. Kurenggangkan pahaku agar tangan Mas Andy leluasa
meraba-raba kemaluanku.. Aaahh.. Ohh.. Aku merintih.. Nikmat ketika
jari-jari Mas Andy menyodok-nyodok liang kemaluanku.. Akupun segera
mendekap semakin erat tubuh Mas Andy dari belakang dengan tetap mengikuti
irama pergerakan pinggulnya.

“Kamu mau Nia..” bisik Mas Andy.
“Ooh.. Iya.. Mas.. Iya” sahutku.
“Naik deh ke atas ranjang” serunya lagi.

Akupun segera naik ke atas ranjang, dan menungging ditepian ranjang
disamping Joni.. menanti dengan pasrah.. Lalu

“Mau dimasukin kemana Nia..?” tanya Mas Andy.
“Terserah mass” sahutku pelan.

Ternyata Mas Andy memilih kemaluanku..

“Aah.. Oohh.. Aaghhkk” rintihku ketika terasa batang kemaluan Mas Andy
yang masih berlumuran cream masuk ke dalam liang vaginaku.. Aku
benar-benar merasakan nikmat.. Lalu Joni yang masih menungging disampingku
menoleh padaku.. Akupun menoleh padanya lalu ia menjulurkan lidahnya..
Akupun segera menjilati lidah Joni dengan lidahku, akhirnya bibir kami
bertautan.. Oohh.. Nikmatnya..

Setelah agak lama.. Akhirnya kami ganti posisi.. Joni terlentang diatas
ranjang dan aku naik ke atas tubuhnya.. Perlahan-lahan aku memasukan
batang kemaluan Joni ke dalam liang vaginaku.. Oohh.. Aaahh.. Nikmatnya..
Setelah itu aku menekuk kedua lututku kedepan sehingga dari belakang Mas
Andy bebas memasukan batang kemaluannya ke dalam lobang pantatku..

Nggkk.. Aaahh.. Terasa seret.. Tapi peralahan-lahan.. Amblas juga seluruh
batang kemaluan Mas Andy ke dalam lobang pantatku.. Gillaa.. Gilaa..
Nikmat.. Sekali.. Ohh.. Susah aku menuliskan apa yang aku rasakan tetapi..
Sungguh sensasi sekali.. Apalagi Joni.. Dia tidak tinggal diam.. Dengan
rakusnya Joni mengisap-isap kedua puting payudaraku bergantian.. Oohh..
Sungguh.. Saat itu aku tidak mau permainan kami berakhir.. Dan walaupun
aku sudah dua kali klimaks tetapi.. Aku tidak mau.. Permainan ini
berakhir..

Akupun segera mengambil inisiatif. Aku minta agar posisi diubah.. Mas Andy
terlentang diatas ranjang.. Sementara aku terlentang diatas tubuh Mas
Andy, dan tetap batang kemaluan Mas Andy didalam anusku.. Dan Joni..
Telungkup diatas tubuhku dengan batang kemaluannya tertancap didalam
vaginaku.. Oohh.. Nikmaatt..

Setiap gerakan yang mereka lakukan membuat tubuhku mengejang-ngejang
menahan nikmat, apalagi tangan Mas Andy tak henti-hentinya meremas-remas
payudaraku.. Ooh.. Aahh.. Ruaarr biassaa..

Lalu aku menekuk kedua lututku ke atas dan kedua kakiku segera merangkul
pinggang Joni.. Nikmat sekali.. Apalagi Joni juga aktif menciumi bibirku,
leherku dan seluruh wajahku dijilatinya, aku hanya bisa memejamkan
mataku.. Menikmati kenikmatan yang tiada taranya ini, perlahan tapi
pasti.. Joni mulai mempercepat gerakkannya, sementara pinggul Mas Andypun
tidak mau diam, dia menghentak-hentakkan pinggulnya ke atas sehingga
batang kemaluannya keluar masuk lobang pantatku. Ooohh.. Enak sekali,
hingga akhirnya.

“Aaggkk.. Aku.. Mau keluar.. Aku mau keluar” erang Joni.
“Saya juga.. Oohh.. Aaakk..” erang Mas Andy juga.

Gilaa.. Aku tidak mau.. Tidak mau permainan ini berakhir, aku pun menjadi
egois sekali..

“Jangan.. Jangan dulu Mas.. Nanti aja.. Ohh” seruku dengan nafas memburu.
“Kenapa.. Nia.. Nggkk.. Kamu belum puas..?” bisik Mas Andy.
“Jangan dulu.. Mas.. Biar kuminum sperma kalian..” seruku.

Gilaa.. Akupun tidak sadar mengucapkan kata-kata itu.. Tapi jujur.. Aku
kepingin sekali.. Karena belum 100% puas jika belum menelan sperma mereka.

Lalu akupun duduk ditepi ranjang sementara mereka berdua berdiri dengan
masing-masing batang kemaluan mengarah ke bibirku.. Kukocok-kocok batang
kemaluan mereka dengan kedua tanganku.. Sementara lidahku menjilati
kesana-kemari.. Kuisap dan kukulum kedua batang kemaluan itu secara
bergantian dan..

“Aaaggkk.. Nggkk.. Aarrgghhkk..” tiba-tiba terdengar suara erangan Mas
Andy.

Aku segera membuka mulutku dan.. Crott.. Croott.. Keluarlah sperma Mas
Andy yang segera masuk ke dalam mulutku.. Nikmatt.. Sekali.. Dan
kujulurkan lidahku menjilati lobang kencing Mas Andy.. Aku tidak mau
kehilangan setetespun sperma Mas Andy itu.

Beberapa detik kemudian Joni.. Dia mengerang panjang juga.. Walau mulutku
masih penuh sperma Mas Andy.. Akupun siap menerima muncratan sperma Joni..
Kumasukan kepala batang kemaluan Joni itu ke dalam mulutku, dan.. Crot..
Crot tersemburlah sperma Joni didalam mulutku.. Ohh.. Banyak.. Sekali..
Sampai beberapa kali aku harus menelannya..

Akhirnya kami bertigapun rebah diatas ranjang.. Peluh membasahi tubuh
kami..

“Nia.. Nia.. Tidak disangka.. Kamu luar biasa..” seru Mas Andy.
“Benar.. Kamu hebat Nia” tambah Joni, dan aku hanya tersenyum saja.
“Kalian juga aneh.. Tapi hebat” seruku.
“Tapi ada satu permintaanku Mas..” tambahku.
“Apa tuh Nia..” tanya Mas Andy.
“Aku mau kita komitment.. Hanya sebatas ini saja.. Oke?” seruku.
“Iya dong Nia.. Aku kan punya isteri.. Dan kamu juga.. Ada tunangan kamu”
sahut Mas Andy.

Akupun tersenyum puas.. Dan tanpa sadar aku melirik ke jam didinding..
Gilaa.. Sudah jam 2 pagi. Dan benar.. Mas Andy benar-benar memegang
komitmentnya, setelah kejadian itu dia tetap sopan kepadaku, dan tidak
sekalipun dia menyinggung-nyinggung kejadian itu, dan aku.. Akupun
demikian.. Nothing happened beetwen us..

E N D
Comments (0)



Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

et cetera
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: